Remaja Tangan Besi

Remaja Tangan Besi
Di culik


__ADS_3

"Biarkan aku pergi, gadis ini akan selamat bersamaku." ucap Tirex, keluar dari ruangan mendekat ke dinding. "Dengar... jika kalian berani macam-macam, maka kepala gadis ini akan terpisah dari tubuhnya." ancam nya.


Rolex mulai geram, tapi Argi menggelengkan kepala ke arahnya seraya berkata: "Tunggu dulu, jangan gegabah melakukan tindakan."


"Tapi Tuan. Orang ini akan lari." balas Rolex.


Argi mengalihkan pandangan nya, dia menatap tajam kearah Rolex. "Apa kau tidak percaya padaku?."


"Maaf Tuan, bukan seperti itu maksudku." balas Rolex menunduk.


'Sejak kapan tuan muda ambil berat terhadap seorang gadis, apalagi gadis yang belum di kenalnya.' batinnya.


"Duar."


Tirex meninju dinding di sebelah nya hingga hancur, hingga membentuk lubang yang cukup besar. Kemudian dia melompat sambil membawa Anisa, untuk melarikan diri.


"Tuan, dia kabur." ucap Rolex.


"Tetaplah di sini." balas Argi. Sebelum tubuhnya melesap kebawah, lalu menghilang.


Saat itu Leo datang bersama teman dan sepupunya, sebelumnya dia telah mendengar keributan yang terjadi di bawah melalui office boy yang bekerja di hotel itu.


"Apa yang terjadi di sini, Tuan." Leo bertanya pada Rolex. Namun manajer Mardi lebih dulu menjawab.


"Ada kekacauan yang sudah terjadi di ruangan ini, Tuan Muda. Mulanya tuan Gasio memaksa saya untuk memindahkan maupun membatalkan saja kamar hotel yang sudah tuan muda Argi sewa, tapi nona Anisa menolak mentah-mentah keinginan tuan Gasio hingga terjadi perselisihan di antara mereka. Sekarang teman tuan Gasio telah menawan nona Anisa, dan membawanya pergi."


"Siapa Gasio?." tanya Leo.


"Dia adalah orang yang memiliki saham di perusahaan Gemini, Tuan muda." kata Mardi seraya menatap Leo lalu mengalihkan pandangannya kearah Gasio.


Gasio yang namanya telah disebut dan sekarang sedang di tatap oleh Mardi, langsung ciut ketakutan. Apalagi sekarang Tirex sudah pergi meninggalkannya, dia berdiri terpaku gemetaran di sudut ruangan.


Leo menoleh mengikuti arah pandang Mardi yang tertuju pada Gasio, kemudian matanya menelisik seluruh ruangan. Dia pikir Argi pasti ada di situ sebab Rolex juga ada di situ.


'Di mana dia, kenapa aku tidak melihat nya?.' batin Leo.

__ADS_1


"Apa kau mencari tuan Argi?." tanya Rolex yang sepertinya sudah tau arah pikiran Leo.


"Benar, di mana dia?." balas Leo.


"Tuan muda Argi sedang berusaha untuk menyelamatkan gadis itu. Seorang daripada mereka adalah orang yang pernah bertarung dengan kami, saat penyerangan keluarga Pratama satu tahun yang lalu. Sekarang orang itu telah membawa nona Anisa bersamanya."


"Satu tahun yang lalu...


Keluarga Pratama... ." gumam Leo pelan.


"Kr__r__rg." Mendadak wajah Rubi di sebelah Leo berubah pias, dia teringat kembali pembantaian dalam keluarganya satu tahun yang lalu. Jarinya mengepal karena marah.


"Satu tahun yang lalu. Mereka juga membunuh keluargaku." ucap Gara.


"Benar... . Keluarga ku juga." sambung Roger.


Leo melangkah kan kakinya kedalam ruangan manajer, matanya sangat tajam menatap Gasio.


"Apa hubunganmu, dengan orang itu." kata Leo.


"Aku... . Aku tidak punya hubungan dengan orang itu. Hehehe... ." balas Gasio, mencoba untuk terlihat tenang.


Lihat. Orang-orang ini, anak buah mereka." Seru Mardi sambil menunjuk orang yang di maksud.


"Hahaha... itu benar, memang kenapa?." Ucap Gasio. Gasio merasa tidak bisa lagi menyembunyikan, kebohongannya.


"Bugh."


Leo meninju tepat di wajah Gasio, Gasio pun tersungkur ke lantai.


"Kemana dia pergi, membawa gadis itu." ucap Leo mendekat.


"Aku tidak tau."


"Bohong!."

__ADS_1


"Bugh."


"Bugh."


"Bugh."


Leo meninju wajah Gasio berkali-kali, menyebabkan wajah itu lebam dan bengkak. Terlihat cairan merah mulai mengalir dari sudut bibir dan hidungnya.


"Ahk, hentikan. Aku benar-benar tidak tau kemana dia pergi." Gasio mulai lemas, wajahnya babak belur di hajar Leo.


Pada saat yang sama, beberapa orang masuk kedalam ruangan itu.


"Tuan Aslan.


Nyonya."


Mardi langsung menyapa, kedua orang itu. Dia terlihat begitu hormat pada keduanya.


"Apa yang terjadi... . Di mana Anisa?."


Aslan bertanya pada Mardi, tapi matanya terus menatap Leo.


"Maaf Tuan... .Nona Anisa sudah di culik, oleh teman tuan Gasio." balas Mardi.


"Apa?. Di culik?." Juwita tersentak kaget.


Sedangkan Aslan sendiri, dia terlihat sangat marah mendekati Gasio.


"Bajingan kau... . Setelah aku, sekarang anakku. Kemana temanmu membawa Anisa, hah!?. teriak Aslan.


"Bugh."


"Bugh."


Saking marah dan kesalnya, dia meninju wajah Gasio yang sudah babak belur.

__ADS_1


"Anak muda, bisakah kau menolongku sekali lagi?. Selamatkan lah putriku, aku akan memberikan apapun keinginan mu." ucap Juwita memelas kepada Leo.


Bersambung


__ADS_2