
BAB 38.
“Aaaaarrrgggg ….”
suara pekik amarah Cokro lagi lag terdengar menggema di dalam ruangannya.
Braaakk !!!
Prang !!!
Disusul kemudian barang barang di atas meja berhamburan ke lantai, sebagai bentuk pelampiasan amarah yang kini menggumpal di kepalanya.
Bagaimana tidak, kedatangan para pemegang saham beberapa jam yang lalu, seolah membuat semua aib nya terbongkar, fakta di lapangan menunjukkan bahwa para pegawai Cokro secara rapi menyembunyikan bukti penggelapan dana dari hasil keuntungan Food & Fresh, pantas saja para petani yang seharusnya sudah menerima semua pembayaran, justru baru menerima 30% uang muka, bahkan ada yang belum menerima uang pembayaran sama sekali, dan mesin pabrik yang seharusnya mendapatkan maintenance terbengkalai begitu saja.
Hancur sudah kesombongannya selama ini, Tuhan memulihkan kondisinya dengan mudah seperti membalik telapak tangan, keserakahan yang dahulu ia rasakan kini seperti bumerang yang berbalik menyerangnya, bahkan modal yang dahulu ia dapatkan dengan cara curang dari Arandhana, kini tuhan ambil dengan caranya, sungguh ia sedang merasakan sakit yang teramat sangat, dan Food & Fresh kini hanyalah cangkang kosong tanpa isi, tinggal menunggu keputusan pailit dikeluarkan oleh pihak yang berwenang.
Entah kini akan dikemanakan wajah, nama baik, dan status keluarga terhormat yang selama ini ia banggakan.
Sungguh jika Tuhan sudah berkehendak, tak ada kesombongan yang abadi di muka bumi, pada saatnya semuanya akan hancur, rata dengan tanah, begitulah hakikatnya manusia, yang hanya berasal dari saripati tanah, bersujud di tanah, menghamba pada keMaha Besaran Sang Pencipta Alam semesta, tapi menyimpan kesombongan dan rasa angkuh sebesar gunung, maka murkalah sang pemilik dan pencipta alam semesta.
***
Siang itu persiapan di keluarga Sherin sudah sangat maksimal, bu Roro tak mau ada satupun yang kurang, maklum saja, informasi yang bu Roro dapatkan dari Bima, bos besar Twenty Five Hotel langsung yang akan menjadi perwakilan dari keluarga besar Bima, tentu bu Roro tak ingin kehilangan muka dihadapan atasan sang putri dan calon menantunya.
“Bu … sebaiknya ibu duduk dulu, pihak EO sudah menyiapkan semuanya, Ibu hanya perlu duduk manis menyambut kedatangan calon besan ibu.” Bujuk Tari sang menantu pertama yang kini sedang hamil dan menanti kelahiran anak ketiganya.
__ADS_1
Bu Roro pun ikut duduk sejenak, tapi tetap saja terlihat rasa cemas dan gugup di wajahnya, padahal yang akan dilamar adalah putrinya. “ibu tetap tidak bisa tenang, ibu deg deg an, karena ini pertama kalinya ibu menerima lamaran,”
“Iya bu, Tari mengerti, minimal ibu duduk agar tidak kelelahan,”
Bu Roro pun menurut.
“Nah begini lebih baik, ada mas Bagas, Fandy dan istrinya Yulia, percayakan pada mereka,” bujuk Tari sekali lagi.
“Yul, kue kue pesanan ibu sudah datang?”
“Sudah semua bu, tadi pihak Bakery nya langsung yang mengantar semuanya dengan selamat tanpa ada yang kurang.” Jawab Yulia yang kebetulan melintas di depan bu Roro, Yulia harus kerja ekstra 2x karena Tari yang sedang hamil besar tak bisa banyak membantu.
Pihak keluarga bu Roro sudah berdatangan, tak ketinggalan para tetangga yang khusus diminta oleh keluarga agar menjadi saksi acara lamaran Sherin dan Bima.
20 menit kemudian tamu yang ditunggu pun tiba, bukan jumlahnya yang membuat para tetangga Sherin tercengang, tapi para tamu yang datang menggunakan mobil mobil mewah yang tidak main main harganya, Tiga pria muda berdiri berjajar membuat para tamu kebingungan yang manakah yang akan menjadi calon mempelai, ini karena Bima berdiri diapit oleh si kembar Geraldy, sementara para istri mereka masih berdiri di belakang bersama rombongan para wanita, Stella dan Sinta berdiri mengapit Eyang putri, sementara Gadisya dan Bella berdiri di belakang mereka, tak lupa di tangan mereka membawa seserahan yang akan menjadi tanda jadi yang akan mengikat Bima dan Sherin, yah yang kini berada di depan, adalah bima dan si kembar senior, disusul kemudian Alexander, eyang kakung dan Kreshna.
Kevin terdiam dan mengingat, “Nothing … tidak ada sama sekali, bahkan uang 500 rupiah pun tidak.” aku Kevin yang kala itu baru saja sadar dari pingsan langsung di todong untuk menikahi Gadisya.
hahaha … Bima dan Andre tertawa kecil.
“Memang seserahanmu buat Bella apa?” Kevin balik bertanya.
“Ada dong, sepasang cincin.”
“Iya cincin wasiat, dari Jo.” kali ini Bima dan Kevin yang bicara bersamaan.
__ADS_1
Membuat Andre hanya bisa memanyunkan bibirnya, kemudian ketiganya tersenyum bersama.
Rombongan Bima dipersilahkan duduk di ruangan sederhana yang kini sudah di sulap menjadi ruangan dengan dekorasi mewah, maklum saja, Keluarga Sherin ingin menyambut para tamu dengan sambutan yang benar benar pantas, mengingat akan adanya hubungan spesial diantara kedua keluarga.
“Sebentar, saya panggil dulu sang calon mempelai nya,” Fandy berdiri dan menghampiri kamar tempat Sherin di rias.
Bu Roro keluar terlebih dahulu, disusul kemudian Sherin dan Yulia, Sherin tampak memukau dalam balutan kebaya modern berwarna madu, Bima tak berani menatap, takut pingsan di tempat.
Tiba tiba bu Roro tampak diam membisu, mendadak seluruh tubuhnya gemetar ketakutan, wajahnya pucat, berkali kali mengedipkan mata nya, tapi tetap saja ia tak sedang salah lihat, atau berhalusinasi.
Pria itu berdiri di sana, suara raungan dan teriakan pria itu dahulu seolah kembali menggema di telinganya, menghadirkan kembali riak rasa yang seharusnya sudah tak ada lagi dalam hatinya.
“Kang mas Baskoro …” ujar bu Roro Lirih.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
nah kan? ada apakah gerangan dengan kang mas Baskoro? sampai membuat bu Roro gemetar ketakutan.