Restu

Restu
BAB 39


__ADS_3

BAB 39.


Bu Roro keluar terlebih dahulu, disusul kemudian Sherin dan Yulia, Sherin tampak memukau dalam balutan kebaya modern berwarna madu, Bima tak berani menatap, takut pingsan di tempat.


Tiba tiba bu Roro tampak diam membisu, mendadak seluruh tubuhnya gemetar ketakutan, wajahnya pucat, berkali kali mengedipkan mata nya, tapi tetap saja ia tak sedang salah lihat, atau berhalusinasi.


Pria itu berdiri di sana, suara raungan dan teriakan pria itu dahulu seolah kembali menggema di telinganya, menghadirkan kembali riak rasa yang seharusnya sudah tak ada lagi dalam hatinya.


“Kang mas Baskoro …” ujar bu Roro Lirih.


Flashback.


Sepasang muda mudi itu berjalan bergandengan mendekati pendopo, pemuda itu menyandarkan sepeda nya di sudut pagar yang rimbun oleh tanaman liar, wajah muda dan kepolosan mereka jelas sekali menampakkan rasa takut, maklum saja yang akan mereka hadapi adalah pria yang terkenal keras, teguh pendirian, dan arogan, semuanya terkumpul menjadi satu kesatuan kokoh, karena dia juga adalah putra tertua dari keluarga Narendra, keluarga bangsawan paling berpengaruh di masa itu.

__ADS_1


Baskoro Narendra, siapapun akan tahu siapa dia, pria paling berpengaruh di Jogja pada masa itu, keluarga Narendra adalah pemilik dari puluhan ribu hektar tanah, karena itulah, baskoro menjadi pria paling disegani pada masa itu, karena banyak petani dan buruh yang bergantung pada nya.


“Kang mas … aku takut.” bisik si gadis.


“Sama, aku juga, tapi jika kita tak minta izin kang mas Baskoro, aku tidak berani menikahimu, bisa bisa kita di usir dari Jogja, dan tidak diakui sebagai keluarga besar Narendra,” pemuda itu pun merasakan jantung nya berdebar tak karuan.


Sepasang muda mudi itu, tak lain adalah Arya dan Roro.


Arya bertemu dengan Roro yang hanya berasal dari keluarga biasa, karena itulah selama 3 bulan berpacaran, ini adalah kali pertama Arya berani membawa Roro bertemu dengan Baskoro, kakak tertuanya.


Dengan maksud memperkenalkan sekaligus ingin mempersunting Roro sebagai istrinya, Arya tahu bahwa Baskoro tidak akan mengizinkan keturunan Narendra menikah dengan rakyat biasa, tapi ia sangat mencintai Roro dan tak rela kehilangan gadis itu.


Arya menggandeng tangan kekasih nya, Roro memeriksa penampilannya sekali lagi, meski gaun sederhana yang ia pakai adalah gaun terbaiknya, tapi entah kenapa, Roro masih merasa gaunnya kurang pantas jika di pakai untuk menemui pria terhormat seperti Baskoro.

__ADS_1


Roro duduk bersimpuh di lantai, sementara Arya masuk kedalam rumah untuk memanggil kakak sulungnya, tangan Roro mulai mengeluarkan keringat dingin, dan wajahnya pun mulai pucat ketakutan.


Tak lama kemudian, Arya dan baskoro pun keluar dari dalam rumah, sudah bisa ditebak apa yang terjadi 10 menit kemudian.


Lengkingan suara Baskoro menggema di setiap sudut pendopo, “tidak akan aku izinkan kamu menikahi gadis itu, dia bahkan tak memiliki darah bangsawan sama sekali.”


“Tapi aku mencintai Roro mas,” Arya mulai bersimpuh di hadapan Baskoro.


“Tahu apa kamu soal cinta, *sing penting lanang ketemu wadon isok tetep nikah, ora perlu cinta.” 


#*yang penting laki laki bertemu dengan wanita bisa tetap menikah, tidak perlu cinta.


Perkataan Baskoro memang logis dan benar adanya, tapi harus ada rasa rela dan senang jika sepasang manusia mengikat janji pernikahan, barulah keduanya bisa menerima dan akhirnya timbul rasa cinta.

__ADS_1


__ADS_2