
"Del.. kamu.."
Delia kembali menangis.
Dan melihat anaknya menangis, Mama Delia semakin yakin dengan kecurigaannya.
"Jadi benar, kamu ha-hamil?" Tanya Mama Delia agak sedikit ragu.
Delia menganggukkan kepalanya.
Sontak Mama Delia menganga, tubuhnya melemas seketika. Seperti separuh nyawa-nya keluar dari tubuh-nya Mama Delia terduduk lemas di atas lantai yang di lapisi karpet bulu.
Delia pun mengubah posisinya menjadi duduk dan ikut duduk di karpet sambil mencium tangan sang Mama.
"Maafin Delia, Ma. Maafin Delia." Ucap Delia sambil menangis.
"Apa Kriss Ayahnya?" Tanya Mama Delia datar.
Delia menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Lalu dia tidak mau bertanggung jawab?!" Tanya Mama Delia lagi.
Delia diam. Untuk pertanyaan yang satu itu Delia tidak bisa menjawab, karena sampai detik ini pun dirinya belum memberitahu Kriss secara langsung karena dirinya tidak tahu dimana Kriss sekarang berada.
"Jawab Delia!!!" Bentak Mama Delia.
"Delia gak tahu Ma, sampai sekarang Delia gak bisa menghubungi Kriss. Delia datang kerumah orangtuanya pun..." Delia menggantung kata-katanya.
"Kenapa? Ada apa dirumah orangtuanya?! Jangan bilang Mama-nya Kriss tidak ingin memberitahu dimana keberadaan Kriss?!" Tanya Mama Delia curiga.
Terlanjur basah, mandi sekalian. Mungkin begitulah peribahasa yang cocok menggambarkan situasi Delia saat ini. Padahal dirinya tidak ingin sang Mama tahu kalau Mama Lastri selama ini menentang habis-habisan hubungannya dengan Kriss.
Tak ingin lagi ada yang dirahasiakan, Delia pun menganggukkan kepalanya.
Mama Delia pun berdiri dari posisi duduknya.
"Ayo kita ke rumah orangtua Kriss!!!" Mama Delia menarik tangan Delia. Ia ingin berhadapan langsung dengan Mama Lastri.
Namun Delia menahannya.
__ADS_1
"Jangan Ma, mulut Mama-nya Kriss jahat banget, Delia gak mau Mama sampai dihina sama Mama-nya Kriss."
"Mama lebih gak terima kamu di perlakukan seperti ini Del!!! Sebagai orangtua harusnya Mama-nya Kriss bertanggung jawab, sekalipun anaknya tidak mau bertanggung jawab!! Ini malah menyembunyikan Kriss!! Kalau mereka gak mau mempertanggung jawabkan perbuatan mereka, Mama akan laporkan ke polisi, komnas perempuan, komnas HAM kalau perlu!!"
"Percuma Mama melakukan itu, Mama-nya Kriss itu licik, malahan dia bilang kalau anak yang ada di kandungan Delia ini, anaknya Roy."
"Astaga!!!!" Kaget Mama Delia.
"Ini gak bisa dibiarkan!! Ayo kita kerumah Mama-nya Kriss!!! Biar Mama yang menghadapinya. Kita harus berjuang sampai titik darah penghabisan!! Tidak jadi masalah kalau apa yang kita perjuangkan sia-sia, yang penting kita sudah berjuang agar anak dalam kandungan mu itu memiliki Ayah dan sebagai bukti pada anak mu kelak kalau kamu sudah mati-matian memperjuangkan hal anak mu!!" Ucap Mama Delia optimis.
"Tapi Ma.."
"Benar apa yang Mama mu bilang Del. Urusan kalah atau menang, itu urusan belakangan, yang penting kita berjuang dulu. Kita datangi sekali lagi Mama-nya Kriss, kalau Mama-nya Kriss masih kekeh tidak mau memberitahu keberadaan Kriss, kita datangi komnas perempuan dan komnas HAM untuk minta pendampingan. Kalau semua cara kita sudah lakukan dan hasilnya tidak sesuai harapan kita, baru lah kita mundur." Potong Roy yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu.
Sebenarnya Roy tidak benar-benar meninggalkan villa-nya, ia hanya berkeliling sebentar untuk memberi ruang pada Delia dan Mama Delia. Dan disaat dirasa waktu yang ia berikan cukup, Roy pun kembali ke villa-nya dan tak menyangka mendengar ucapan Mama Delia yang sangat masuk akal.
Roy pun mendukung apa yang Mama Delia sarankan.
"Ayo kita kesana. Gak usah takut kalau kita benar! Sekalipun kita tidak punya keluarga di kota ini, bukan berarti mereka bisa menginjak-injak kita. Kalau kamu tidak mau mendengar Mama-nya Kriss menghina Mama, tidak usah kamu ikut masuk ke dalam rumah!! Biar Mama dan nak Roy saja yang masuk. Mama sudah biasa mendapat penghinaan, tapi kalau anak Mama yang di hina, binatang pun tidak akan terima!!" Ucap Mama Delia.
__ADS_1
Mau tak mau Delia pun berdiri dari posisinya dan mereka pun keluar dari dalam villa.
Bersambung...