
"Benar kamu akan melakukan apapun yang akan saya minta?" Tanya Tante Leni.
Delia menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu pergi dari kota ini sejauh mungkin!! Dan jangan pernah kembali!! Jangan pernah muncul di hadapan kami lagi!" Kata Tante Leni.
Mata Delia membulat.
"Ta-tapi Tan..."
"Katanya mau melakukan apapun yang saya minta!! Kok bilang tapi?"
Delia nampak diam sejenak.
"Dan satu lagi, kamu harus menandatangani surat pernyataan dengan mengatakan bahwa anak yang ada dalam kandungan kamu itu bukan anak Kriss!!" Kata Tante Leni.
Mata Delia makin membulat saja.
Roy yang mendengar permintaan Tante Leni langsung menarik tangan Delia untuk berdiri dari posisi berlututnya.
"Berdiri Del!! Gak usah turutin permintaan iblis ini!! Aku akan cari pengacara untuk membebaskan Mama kamu." Kata Roy sambil menarik tangan Delia.
"Lepas!!!" Delia malah menyentak tangan Roy.
"Aku bersedia melakukan semua-nya Tan." Jawab Delia mantap.
"Del!!!" Bentak Roy saat mendengar Delia malah menyanggupi permintaan Tante Leni.
__ADS_1
Delia tidak memperdulikan Roy sedangkan Tante Leni tersenyum puas mendengar Delia bersedia melakukan permintaannya.
"Siapkan saja surat pernyataannya, saya akan tanda tangan." Ucap Delia.
Geram karena Delia tidak mau mendengarkannya, Roy pun menarik paksa Delia.
"Ayo kita pulang!!" Paksa Roy.
"Lepas Roy!!! Ini urusan aku!!" Bentak Delia.
"Del, kamu sadar dengan keputusan yang kamu ambil ini?" Tanya Roy.
"Sadar!! Sangat sadar!! Aku hanya ingin hidup tenang dengan keluarga ku, Roy. Aku mohon, kita sudahi urusan kita dengan mereka sampai disini. Mental aku lelah Roy." Jawab Delia.
Roy menghela nafasnya.
Delia kembali mendekati Tante Leni.
"Sudah Tante siapkan surat pernyataan yang harus aku tandatangani?" Tanya Delia.
"Tunggu sebentar." Ucap Tante Leni.
Tante Leni pun meminta polisi untuk membuatkan surat pernyataan yang akan Delia tanda tangani. Karena mereka sedang berada di kantor polisi, polisi lah yang akan menjadi saksi Delia menandatangani surat pernyataan.
***
Surat pernyataan pun sudah ditandatangani diatas materai dan di cap oleh kepolisian. Tidak perlu diragukan lagi ke absahan dan nilai hukum surat pernyataan itu.
__ADS_1
Mama Delia pun juga sudah di keluarkan dari dalam tahanan.
Tahu kalau Delia menandatangani surat pernyataan untuk pergi dari ibukota dan mengatakan kalau anak yang ada dalam kandungannya bukan anak Kriss, jelas Mama Delia marah dan kecewa pada Delia.
Sepanjang perjalanan dari kantor polisi sampai sekarang mereka sudah tiba di vila, Mama Delia tidak mengeluarkan sepatah kata apapun pada Delia.
"Ma.." panggil Delia.
Mama Delia tidak menyahut dan malah berjalan menuju kamar.
Delia pun hendak menyusul sang Mama, tapi Roy langsung menarik tangan Delia, menahan langkah Delia agar tidak menyusul Mama-nya ke kamar.
"Biarkan Mama kamu sendiri dulu. Mama kamu masih kesal dan syok dengan keputusan yang kamu ambil." Ucap Roy.
Satu jam kemudian.
Selama satu jam itu Delia duduk di sofa ruang tengah menunggui Mama-nya keluar dari kamar yang letaknya tak jauh dari ruang tengah. Sedangkan Roy, ia pergi keluar membeli makanan untuk mereka.
Dan akhirnya setelah satu jam menunggu sang Mama, Mama Delia pun keluar dari dalam kamarnya sambil membawa tas yang berisi pakaiannya.
"Mama mau kemana?" Tanya Delia sambil berdiri dari duduknya.
"Ayo kita pergi dari sini." Ucap Mama Delia.
"Hah?" Delia menganga mendengar ajakan sang Mama.
Bersambung...
__ADS_1