
Kini Delia, Roy, Mama Delia, Tante Leni dan Sarto supir dirumah Mama Lastri sudah berada di kantor polisi.
Mereka pun satu-satu di interogasi untuk dimintai keterangan. Delia, Roy dan Pak Sarto diperiksa sebagai saksi, Tante Leni di periksa sebagai korban sedangkan Mama Delia diperiksa sebagai pelaku tindak pidana.
Setelah melalui proses kurang lebih dua jam penginterogasian, polisi pun menganjurkan untuk mereka saling berdamai. Tapi Tante Leni bersikuku, tidak mau berdamai dengan Mama Delia dan tetap ingin Mama Delia di proses hukum
Mama Delia pun tidak tinggal diam, ia juga melaporkan Mama Lastri dan Tante Leni atas perbuatan tidak menyenangkan dan pencemaran nama baik karena tadi Tante Leni mengatakan Delia hamil anak hasil open BO.
Masalah semakin panjang, tapi sayangnya laporan Mama Delia mental karena Mama Delia tidak memiliki bukti yang kuat atas perbuatan tidak menyenangkan Tante Lastri pada Mama Delia maupun Delia. Sekalipun ada Roy sebagai saksi, namun kesaksian Roy tidak cukup kuat karena Roy ada di pihak Mama Delia.
Selain karena tidak ada bukti perbuatan tidak menyenangkan yang di lakukan Tante Leni, Mama Delia juga tidak bisa membuktikan kalau anak yang di kandung Delia memanglah anak Kriss. Polisi pun menyarankan untuk Delia melakukan tes DNA dan hasil tes DNA itu dijadikan sebagai bukti.
Sayangnya test DNA saat janin masih dalam kandungan sangat berisiko tinggi dan bisa menyebabkan keguguran. Delia, Mama Delia dan Roy tidak mau mengambil resiko tinggi itu.
"Pokoknya saya gak mau tahu yah Pak, pokoknya Ibu itu harus di hukum!!! Sudah membuat keributan, melakukan penyerangan, melakukan perbuatan tidak menyenangkan, memfitnah saya dan kakak saya, pokoknya Ibu itu harus dihukum yang seberat-beratnya." Kata Tante Leni dengan suara menggelegar.
"Iya Ibu, sabar yah. Semua butuh proses. Kami sudah menerima laporan Ibu dan kami akan proses, untuk masalah hukuman, biar nanti hakim yang memutuskan." Jawab Pak Polisi.
Polisi pun berjalan mendekati Mama Delia untuk melakukan penahanan.
__ADS_1
"Mari Bu ikut saya. Kami harus menahan ibu sementara." Ucap Pak Polisi.
Mata Delia membulat sempurna saat polisi mengatakan ingin menahan sang Mama.
"Kok ditahan Pak?" Tanya Delia.
"Memang prosedurnya begitu Bu." Jawab Pak polisi.
"Pak, apa gak bisa penahanannya ditangguhkan?" Tanya Roy.
Pak polisi menggelengkan kepalanya.
Tak ingin Mama-nya berada dalam balik jeruji, Delia pun mendekati Tante Leni untuk memohon agar Tante Leni mencabut laporannya.
Melihat Delia berjalan mendekati Tante Leni, cepat-cepat Roy menahan tangan Delia.
"Mau ngapain kamu?!" Tanya Roy.
"Minggir kamu!!! Aku mau ngomong sama Tante Leni agar mencabut laporannya!! Aku gak mau Mama aku tidur di balik jeruji hanya karena masalah aku."
__ADS_1
"Gak usah!! Kita sewa pengacara untuk bebasin Mama kamu! Jadi kamu jangan coba-coba memohon sama iblis itu!!"
"Minggir aku bilang!!! Ini urusan aku Roy. Kamu jangan terlalu jauh ikut campur urusan aku!!" Bentak Delia sambil menepis tangan Roy dari tangannya.
Delia pun kembali berjalan menuju Tante Leni. Sedangkan Roy hanya bisa pasrah dan menatap punggung Delia dari belakang.
Sesampainya Delia di depan Tante Leni, Roy yang sejak tadi matanya tidak lepas dari punggung Delia tidak menyangka dengan apa yang sedang Delia lakukan.
Delia berlutut didepan Tante Leni.
"Tante, tolong maafin Mama saya, tolong cabut laporannya Tante, saya mohon." Mohon Delia sambil terisak.
"Cih!!! Gak sudi saya maafin Mama kamu!!" Balas Tante Leni.
"Tante, saya mohon maafkan Mama saya. Saya akan melakukan apapun permintaan Tante, asalkan Mama saya tidak ditahan." mohon Delia.
Mendengar itu senyum licik pun mengembang di pipi Tante Leni. Ia senang karena semua susunan rencana yang ia susun sebelum dirinya datang kerumah Mama Lastri berjalan sesuai rencana.
Bersambung...
__ADS_1