
"Anisa, ini aku Argi. Apa kau sudah bangun?"
Argi berdiri di depan pintu kamarnya yang sekarang di tempati Anisa untuk sementara. Baru saja dia mengetuk pintu tidak lama setelah itu Anisa membuka pintu dengan senyuman mengembang, memang sedari tadi dia sudah menunggu Argi di dalam kamar.
"Hai, selamat pagi" ucap Anisa seraya tersenyum menawan menyambut Argi di depan pintu. "Apa kau datang untuk mengantarku pulang?" katanya lagi. Dia memang berharap Argi mau mengantarnya, mencoba untuk lebih dekat dan mengenali pemuda tampan di hadapannya itu.
"Yah, tentu saja" balas Argi seraya menatap terkesima kecantikan gadis jelita di hadapannya. "Apa kau sudah siap? Aku akan mengantarmu sekarang"
"Terimakasih, kau sudah baik sekali padaku" cicit Anisa memuji. "Emm... sebentar ya? Aku ambil dulu pakaian kotorku"
Anisa berbalik kedalam kamar meraih pakaian yang sudah kotor dengan noda darah. Kemudian kembali melangkah keluar menutup pintu kamar itu. "Terimakasih, kau membiarkanku beristirahat di kamarmu tadi malam" ucap Anisa dengan wajah berseri seraya menyerahkan Card lock pintu pada Argi.
"Tidak masalah" balas Argi dengan wajah tak kalah berseri seperti Anisa seraya mengayunkan tangan menerima Card lock darinya.
__ADS_1
"Ayo jalan" Argi mulai melangkahkan kakinya di ikuti Anisa yang berjalan di sisi kiri sambil menatap kearahnya. Selama dalam perjalanan mengantar Anisa kerumahnya, dua muda mudi itu mulai terlihat akrab. Sepertinya dua anak muda ini sengaja menjalin hubungan untuk lebih dekat dan menjadikan kedekatan ini sebagai momen bersejarah untuk kedepannya.
Setelah menempuh jarak yang agak jauh dari hotel H2O, akhirnya Argi sampai di halaman rumah megah milik orang tua Anisa. Aslan dan Juwita sudah ada di depan pintu untuk menyambut mereka dengan perasaan senang, sebelumnya Anisa sudah menghubungi Ibunya saat dalam perjalanan.
"Ibu" teriak Anisa begitu keluar dari dalam mobil. Dia sedikit berlari kearah Juwita, lalu memeluk ibunya itu. "Bu, Ayah. Gasio berniat jahat"
"Ibu dan Ayah sudah tau. Bagaimana denganmu, apa kau baik-baik saja?"
"Baik, Bu. Dia yang menyelamatkan ku" ucap Anisa mengalihkan pandangan dari Juwita kepada Argi di ikuti Juwita dan Aslan. Sedangkan Argi jadi gugup di tatap mereka bertiga.
"Benar Nyonya. Saya Argi kakaknya Salsa" Argi yang biasanya begitu Acuh pada orang lain tidak pernah mau menanggapi siapapun jika dia rasa tak perlu, sekarang malah tampak ramah di hadapan Juwita dan Aslan.
"Ayo Nak masuk dulu kedalam rumah, tidak baik terus berdiri di situ" ucap Juwita sangat ramah. "Oya jangan panggil saya nyonya, panggil saja saya bibi. Ayo masuk, bibi akan menyiapkan makanan untukmu"
__ADS_1
"Anak muda. Ayo masuk" ucap Aslan tersenyum seraya mengayunkan dagunya seakan tidak menginginkan bantahan. Dia tau Argi sungkan pada mereka. Argi terpaksa memenuhi keinginan dua orang tua Anisa, dia melangkahkan kaki mengikuti Aslan Anisa dan Juwita yang sudah berjalan duluan masuk kedalam rumah.
Sejak hari itu Anak muda itu mulai akrab dengan Anisa dan keluarganya. Walau begitu dia tidak berani datang kerumah Anisa mengingat dia telah terang-terangan menolak pemberian dari Aslan dan Juwita. Mereka memberikan hotel H2O padanya sebagai tanda terimakasih atas pertolongannya pada Anisa. Tentu saja dia menolak, dia ikhlas melakukannya. Lagipula dia tidak kekurangan uang dan harta.
* * *
Dan sekarang, di sinilah anak muda itu berada. Mengendap-endap di pepohonan seakan takut ketauan seraya matanya menatap lurus bangunan mewah di depannya. "Kira-kira di mana posisi Anisa sekarang ya?" gumam Argi sambil tetap menatap ke depan. "Apa aku curi-curi masuk kerumahnya saja ya?" pikir Argi seraya menimbang-nimbang apa yang akan di lakukan nya itu benar atau salah. Dengan kemampuan yang di miliki, dia memang bisa muncul di merata tempat dalam rumah mewah itu.
Argi masih berdiri di balik pohon sambil terus menelisik seluruh penjuru rumah itu tanpa berniat untuk masuk kedalam. Sampai matanya menangkap sesuatu yang membuatnya merasa penasaran. Kenapa ada banyak mobil di depan rumah Anisa? Argi semakin menajamkan tatapan pandangan matanya. Kemudian dia tersentak ketika mendapati ada banyak orang berpakaian hitam yang terlihat mencurigakan di sekeliling rumah itu. "Gawat, sepertinya sedang terjadi sesuatu di rumah ini." Instingnya yang kuat memaksanya kembali menggunakan kekuatannya untuk menghilang kedalam tanah dan muncul lagi di dalam rumah Anisa.
"Lepaskan. Lepaskan aku" teriak Anisa di bahu seseorang dengan tubuh yang sudah terikat.
"Sial. Pasti orang-orang ini gerombolan kartel narkotik anak buah Diamond dari Perancis"
__ADS_1
Bersambung.