
"Besok. Jam sepuluh." Jawab Mama Lastri dengan santainya sambil membolak-balikkan katalog gaun pengantin.
"Hah?!" Teriak Kriss dan Ivanna bersamaan.
"Kok besok sih Ma!! Pagi-pagi lagi!!" Protes Ivanna.
"Emang apa bedanya mau besok atau lusa atau minggu depan!! Kan sama aja! Lagi pula, Papa-nya Dio mau balik ke Jerman malam-nya, dia mau beresin kerjaannya dulu katanya disana jadi pas kalian menikah nanti Papa-nya Dio bisa dateng." Jawab Mama Lastri.
Ivanna menghela nafasnya panjang. Ingin sekali rasanya Ivanna melawan sang Mama, tapi apalah daya, sejak Kriss dan Ivanna kecil, Mama Lastri memang sangat dominan, bahkan almarhum Papa mereka pun diam jika Mama Lastri sudah marah. Dari kecil mereka tidak di biasakan memberi pendapat atau menentukan pilihan, semua Mama Lastri yang atur bahkan sampai mereka sudah besar pun Mama Lastri masih seperti itu.
"Besok selesai acaranya Vanna, Kriss mau jalan-jalan ke Bali. Sekalian mau ketemuan sama temen Kriss dari Singapura." Ucap Kriss.
"Temen cewek atau cowok?" Tanya Mama Lastri menyelidik.
"Cowok Ma. Itu loh Garry." Jawab Kriss.
"Oh..." Mama Lastri hanya membulatkan mulutnya.
Tak ada lagi ketakutan dalam diri Mama Lastri, jika Kriss bertemu Delia. Jangankan ketakutan itu, nama Delia pun sudah mereka kubur dalam-dalam dan tak ada satu orang pun dalam keluarga itu yang membahas tentang Delia lagi.
Begitupun dengan Kriss, ia pun juga sudah melupakan Delia dan mengikhlaskan Delia dengan Roy. Namun meski dirinya sudah berhasil ikhlas, tapi untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis lagi, Kriss masih takut. Ia takut dikhianati lagi.
***
__ADS_1
Keesokan harinya.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh.
Dua mobil mewah memasuki halaman rumah Mama Lastri.
Yang satu mobil Alphard putih dan yang satu mobil Ferrari hitam. Mobil siapa lagi kalau bukan mobil Dio dan orangtua Dio.
"Tuh Van, lihat kan mobilnya!! Mobil-nya aja mobil mewah!! Itu menandakan Dio bukan dari keluarga sembarangan." Bisik Mama Lastri pada Ivanna yang sedang berdiri di teras menyambut kedatangan Dio dan keluarganya.
Ivanna tak merespon dan malah memasang wajah jutek.
"Senyum kamu!!! Jangan jutek-jutek!!" Tegur Mama Lastri. Ivanna pun terpaksa mengembangkan senyum di pipi-nya.
"Halo Jeng Lastri...." sapa Mama Dio heboh sambil berjalan mendekati Mama Lastri.
"Baru seminggu gak ketemu tapi berasa sebulan yah Jeng." Ucap Mama Dio.
"Akh.. Jeng Sari bisa aja." Balas Mama Lastri.
"Ini Jeng kenalin putri bungsu saya. Ivanna." Kata Mama Lastri sambil memperkenalkan Ivanna lalu memberikan kode dengan mata-nya agar Ivanna mendekati Mama Dio dan memperkenalkan dirinya.
Ivanna yang mengerti arti kode mata Mama-nya pun berjalan mendekati Mama Dio.
__ADS_1
"Hai Tante, kenalin Ivanna." Ucap Ivanna memperkenalkan dirinya sambil menjulurkan tangannya pada Mama Dio.
"Ya ampun, cantik banget kamu yah. Lebih cantik dari yang di foto." Balas Mama Dio sambil membalas uluran tangan Ivanna.
"Oh iya kenalin juga ini calon Papa Mertua kamu dan ini calon suami kamu." Kata Mama Lastri lagi.
Ivanna pun melepaskan jabatan tangannya dengan Mama Dio dan beralih ke Papa Dio.
"Hai Om, salam kenal." Sapa Ivanna sambil menjabat tangan Papa Dio.
Setelah menjabat tangan Papa Dio, barulah Ivanna beralih ke Dio.
"Hai." Sapa Ivanna pada Dio.
"Kok Hai aja sih!! Hai Mas Dio, gitu dong!!" Tegur Mama Lastri.
"Gak pa-pa Tante, mungkin Ivanna masih belum biasa." Balas Dio.
"Yah kan Vana?" Tanya Dio pada Ivanna dengan tatapan buaya.
Ivanna hanya membalas dengan senyuman, tapi hatinya merasa aneh dengan tatapan yang Dio berikan padanya.
"Ya udah yuk kita masuk." Ajak Mama Lastri.
__ADS_1
Mama Lastri pun jalan lebih dulu masuk ke dalam rumah, lalu diikuti Mama dan Papa Dio di belakang Mama Lastri dan Dio-Ivanna di belakang Mama-Papa Dio.
Bersambung...