
BAB 41
“Perkenalkan, saya Alexander Geraldy, hadirnya saya disini karena saya diberi kehormatan untuk mewakili keluarga Tuan Baskoro Narendra, untuk menyampaikan niat baik kami mempersunting Sherin Ayunda untuk anak kami Bima Narendra,” Alex berhenti sesaat menjeda kalimatnya.
“Benar begitu Bima?”
“Benar sekali Tuan.” jawab Bima dengan yakin.
“Banar yang itu gadisnya?” tany Alex sekali lagi.
Bima mendongak menatap deretan keluarga Sherin yang kini tengah menatapnya menunggu jawaban.
Bima mengangguk, dengan wajah samar samar bersemu merah.
“Kenapa hanya mengangguk, yang dilamar itu kamu atau Sherin?”
Perkataan Alex mengundang tawa kecil dari orang orang yang ada di ruangan tersebut.
Termasuk Andre yang bahkan sudah sejak tadi menahan tawa bahagianya melihat Bima yang sudah hampir pingsan di tempatnya saat ini.
“Jawab yang tegas, jangan membuat kami semua malu.” pancing Andre yang berbisik langsung ke telinga Bima.
__ADS_1
“Maaf … Iya tuan.”
Bima semakin menunduk malu, membuat Alex semakin gemas. “Sudah sangat lama saya mengenal anak muda ini, bisa dikatakan dia sudah seperti anak bagi saya dan istri saya,” ungkap Alex penuh bangga, karena sekali lagi salah satu anaknya menemukan teman hidupnya.
Pihak keluarga Sherin yang diwakili langsung oleh Bagas sebagai saudara tertua mulai angkat bicara.
“Perkenalkan saya Bagas, saya mewakili keluarga kami, karena ayah sudah meninggal 5 tahun silam, merupakan suatu kehormatan bagi kami menerima kehadiran keluarga Narendra, dan untuk jawabannya, saya serahkan langsung pada yang bersangkutan, gimana? mau diterima atau tidak lamaran Bima?” tanya Bagas pada Sherin yang kini duduk di dekatnya.
Sherin menghembuskan nafasnya sesaat sebelum bicara, “Bismillah, saya menerima lamaran mas Bima,” jawab Sherin lancar bahkan tanpa canggung seperti Bima.
Semua yang ada di ruangan tersebut tersenyum lega mendengar jawaban Sherin, terutama Bima yang sejak tadi tidak bisa mengendalikan debaran jantungnya.
tapi nampaknya Bima tak mendengar ucapan Alex, hingga Andre menepuk keras bahunya.
PLAAAKK!!!!
Barulah Bima tersadar dari lamunannya.
“Apa?” tanya Bima yang sudah terbiasa bersikap seenaknya jika berada di dekat Andre, walau pria itu adalah atasannya.
“Mana cincinnya?” tanya Andre.
__ADS_1
“Eh cincin yah? mana yah?” jawab Bima kikuk.
Tentunya sikapnya lagi lagi mengundang tawa orang orang yang ada di sekitarnya.
“Nih …” Andre menyodorkan kotak perhiasan yang sejak tadi ada dalam genggaman Bella.
Cincin itu kini berpindah ke tangan Eyang putri yang akan memasangkan langsung benda keramat tersebut ke jari manis Sherin.
Begitupun sebaliknya, bu Roro memasangkan cincin di jari manis Bima.
Dengan demikian, berakhir sudah acara lamaran tersebut, dan juga sudah disepakati akad nikah akan diadakan satu minggu kemudian, dikarenakan Eyang kakung dan eyang putri tak mungkin bolak balik Jakarta terlalu sering.
.
.
.
Selama seminggu menanti hari pernikahan, Bima dan Sherin tetap masuk kerja seperti biasa, tak ada keistimewaan sama sekali, justru Andre meminta keduanya bekerja ekstra keras, karena sesudah ini mereka akan cuti di waktu bersamaan, lebih parahnya lagi Sherin sudah mengajukan surat pengunduran diri, karena Bima tak ingin Sherin bekerja setelah mereka menikah, jadilah Andre yang kerepotan karena harus mencari pengganti Sherin.
Food & Fresh? kini tinggal menanti surat keputusan pailit, Cokro bahkan sudah pasrah menerima hukuman dari othor, bahkan yang lebih mengejutkan, Wulan dengan berani mengajukan gugatan cerai padanya, ia tak ingin lagi menambah parah luka hatinya, sudah cukup selama lebih dari 20 tahun menjadi istri dari pria yang tidak ia cintai, kini ia memilih memulai hidup seorang diri.
__ADS_1