
BAB 31.
Malam semakin larut, tapi bu Roro tak juga bisa memejamkan mata, perkataan polos Bima masih membayangi pikirannya.
Bima yatim piatu, itu yang bu Roro tahu, siapa sangka itu karena ia hilang tak dan ditemukan keluarga kandungnya, begitulah pengakuan Bima ketika Bagas terus mengulik masa lalu Bima, memiliki keluarga, tapi berakhir tinggal di panti asuhan.
Bu Roro seakan tertampar, salahkah Bima jika ia seorang anak yatim Piatu, padahal menjadi yatim piatu bukan lah sebuah keinginan, dan bu Roro dengan tega nya mengajukan syarat seorang ningrat sajalah yang layak menjadi menantunya, entah apa yang membuat hatinya begitu sulit menerima Bima, padahal kedua menantunya yang lain tak ada yang berasal dari keluarga ningrat, entah kenapa ia begitu ingin Sherin mendapatkan suami seorang keturunan ningrat darah biru.
Padahal selama beberapa hari belakangan, sejak mengakui hubungannya dengan Sherin, Bima selalu menunjukkan kesantunan dan kesopanannya ketika datang bertamu, atau bahkan mengantar Sherin jika mereka pulang terlalu malam karena pekerjaan, tak ada cacat dalam sikap dan tingkah lakunya, terlihat sekali jika bima adalah pria bertanggung jawab.
Dulu sekali, bu Roro pernah hampir menikah dengan seseorang yang berstatus bangsawan, tapi keluarga pria itu, terutama kakak tertuanya menolak tegas pernikahan anggota keluarga mereka dengan rakyat biasa tanpa status kebangsawanan, walau bisa menerima keputusan itu, hingga akhirnya bu Roro jatuh cinta dan menikah dengan pria lain, tapi entah mengapa ia masih merasakan ada dorongan kuat dalam dirinya, entah obsesi atau hanya menginginkan sebuah pembuktian, bahwa orang biasa juga bisa menikah dengan seseorang dengan status bangsawan berdarah biru.
***
Pagi menjelang siang ini, bu Roro sudah berada di William Medical Center, bu Roro datang seorang diri, karena merasa kondisinya sangat vit, lagi pula ia hanya mengambil beberapa obat untuk kolesterol dan asam urat, setelah hari sebelumnya melakukan check up rutin ke dokter yang menanganinya.
Ketika menunggu antrian tiba tiba bu Roro merasakan desakan ingin buang air, jadi bu Roro mendatangi toilet terdekat, usai menyelesaikan keperluannya bu Roro berjalan ke wastafel hendak mencuci tangan, tiba tiba dari arah pintu masuk lah seorang gadis muda seusia Sherin, ia buru buru mendatangi wastafel dan memuntahkan isi perutnya, yang hanya berupa lendir, sepertinya gadis itu belum makan, bu Roro mendekati gadis itu kemudian membantu memijat tengkuknya.
Gadis itu tampak diam dan tak menolak ketika bu Roro memberi pijatan padanya, “terima kasih bu,” ucapanya ketika ia selesai membersihkan semua yang keluar dari perutnya.
“Sama sama,” jawab bu Roro. “sedang hamil muda rupanya.” tebak bu Roro, tebakan yang pas sekali karena bu Roro pun pernah mengalaminya ketika mengandung Sherin.
“Iya bu, terima kasih yah,” sekali lagi gadis itu berterima kasih pada bu Roro, kemudian berlalu pergi, rupanya ada seorang pria sedang menunggunya di depan pintu toilet.
sayup sayup bu Roro masih mendengar percakapan mereka.
“Sudah muntah nya?”
“Makan ya sayang, kasihan bayi ini, kamu bahkan belum makan apa apa sejak pagi, tapi sudah 4 kali muntah.” ucap pria itu, ada kekhawatiran dalam kata katanya.
Telinga bu Roro merasa tergelitik, ia merasa akrab dengan suara laki laki itu, tapi entah di mana bu Roro lupa.
Karena penasaran, bu Roro mendekati pintu dan melihat benarkah yang ia dengar adalah suara orang yang ia kenal.
“Bagaimana ini mas, kandunganku akan semakin besar, kita harus segera menikah.” ucap gadis itu.
__ADS_1
“Tapi aku belum berani bicara pada papa, karena sedang ada banyak masalah di pabrik.” keluh pria itu.
“Kita nikah siri dulu aja, Gimana?” tawar gadis itu lagi.
“Aku akan coba bicara dengan mama, semoga beliau mengerti dengan keadaan kita.”
Gadis itu mengangguk.
Mereka terus bicara, tak menyadari ada yang mendengarkan pembicaraan mereka.
Seketika tubuh bu Roro bergetar hebat, sungguh tak mempercayai apa yang baru saja iia lihat dan ia dengar.
Laki laki itu pun tak kalah terkejut melihat kehadiran bu Roro, ia tak menyangka akan bertemu dengan bu Roro di tempat ini, “b … b … bu … bulek*.” sapa Pras pada bu Roro.
*bulek : bibi atau tante (sebutan untuk adik perempuan dari ibu atau ayah)
“Siapa dia Pras?” tanya bu Roro dengan tubuh gemetar.
Seketika pras pun gugup, sungguh bingung, walau perjodohannya dengan Shein masih menggantung, tapi ia merasa tak enak, karena bu Roro harus melihat dan mendengar semua ini.
“Maaf bulek, ini Dyah, gadis yang ku cintai, sejak awal aku sudah menolak perjodohanku dengan Sherin, tapi papa marah dan tak mau mendengarkan perkataanku.” aku Pras, “Ini semua terjadi karena kami saling mencintai, dan aku tak bisa meninggalkan Dyah dan anak kami.” dengan tegas Pras mengatakan apa yang terpendam di hatinya, entah untuk tujuan apa, tapi setidaknya kini ia merasa telah menyingkirkan satu beban berat yang menghimpit dadanya.
Bu Roro mulai merasakan sesak memenuhi rongga dada nya, tubuhnya masih gemetar hingga tak mampu lagi bergerak dari tempatnya bersandar saat ini.
“Ibu..?” tiba tiba sebuah suara memanggilnya dengan nada khawatir, tapi pandangan bu Roro masih gelap, jadi ia tak melihat siapakah yang kini memapahnya menuju kursi terdekat.
***
“Dok … ibu saya kenapa?” tanya Bima khawatir.
Hari ini ia mengambil hasil General Check Up nya beberapa minggu lalu, ketika melewati lorong toilet dalam perjalanan pulang, ia tak sengaja melihat seseorang sedang duduk bersandar di dinding, karena tak ada siapapun, Bima pun mendekatinya, rupanya orang itu adalah bu Roro, Bima segera memapah bu Roro ke kursi terdekat, tapi tiba tiba bu Roro pingsan dengan keringat dingin membasahi wajah dan lehernya.
Bima segera membawa bu Roro ke Emergency Room, untunglah dokter di sana mengenali Bima, jad bu Roro segera bisa mendapatkan pertolongan pertama.
“Ibu anda tidak apa apa tuan, sepertinya beliau hanya terkejut saja,”
__ADS_1
Bima menghembuskan nafas lega, ia begitu panik hingga tak bisa mengambil ponsel untuk menghubungi Sherin.
5 menit kemudian bu Roro membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah Bima yang tengah menatapnya dengan khawatir.
“Bu … bagaimana perasaan ibu?” tanya Bima.
“Dimana ini?” tanya bu Roro lirih.
“Emergency Room, tadi ibu pingsan,”
Bu Roro memijat pelipisnya yang masih agak berdenyut, ia mencoba mengingat hal terakhir yang ia lakukan, potongan demi potongan tersusun dengan rapih dalam ingatannya, hingga ia pun ingat bahwa sebelumnya ia terkejut mendengar pengakuan Pras tentang kehamilan kekasihnya.
“Sebentar bu, aku panggilkan dokter,”
Bima pun beranjak, tak lama kemudian ia kembali bersama seorang dokter, dengan Stetoskopnya dokter tersebut memeriksa kondisi bu Roro, “Ibu anda tidak apa apa tuan, setelah pulih, beliau sudah bisa pulang.”
“Baik, terima kasih dok.” ucap Bima pada dokter yang memeriksa bu Roro.
Bu Roro kembali memejamkan matanya, Bima hanya bisa duduk diam dan menunggu, ingin bertanya tapi serba salah, ingin mengabarkan pada Sherin tapi ponselnya tertinggal di mobil, karena tadi ia berencana hanya mengambil hasil Lab saja, kemudian kembali melanjutkan niatnya mengunjungi panti asuhan, karena sudah sebulan sejak terakhir kali ia datang mengunjungi panti asuhan.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
jadi, siapa pria yang di cintai bu Roro di masa lalu? sabar yes 🧘😁 nanti othor kupas pelan pelan pelan.