Restu

Restu
BAB 40


__ADS_3

BAB 40


Lengkingan suara Baskoro menggema di setiap sudut pendopo, “tidak akan aku izinkan kamu menikahi gadis itu, dia bahkan tak memiliki darah bangsawan sama sekali.”


“Tapi aku mencintai Roro mas,” Arya mulai bersimpuh di hadapan Baskoro.


“Tahu apa kamu soal cinta, *sing penting lanang ketemu wadon isok tetep nikah, ora perlu cinta.” 


#*yang penting laki laki bertemu dengan wanita bisa tetap menikah, tidak perlu cinta.


Perkataan Baskoro memang logis dan benar adanya, tapi harus ada rasa rela dan senang jika sepasang manusia mengikat janji pernikahan, barulah keduanya bisa menerima dan akhirnya timbul rasa cinta.


“Jika menurut mas, hanya perlu laki laki dan wanita, maka Status tidak akan jadi masalah kan? aku bisa tetap menikahi Roro.” Arya mencoba mempertahankan sang gadis pemilik hatinya.


“Mau jadi bocah durhaka? sejak jaman dahulu kala, tidak ada satupun keturunan Narendra yang menikahi rakyat jelata, dan sekarang, berani beraninya kamu melanggar aturan Romo kita, aturan leluhur kita.” balas Cokro tak mau kalah. “Lagi pula apa kamu sudah yakin bahwa gadis ini adalah gadis baik baik? siapa tahu di belakangmu ia memiliki sifat dan kebiasaan yang bisa mempermalukan keluarga kita, bahkan anak anak anak yang akan dia lahirkan nanti selamanya tidak akan memiliki darah biru.”

__ADS_1


Roro sungguh sakit hati mendengar penolakan cokro, air matanya mengalir deras, seketika dendam dan sakit hati mendominasi, ia pergi begitu aja dari pendopo, tak ingin lagi menoleh, bukan ia tak cinta, tapi sudah sangat yakin bahwa sampai kapanpun hubungannya dengan Arya tidak akan pernah direstui, salahkah jika ia bukan gadis keturunan bangsawan, apa hanya gadis bangsawan saja yang berhak menikahi lelaki bangsawan, tidakkah ini aturan yang sungguh menghina rakyat biasa seperti dirinya.


“Roro …” teriak Arya yang masih berusaha mensejajarkan langkah kakinya, ia pun sungguh takut kehilangan Roro, tapi Arya pun tak cukup bernyali untuk melawan titah kakak nya.


Roro berhenti, karena Arya berhasil menangkap pergelangan tangan nya, wajah dan kedua kelopak mata Roro memerah karena tangisan, ia menatap Arya dengan rasa cinta yang penuh dengan keputusasaan, “sampai kapanpun kita tidak akan bisa bersama mas, kang mas Baskoro terlalu sulit untuk kita sentuh hatinya, mungkin sebaiknya aku memang tidak pernah hadir dalam hidupmu, lupakan saja aku, dan menikahlah dengan gadis pilihannya,”


Arya pun hanya mampu menangis, ia sendiri belum cukup bernyali untuk melawan kearoganan Baskoro sang kakak, mungkin benar tak seharusnya ia memaksa Roro untuk bertahan di sisinya, dan kini gadis yang ia cintai justru harus sakit hati karena ucapan Baskoro.


“Selamat tinggal mas, takdir bahagiamu bukan bersamaku, dan bahagiaku juga bukan berada disisimu,” 


Flashback end


.


.

__ADS_1


Tubuh bu Roro masih gemetar, lelehan air mata tiba tiba meluncur begitu saja, bagaimana kisah cintanya yang dahulu baru mulai terajut, tiba tiba harus kandas begitu saja, berganti dengan kesedihan yang menyisakan ingatan menyakitkan.


Sherin yang merasakan perubahan sikap bu Roro pun berhenti, ia menatap wajah sayu bu Roro yang kini mengeluarkan keringat dingin, diiringi tetes air mata. 


“Ibu gak papa? apa ibu sakit?” tanya Sherin khawatir, melihat perubahan raut sang ibu, membuat Sherin sama sekali tak memikirkan acara lamaran yang sedang berlangsung saat ini.


Dengan sigap Yulia mengambil tissue untuk mengeringkan keringat dari wajah bu Roro, “Ibu masih kuat untuk duduk di sini? kalau tidak kuat, ibu berbaring saja,” saran Yulia yang melihat wajah bu Roro semakin pucat.


Tapi sejenak kemudian bu Roro terdiam, kedua matanya terpejam sesaat, rasa sakit yang dahulu menguasai hatinya kini mulai berperang, haruskah kini ia yang bersikap egois, dengan menolak lamaran Keluarga Bima, seperti bagaimana ia dahulu di tolak oleh pria yang kini duduk di sisi Bima dan Alex, padahal ini adalah hari bahagia yang diimpikan anak perempuan satu satunya, dan rupanya Tuhan memang mentakdirkan keluarga nya memiliki ikatan dengan keluarga Narendra, bukan Roro muda, melainkan Sherin, putri dari Roro yang dahulu ditolak mentah mentah oleh Baskoro menjadi menantu keluarga Narendra, posisi yang dahulu diinginkan oleh Roro, kini digantikan oleh putri tunggalnya yakni menjadi cucu menantu di keluarga Narendra. begitulah suratan takdir, walau terdengar kejam, tapi begitulah takdir tuhan bekerja.


Biarlah kepahitan masa lalunya terkubur, kini kebahagiaan tengah menyongsong masa depan Sherin bersama Bima, lelaki yang bu Roro kenal sebagai lelaki baik dan bertanggung jawab.


kemudian bu Roro kembali tersenyum, dan menggeleng, “Ibu tidak papa, ayo kasihan kekasihmu yang sudah tak sabar menunggu,” bisik bu Roro menggoda Sherin.


Seketika wajah Sherin merona, senyum malu malu tersungging di bibirnya, tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan Sorot mata Bima yang tengah memperhatikannya, pria itu pun nampak tersenyum lembut kala menatap matanya.

__ADS_1


__ADS_2