
Keesokan harinya.
Kini Mama Delia sudah berada di villa bersama Delia dan Roy.
"Del, Tante, saya pamit dulu yah, ada kerjaan." Pamit Roy.
Sengaja Roy pamit karena ingin memberi ruang pada Delia untuk menceritakan tentang kehamilannya.
"Iya, hati-hati yah." Balas Delia.
Roy pun keluar dari villa-nya.
"Itu pacar baru kamu, Del?" Tanya Mama Delia to the point.
"Bukan Ma, itu Roy, temen Delia." Jawab Delia.
"Oh. Terus Kriss mana?"
Delia diam sambil menundukkan wajahnya.
"Delia udah putus sama Kriss, Ma." Jawab Delia dengan suara lemah.
"Kenapa? Kriss selingkuh?" Tanya Mama Delia. Mama Delia kalau selama Kriss dan Delia berpacaran, Mama Lastri tidak menyukai Delia.
Delia menjawab hanya dengan menggelengkan kepalanya sambil terisak.
Mendengar anaknya menangis, Mama Delia berpikir bahwa tangisan Delia karena hubungan anaknya yang kandas. Padahal Delia menangis karena merasa malu dan bersalah pada sang Mama karena telah hamil di luar nikah.
__ADS_1
"Ya udah jangan sedih, mungkin kamu sama nak Kriss belum berjodoh." Ucap Mama Delia sambil mengelus punggung anaknya itu.
Tak kuasa menahan tangis, Delia pun memeluk sang Mama dan tangisnya pun pecah dalam pelukan sang Mama.
"Maafin Delia Ma, Delia udah ngecewain Mama. Delia udah bikin malu keluarga kita, maafin Delia, Ma." Kata Delia sambil menangis.
"Kamu gak usah minta maaf Del, dalam hubungan memang seperti itu. Lama-nya suatu hubungan bukan tolak ukur kalau kamu dan nak Kriss jodoh." Balas Mama Delia.
Delia makin menangis.
Ingin sekali mulutnya mengungkapkan apa yang terjadi sebenarnya pada sang Mama, tapi Delia tidak tahu harus memulai dari mana.
Tiba-tiba saja rasa mual Delia rasakan, Delia pun melepas pelukannya dari sang Mama lalu berlari menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur.
Melihat anaknya berlari menuju kamar mandi, Mama Delia pun menyusul Delia ke kamar mandi.
"Hooeek.. Hooeek.." Delia memuntahkan isi perutnya.
Mendengar dugaan sang Mama, air mata Delia kembali mengalir, sambil dirinya memuntahkan isi perutnya, sambil air matanya mengalir membasahi wajahnya.
Setelah merasa puas mengeluarkan isi perutnya dan membersihkan mulutnya, Mama Delia pun membawa Delia kembali keruang tengah.
"Tunggu yah, Mama bikinin teh dulu." Ucap Mama Delia setelah membaringkan putrinya diatas sofa.
Mama Delia pun kembali ke dapur dan membuatkan teh hangat untuk Delia.
Dengan secangkir teh di tangannya, Mama Delia pun kembali ke ruang tengah.
__ADS_1
"Ini, minum dulu biar enak-an." Ucap Mama Delia.
Delia pun mengubah posisinya menjadi duduk, lalu mengambil secangkir teh itu dari tangan sang Mama.
Sambil Delia menyeruput teh buatannya, Mama Delia mengambil minyak kayu putih dari dalam tas-nya.
"Sini Mama gosok minyak kayu putih perutnya." Ucap Mama Delia.
Mata Delia membulat sempurna, jantungnya pun berdetak sangat kencang. Ia takut kalau Mama-nya tahu dengan kehamilannya. Meski dirinya sangat ingin mengatakan pada sang Mama tentang kehamilannya, tapi untuk saat ini, Delia masih belum punya nyali untuk memberitahu pada sang Mama.
"Gak usah Ma. Delia udah enak-kan kok." Tolak Delia halus.
"Jangan ngeyel kamu kalau Mama bilangin! Udah sini Mama gosok pake minyak kayu putih, biar anginnya keluar." Paksa Mama Delia sambil mengambil cangkir yang ada ditangan Delia.
"Gak usah Ma, beneran, Delia udah enakkan kok." Ucap Delia.
Tapi sekeras apapun usaha Delia menolak, tetap saja Mama-nya yang menang.
Delia pun pasrah sang Mama membaringkan tubuhnya di sofa.
Setelah Delia berbaring di sofa, Mama Delia pun membuka pakaian Delia hingga menampakkan perut Delia.
Mama Delia mengernyitkan keningnya melihat penampakan perut Delia yang agak sedikit membesar. Pikiran tentang putrinya yang sedang hamil terlintas di pikiran Mama Delia, tapi tak lama Mama Delia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk membuang pikiran negatif tentang sang putri.
Mama Delia pun mulai menuangkan minyak kayu putih ke perut Delia lalu mulai menggosok minyak kayu putih itu dengan tangannya.
Namun baru saja tangan Mama Delia menempel diperut Delia, Mama Delia merasakan ada yang tidak beres dengan perut anaknya.
__ADS_1
"Del.. kamu.."
Bersambung...