
BAB 43
Bima menatap hampa lembaran kertas berwarna biru dengan gambar pancasila diatasnya.
Bahkan bu Roro dan Bagas yang sejak tadi berdiri di sisi kiri dan kanan Bima hanya terdiam mengatupkan kedua bibirnya, tak tahu apa yang harus mereka katakan, apakah kalimat penghibur untuk anggota baru keluarga mereka, ataukah kalimat makian untuk pria yang jelas jelas masih berstatus keluarga mereka sendiri.
Beberapa saat yang lalu Cokro datang dan menyampaikan permohonan maafnya pada Bima, atas semua dosa dosanya pada kedua orang tua Bima di masa lalu, pada kesempatan itu pula, Bima meminta maaf pada seluruh keluarga besarnya, karena ia sudah mencoreng nama baik keluarga.
Menurut pengakuan Cokro, Food & Fresh kini tinggallah nama, Tuhan bekerja dengan cara yang paling adil, tak sampai satu bulan, perusahaan yang berdiri selama 15 tahun itu, lenyap bagai tersapu badai, begitu keputusan pailit keluar, tak ada lagi yang bisa Cokro lakukan selain membayar hak hak para pegawai, petani serta mandor perkebunan yang ia pekerjakan, seluruh properti fisik yang bisa ia jual, semuanya sudah terjual, bahkan gono gini juga sudah ia serahkan pada Wulan.
Dan kini yang tersisa tinggal lah rumah mewah yang selama ini ia tempati bersama istri dan anaknya. Dan rumah itu kini diserahkan kepada Bima, sebagai bukti fisik permohonan maaf, walau mungkin nilainya tak sebanding dengan apa yang dahulu Cokro curi dari Arandhana.
Sementara Cokro akan menyerahkan diri ke pihak yang berwajib, karena ia ingin menjalani hidup dengan tenang, tanpa bayang bayang rasa bersalah.
Bima mengusap kasar wajahnya, wajahnya memerah dan tatapan matanya tak terbaca.
Ia membuang nafasnya dengan kasar, "bu … bolehkah ku titipkan ini pada ibu, aku ingin menenangkan diri lebih dulu," Bima menyerahkan sertifikat tanah pemberian Cokro pasa bu Roro.
Dan bu Roro masih dengan wajah kebingungan hanya menerima kemudian mengangguk, "Ah … iya istirahat lah, ibu yakin pasti banyak sekali yang sedang kamu pikirkan."
Bu Roro mengusap lengan Bima, kemudian Bima berbalik menuju kamar Sherin, kamar yang dihias sedemikian rupa, bukan hiasan mewah, karena Bima tak suka yang berlebihan, tapi siapapun akan tahu jika kamar itu adalah kamar pengantin baru.
Bima membuka pintu kamar dengan hati hati, wajahnya datar, ia melepaskan jas, dasi, dan membuka kancing lengan kemeja, tak ada rasa aneh yang merayapi hati dan pikirannya, seperti beberapa saat yang lalu, semua pikiran mesumnya musnah sirna seketika semenjak Bima mendengar nama Cokro disebut.
Sherin sudah selesai mandi dan berganti baju rumahan, keluar dari kamar mandi, wajahnya pun sudah bersih dari make up, senyum hangat Sherin menyambut kedatangan Bima.
Deg
Deg
__ADS_1
Deg
Jantung Sherin berdetak lebih kencang, manakala Bima berjalan semakin dekat ke arahnya, lebih tepatnya ia sedang amat sangat gugup, hari ini adalah hari pertama nya tidur satu kamar dengan pria asing yang kini sudah bergelar suami Sherin seorang.
😂
Wajah Sherin sudah semerah buah tomat masak, ketika akhirnya Bima memeluk erat tubuhnya, bahkan menelusup kan wajahnya ke ceruk leher Sherin, menikmati aroma baru, kemudian menyimpannya di alam bawah sadar, seperti seorang anak kecil yang mencari kenyamanan dalam pelukan ibunya.
Mendapatkan pelukan begitu erat, membuat tubuh Sherin membeku seketika, ia bahkan tak bisa menggerakkan lengannya guna membalas pelukan Bima.
"Bisakah kamu memelukku?" Bisik Bima tepat di telinga Sherin.
"Eeh i … i …. Iya." Sherin pun mengulurkan kedua tangannya kemudian mengusap punggung lebar Bima.
Tanpa sepengetahuan Sherin, Bima tersenyum sendiri, sementara itu orkestra di dalam dada Sherin semakin menggila, kencang laksana genderang nyanyian perang.
"Tolong buka kancing kemejaku dan lepaskan."
Bukannya berdesir, Tubuh Sherin seperti dihantam petir.
Kita memang sudah resmi menikah, tapi ini masih siang hari, bahkan sore hari pun masih sekitar 90 menit kedepan, tapi apa mas juga sudah tak sabar? Kita berdua pasti melakukan hal hal yang memang seharusnya dilakukan sepasang suami istri, tapi haruskah sekarang? Ini masih siang, apa ini karena mas Bima sudah terlalu lama membujang, jadi ia pun tak sabar ingin mencoba hal baru?.
Berbagai macam spekulasi terus bermunculan, jika tadi pikiran Bima yang traveling ke hal hal mesum, kini Sherin yang otak nya mulai tercemar.
Menyadari Sherin hanya diam membatu, Bima pun mengangkat wajahnya.
Tak !!!
Bima menyentil pelan kening Sherin, tak sakit sih, tapi Sherin pura pura meringis sambil mengusap keningnya. "Ini masih siang, apa yang kamu pikirkan?"
__ADS_1
Seketika wajah Sherin kembali memerah, "habisnya, mas menyuruhku melakukan …"
"Apa masalahnya, aku hanya meminta tolong pada istriku, apa itu tidak boleh?"
"Ya boleh sih, tapi kan permintaan tolong mu, membuatku malu, bahkan … bahkan …"
"Bahkan apa?" Tanya Bima tak sabar.
Sherin beringsut ke belakang, namun belum sempat ia bergerak ke belakang, tiba tiba lengan Bima kembali melingkar di pinggangnya, hingga reflek membuat wajah Sherin kembali mendongak.
"Mas jangan seperti ini, aku malu, ini masih siang, dan di luar ada banyak tamu, tak sopan rasanya kalau kita berdiam di kamar."
"Di luar sudah sepi, karena itulah aku masuk, aku juga lelah ingin istirahat, tidak bolehkah aku meminta pelukan dari istriku, hemmm?" Bisikan Bima semakin menggoda, membuat tengkuk Sherin semakin meremang.
Blush …
Istriku … iya mas, sekarang aku istrimu !!!
Jerit bahagia itu menggema dalam pikiran Sherin.
Hingga kemudian, tangannya pun bergerak melepas kancing kemeja Bima.
Dada dan pundak yang bidang, ditambah otot otot perut yang rata dan keras, membuat naluri kewanitaan dalam diri Sherin meronta ronta ingin melakukan yang lebih, namun Sherin terlalu malu mengakuinya.
Akhirnya kemeja itu terlepas sempurna, menampakkan tubuh kekar berbalut kaos dalam, "terima kasih istriku," Bima kembali berbisik, seraya melabuhkan kecupan, sungguh Bima pun sudah tak dapat menahan dirinya, namun fokusnya sedang terpecah, hingga ia pun belum berselera menyentuh Sherin lebih lanjut, "Ayo …"
Bima menggiring Sherin ke tempat tidur, dan seperti sedang tersihir, Sherin hanya mengikuti ajakan Bima dengan patuh, termasuk ketika Membuat tubuhnya terbaring diatas tempat tidur, kemudian Bima berjalan ke sisi kosong dan membaringkan tubuhnya yang mulai penat.
Dan seperti sebelumnya, Bima kembali meringsek masuk ke pelukan Sherin, bahkan wajah Bima kini menempeli dadanya, mencari kenyamanan di sana, "aku ingin tidur," Bima melingkarkan lengannya, bahkan ia sudah menjadikan tubuh Sherin sebagai guling ternyaman, beberapa saat kemudian, dengkuran halus terdengar, suara nafas Bima mulai turun naik dengan tempo yang teratur.
__ADS_1
Sherin tersenyum, rupanya ini adalah sisi manja Bima yang baru saja ia kenali, telapak tangan Sherin mengusap kepala Bima dengan lembut, "selamat istirahat suamiku." Bisik Sherin.
..._____TAMAT ???____...