
Namina diam diam tersenyum bahagia. Sedangkan putra diam melihat ke mereka lalu makan.
"pak natan mau makan apa saya ambilin" tawar namina ke natan
"gausah kamu saja ambil yang banyak, saya bisa sendiri"
"eh iya pak"
Putra diam, pura pura tidak melihat dan mendengar mereka.
Selelai makan natan mengantar namina ke depan bersama putra, menyuruhnya untuk pulang.
"saya pulang dulu pak terimakasih makananya" ucap namina ke natan saat berada di teras
"iya sama sama" jawab natan cuek
"gua pulang" pamit putra juga
Natan hanya melihat ke dia enggan menjawab, dia masih kesal dengan kejadian di dapur.
Setelah mereka pulang dia masuk kedalam lagi saat melihat vina sedang membersihkan meja makan.
"vin.." panggilnya
"iya mas ada apa?" jawabnya
"Kamu udah makan? Kalau belum makan yang banyak ya saya mau istirahat" ucapnya ke vina
"baik mas" jawabnya sambil menunduk
Lalu natan berjalan meninggalkan vina.
"kok vina biasa aja ya, kaya ga kenapa kenapa" omongnya saat sampai di kamar.
"ah sudahlah besok saja lagi, saya buktikan" ucapnya lalu beranjak ke kamar mandi ganti baju lalu membuka file file perusahaan.
Disisi lain namina yang sudah sampai di rumanya senang bukan main, karena dia bisa melihat siapa wanita kemarin dan bahkan bisa makan malam di rumah natan.
__ADS_1
"ternyata dia cuma pembantu" omongnya sambil tersenyum sinis
"vina, lu gak pantes buat natan, yang pantes itu gua lu tu cuma pembantu." ucapnya lagi lalu tertawa terbahak bahak.
Sedangkan vina diam duduk termenung di tempat tidurnya memikirkan kejadian tadi.
"siapa wanita itu ya, cantik banget" pikirnya
"apa dia pacarnya mas natan, sampai saya di suruh ke belakang? Tapi kemarin kenapa mas natan baik banget ke aku?"
"ah sudahlah gak usah di pikirin vina ga penting"
Ucapkan keras lalu beranjak tidur.
Pagi pagi sekalu vina sudah bangun dan mulai memasak seperti biasanya untuk sarapan. Dia dikejutkan natan yang sudah ada di dapur pagi pagi.
"eh mas natan ngapain?" tanya vina sambil melihat natan
"mau minum haus" jawabnya cuek lalu berjalan meninggalkan dapur membawa segelas air.
Selelai masak dia membawanya ke meja makan menunggu putra datang dan natan turun. Cukup lama dia menanti tapi putra belum juga datang hanya natan yang sudah turun.
"pagi mas natan" sapa vina ke natan
"pagi"
"mas putra kok belum datang mas?" tanyanya saat natan hendak menjawab terdengar suara klakson di depan tanpa menunggu jawaban natan vina berlari kepintu menyambut putra datang.
Ceklek
Vina membuka pintu dengan senyum ramah, tapi senyumnya langsung berubah menjadi wajah masam. Melihat wanita cantik berdiri diam di depan pintu.
"kenapa lu?" tanyanya
"eh ga papa mbak silakan masuk" jawabnya sambil mempersilahkan masuk
"namina bukan mbak" jawabnya sewot
__ADS_1
"eh iya baik namina" vina menuruti perkataannya
Dia masih diam di depan pintu melihat putra tapi dia tak kunjung datang, lau memutuskan masuk melihat natan dan namina sarapan berdua. Dia sebal melihat mereka berduaan seperti itu.
"Kenapa gua sebel si, udahlah vin kamu kan cuma pembantu di sini ga lebih jangan mengharapkan yang tidak tidak." omongnya mengasihani dirinya sendiri.
Dia berjalan menghampiri meja makan.
"mas natan, kenapa mas putra tidak datang?" tanya vina ke natan
Natan diam cukup lama sebelum menjawab seadanya.
"dia sibuk jadi langsung ke kantor"
"oh iya"
Lalu vina berjalan ke belakang meninggalkan natan dan namina makan berdua.
Namina tertawa senang melihat natan bersikap seperti itu ke vina. Dia mungkin kemarin kemarin salah melihat vina sebagai saingannya, karena ternyata natan tidak sebegitu peduli dengan vina.
Vina di dapur menyiapkan bekal untuk putra, kasihan karena biasanya dia sarapan bersama di sini.
Saat sudah selesai menyiapkan dia mendengar natan memanggilnya ke depan.
"vin.." panggil natan
"iya mas" jawabnya berjalan ke depan sambil membawa kotak bekal untuk putra.
"Kenapa mas?" tanya vina
"saya sudah selesai, tolong bereskan" jawabnya acuh ta acuh
"baik mas. Em ini saya mau minta tolong mas natan untuk ngasih ke mas putra" ucap vina sambil menyerahkan kotak bekal ke natan
Sedangkan namina hanya diam melihat interaksi keduanya.
Natan diam cukup lama sebelum dengan enggan menerima kotak tersebut lalu berangkat bersama namina.
__ADS_1