
Tiga jam kemudian.
Kini Kriss sudah selesai di ct scan.
"Dari hasil ct scan, tidak ada masalah dengan kepala Anda dan tulang wajah Anda juga tidak ada yang patah. Tapi saya anjurkan untuk Anda untuk istirahat total minimal satu bulan agar proses penyembuhan luka dalam di wajah Anda lebih cepat." Ucap dokter memberi saran.
"Tuh dengar apa yang dokter bilang." Timpal Mama Lastri.
"Iya dok." Jawab Kriss.
Dokter pun keluar dari dalam kamar rawat Kriss.
"Gak usah mikirin Delia dulu yah. Pokoknya kamu fokus nyembuhin luka kamu dulu. Masa kamu mau ketemu Delia dengan kondisi yang seperti ini." Kata Mama Lastri lagi.
"Iya Ma." Balas Kriss lagi.
Ceklek. Pintu kamar rawat Kriss terbuka.
Ternyata Ramon, Om-nya Kriss yang membuka pintu.
"Kamu sudah sadar Kriss?" Tanya Ramon sambil berjalan mendekati ranjang Kriss.
"Apa sudah di ct scan?"
Mama Lastri menganggukkan kepalanya.
"Tidak ada masalah yang serius kan?" Tanya Ramon.
__ADS_1
"Gak ada. Tapi Kriss tetap harus istirahat total minimal sebulan biar luka dalamnya cepat sembuh." Jawab Mama Lastri.
"Jadi untuk sebulan ini, tolong bantu Kriss nanganin restoran yah." Kata Mama Lastri lagi.
Ramon menganggukkan kepalanya.
"Oh, iya gimana urusan di kantor polisi?" Tanya Mama Lastri.
"Semua udah beres Kak." Jawab Ramon.
"Syukur lah." Balas Mama Lastri.
"Kamu kenapa begitu sih Kriss? Om gak nyangka kamu berani bicara seperti itu! Syukur-syukur cuma satu orang yang gebukin kamu, kalau temen-temennya juga ikut gebukin kamu gimana?" Tanya Ramon.
Kriss tidak menjawab. Jika diingat-ingat lagi, Kriss sendiri juga tidak menyangka kalau dirinya bicara seperti itu. Meminta seorang wanita untuk ia tiduri satu malam pada kekasihnya. Karena pengkhianatan Delia, membuat isi kepala Kriss menganggap semua wanita bisa di tiduri.
"Kasihan kamu Kriss. Om yakin, nanti kamu akan mendapat pengganti yang lebih baik dari mantan kamu itu. Jangan depresi seperti ini Kriss, kalau wanita itu tau kamu depresi seperti ini, makin besar kepala dia dan menganggap kamu cinta mati sama dia." Ucap Ramon menasehati Kriss.
Kriss hanya menganggukkan kepalanya merespon nasehat Om-nya.
Ceklek. Pintu kamar rawat Kriss terbuka lagi.
Kali ini Ivanna yang masuk kedalam kamar rawat.
Melihat putri bungsunya masuk, Mama Lastri langsung memberi tatapan tajam pada Ivanna seolah sedang memperingati Ivanna untuk tidak membuka mulutnya.
Sedangkan Ivanna, ia hanya memutar bola matanya malas melihat sang Mama.
__ADS_1
***
Indonesia.
Seminggu kemudian.
Delia sudah membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk pergi villa Roy yang ada di puncak.
Semua barang-barang Delia seperti ranjang, meja makan kecil, lemari, televisi, nakas kecil, meja rias, dan barang-barang lainnya sudah diangkut lebih dulu dengan menggunakan mobil pick up dan sekarang hanya menyisakan satu koper kecil dan tas tangan yang Delia bawa.
"Udah siap?" Tanya Roy.
Delia menganggukkan kepalanya.
"Ayo." Ajak Roy sambil menarik tangan Delia.
Delia menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya kasar, matanya mengelilingi kontrakan kecilnya untuk yang terakhir kali.
Berat rasanya meninggalkan kontrakan itu, karena banyak sekali kenangan indah bersama Kriss.
"Ayo. Kita buka lembaran baru." Kembali Roy menarik tangan Delia.
Delia pun mengikuti Roy dari belakang.
Setelah keluar dari kontrakannya, ternyata sang pemilik kontrakan sudah menunggu Delia di kontrakan di sebelah kontrakan Delia.
Banyak ibu-ibu disana sedang berkumpul sambil berbisik-bisik. Meski berbisik namun dari tatapan mata mereka Delia bisa tahu kalau ibu-ibu julid itu sedang membicarakan dirinya.
__ADS_1
Bersambung...