
Platinum, masuk kedalam rumah besar milik keluarga Daris Pratama bersama ratusan anak buahnya. Sebagian tetap berada di luar mengepung rumah itu.
"Tangkap semua orang yang ada di dalam rumah ini, bunuh siapapun yang melawan." perintah Platinum.
"Menyerah lah... . Atau kalian akan mati." Teriak Platinum berjalan paling depan, sambil memegang Shotgun di tangan kanannya. Naira yang sedang bersembunyi bersama ipar dan rekannya, terkejut mendengar teriakan itu.
"Apa yang harus kita lakukan? tidak mungkin kita menyerahkan?." tanya Karin. Ibunya Zalia, anak Daris Pratama, istrinya Reno.
Di dalam ruangan itu ada sepuluh wanita yang sedang menggenggam senjata. Selain Sherina, istrinya Lazio . Mereka anak dan menantu dari Daris Pratama, dan Genro Aleksander yang telah mati.
"Tidak, kita tidak boleh menyerah. Kalau kita menyerah, mereka akan menjadikan kita sebagai
tawanan." kata Sherina.
"Baiklah kalau begitu, apapun yang terjadi nanti, kita akan melawan." Kata Dini. Dia ibunya Gara, istri dari Robet Aleksander.
Sedangkan Naira, hanya mengangguk
menatap Dini. Sebenarnya, dia sangat takut dalam hatinya. ' Oh anakku, di mana kalian?. Mengapa sulit sekali menghubungimu, sekarang ibu dalam ketakutan nak. ' gumamnya kesal bercampur cemas.
"Sekali lagi aku katakan,
Menyerah lah ... ." Teriak Platinum dengan keras, suaranya menggema seisi rumah. Dia berhenti di tengah ruangan yang cukup lebar.
"Aku beri waktu satu menit untuk menyerah padaku, lebih dari itu aku akan mulai menembak." ancam Platinum.
Setelah menunggu dengan waktu yang yang sudah ditentukannya, namun tidak ada satupun yang menyerah. Dia mulai mengangkat senjatanya dan menembak ke segala penjuru rumah.
"Dor."
"Dor."
"Dor."
"Dor."
Dan di ikuti oleh semua anak buahnya.
"Periksa semua ruangan dalam rumah ini, jangan sampai ada yang terlewatkan.
Suara shotgun, Rifle dan pistol, menggema di dalam rumah. Mereka menyebar memasuki ruangan dan lorong dalam rumah itu, menembak setiap orang yang mereka jumpai. Satu persatu para Art di rumah itu mati tertembak saat tempat persembunyiannya telah di temukan.
__ADS_1
"Tuan kami telah menyisir seluruh rumah ini, hanya kamar di ujung lorong itu saja yang masih tertinggal." kata Tirex.
Platinum menatap Tirex, Gentu dan Leony. "Apa kalian menemukan orang?
" Ada Tuan, mereka sudah mati terbunuh. Tapi sepertinya mereka hanyalah Art." balas Tirex.
Kemudian dia tersenyum menatap kamar di ujung lorong, lalu berkata ; "Wilyam. Berikan padaku bom asap itu"
Menunjuk benda dalam genggamannya.
"Ini Tuan." Segera Wilyam memberikan bom asap pemedih mata yang ada dalam genggamannya pada Platinum. Kemudian dia berjalan kearah kamar di ujung lorong, di ikuti anak buahnya.
Sekarang hanya tinggal sepuluh wanita itu saja yang masih hidup, yang sedang bersembunyi dalam satu ruangan kamar. Tubuh mereka menggigil, saat mendengar langkah kaki mendekat kearah depan pintu.
"Hehehe... keluarlah, aku tau kalian di dalam." teriak Platinum.
Sementara dalam ruangan kamar tangan Naira gemetar sambil memegang rifle . Dia ketakutan seraya berdoa. ' Tuhan selamatkan kami.' Begitu juga dengan wanita lainnya, mereka sama gemetar seperti Naira.
"Duar"
Pintu terbuka akibat tendangan yang keras, sebuah benda telah di lemparkan kedalam. Dalam sekejap asap telah menyelimuti ruangan.
Naira terbatuk-batuk, kedua tangannya menutupi matanya yang pedih melepaskan rifle yang tadinya digenggam. Mereka semua berlari keluar sambil menutupi matanya yang pedih membiarkan rifle yang masih tergantung pada bahunya.
"Tangkap mereka." teriak Platinum.
Segera anak buahnya yang di komandoi ,Tirex, Gentu, dan Leony .
Menangkap Naira dan yang lainnya.
Sementara wanita-wanita itu tidak bisa melakukan perlawanan, kedua tangannya hanya digunakan untuk menutupi matanya yang sangat pedih.
"Lepaskan aku."
"Lepaskan aku."
Teriak wanita-wanita itu.
"Hahaha. Tidak ku sangka mendapatkan harta karun di rumah ini, berupa wanita-wanita yang cantik."
teriak Platinum girang. "Bawa mereka ke depan." lanjutnya.
__ADS_1
Anak buah Platinum menggiring Naira dan yang lain menuju ruang tamu di depan, rifle yang tergantung di bahu mereka telah di lucuti.Para laki-laki itu ikut senang mendapatkan wanita-wanita yang cantik.
Platinum mengelus dagunya menatap kecantikan Naira. Sambil tersenyum jahat, dia terkekeh dan berkata." Letakkan wanita itu di atas meja."
Naira yang sudah mulai dapat melihat, meronta-ronta ketakutan.Tapi apalah dayanya, kedua kaki dan tangannya di pegang erat oleh empat lelaki. Dia mulai menyadari apa yang akan terjadi padanya. Sambil menangis ketakutan dia memohon untuk di lepaskan.
"Lepaskan aku, aku mohon. Tolong lepaskan aku." teriak Naira.
"Hahaha... ." Platinum tertawa senang melihat Naira yang meronta-ronta.
"Pegang erat kaki dan tangannya. Nanti kalian akan mendapat bagian." Kata Platinum yang wajahnya mulai terlihat buas.
"Tidaaak... . Tolong, tolong lepaskan aku. Aku mohon. Jangan lakukan.
Kasihanilah aku." Teriak Naira histeris. Dia benar-benar sangat ketakutan.
Sherina dan yang lainnya hanya mampu menangis tanpa bisa menolong Naira, mereka juga sedang di pegang erat oleh anak buah Platinum.
Sedangkan Gentu dan Leony, mulai agak kesal melihat adegan di depan matanya. Mereka ingin pergi dari situ, tapi entah mengapa hatinya merasa iba.
"Tuan...lebih baik bunuh saja dia." Kata Gentu datar. Dia tidak sampai hati melihat Naira akan di gilir. Dia pikir, dengan membunuh maka akan lebih baik untuknya.
"Apa katamu?." Platinum menatap Gentu tidak suka. "Sejak kapan kau berani memerintah ku." Kemudian matanya melirik kearah lain. "Tirex."
Seakan mengerti dengan maksud Platinum. Tirex berjalan mendekat Gentu, menarik lengannya untuk menjauh.
"Tidak. Jangan pergi. Tolong aku. Tolonglah aku. Hik hik hik." Teriak Naira sambil menangis terisak memohon pada Gentu, dia merasa gadis itu simpati padanya. Sedangkan empat lelaki yang memegangi tangan dan kakinya, terlihat semakin bernafsu menatapnya. Mereka tersenyum menyeringai untuk cepat mendapatkan gilirannya.
Ditengah putus asa dan hilangnya harapan, Naira kembali teringat pada anaknya. Dengan sekuat tenaganya, dia berteriak memanggil namanya.
"Libraaaaaa... ."
# # #
"DugDugDugDugDug.'
Di air terjun. Libra tertegun menatap langit, ketika tiba-tiba jantungnya berdetak sangat kencang hingga menimbulkan perasaan tidak enak di hatinya. Ada apa ini... apakah ada sesuatu yang sedang terjadi ?. Gumamnya pelan.
"Hai... ." Kau kenapa?." Teriak Karasuka yang melihat wajah Libra berubah tegang, menatap langit. Saat itu juga semua orang menatapnya.
"Entahlah... . Perasaanku berdebar, sepertinya ada sesuatu yang sedang terjadi." Libra masih menatap langit, saat mengatakannya. Semua orang tertegun menatapnya. kemudian dia menggerakkan tubuhnya beranjak naik keatas, di ikuti Karasuka dan yang lainnya.
__ADS_1
Setelah sampai di atas dia melihat Hpnya, dan begitu terkejutnya dia ketika melihat banyaknya panggilan tak terjawab. Jantungnya kembali berdetak cepat, begitu melihat pesan dari ibunya.