
Brak..
Suara gebrakan meja menggema disebuah ruangan.
Duk duk duk
Ceklek
"den Aden kenapa?" tanya mbok ijah asisten rumah tangga rumah di mansion seorang wijaya.
Huft..
"gak papa, keluar mbok jangan ganggu saya"
"ba baik" mbok ijah berlari keluar ruangan dari anak majikannya.
Sebuah mansion yang luas dan megah ini dimiliki oleh seorang angga ananta wijaya ceo perusahaan properti terbesar di kota ini.
Angga ananta wijaya atau sering di panggil natan anak pertama dari keluarga wijaya yang sudah berkuasa di perusahaan properti di seluruh kota bahkan menduduki nomer 2 se negara.
Natan hanya tinggal berdua dengan asisten rumah tangganya yang sudah mengurusnya sejak masih kecil. Mbok ijah sudah dia anggap seperti ibu sendiri karena mamanya karina ameila wijaya yang sudah tidak pernah mengurusi dan lebih asyik dengan kehidupan glamor dan liburnya bersama para lelaki muda. Sedangkan papanya sudah menikah lagi dengan wanita muda dan tinggal di luar negeri.
Karena dia anak pertama dan satu satunya di keluarga wijaya, dia yang mengambil seluruh tanggung jawab perusahaan itu.
Namanya sering muncul di semua media karena usianya yang masih muda sudah suskses menjalankan usahanya dan tampangnya yang ganteng membuat semua wanita bertekuk lutut di hadapannya.
__ADS_1
"hallo siapin mobil saya mau ke vila sekarang" telfon dia ke asisten sekaligus sekretaris pribadinya surya saputra
"siap tuan" jawabnya di sebrang
Surya saputra atau yang sering di sapa putra asisten, sekretaris dan sahabat seorang natan. dia merupakan teman satu fakultas natan waktu Masih kuliah.
Tok tok tok
"tuan mobil sudah siap" panggil putra di luar kamar natan
Putra memahami kalau natan memiliki tempramen yang buruk di luar dan cenderung dingin terhadap orang yang baru di kenalnya tapi sebenarnya dia hanya membangun dinding pembatas antara dirinya yang sesungguhnya dan orang lain
"apaan si panggil natan aja, gua lagi banyak fikiran mau ikut ga lu?"
"elah formalitas dikit napa waktu tugas" jawab putra sambil tersenyum
Mereka hendak menuju ke bawah saat berpapasan dengan mbok ijah
"eh den putra ada di sini ?" sapanya ke putra
"putra aja mbok gausah pakek den, iya ini mau nganterin natan biasa" jawabannya sambil tersenyum ke arah mbok ijah
Putra memang lebih hangat terhadap orang lain tidak seperti natan yang kelihatan acuh ta acuh
"mbok nanti saya tidak pulang tidak usah di tungguin"
__ADS_1
"baik den"
Tanpa basa basi lagi mereka langsung menuju ke puncah dimana vila natan berada.
Suasana yang hening menjadi kesukaan natan memang setelah lelah dengan hari hari atau aktivitasnya dia sering bakal nginep di vila ini. Memang tidak ada yang spesial dengan tempat ini hanya karena dulu mamanya suka di sini jadi dia terbiasa di sini.
Tidak seperti mansionnya yang mewah dan besar vila ini hanya sebuah bangunan sederhana di atas bukit, dimelilingi oleh kebun bunga yang lumayan luas. Karena itu natan lebih betah di vila.
"den natan mau saya siapkan apa?" tanya mang ujang penjaga vila tersebut.
Biasanya vila hanya dibersihkan oleh orang panggilan mang ujang karena juga jarang di tempati.
"gausah mang, makasih saya cuma mau istirahat saja" jawab natan ramah
"oh iya sudah deh saya permisi kali gitu, mari den mas putra"
"Iya mang " jawab putra
Sedangkan natan hanya mengangguk.
"lu mau pulang apa nginep?" tanya natan ke putra
"gua pulang aja, ada urusan besok pagi gua jemput"
"iya"
__ADS_1
Setelah mendengar jawaban natan putra segera meninggalkan vila tersebut.
Sedangkan natan segera masuk ke kamarnya istirahat.