
Enam bulan kemudian.
Di sebuah klinik bersalin di Labuan Bajo.
"Ayo terus Del..." ucap Mama Delia memberi semangat pada Delia.
"Eeeeeghhhh..." Delia mengejan sekuat tenaganya sesuai arahan Bidan.
"Ayo Bu sedikit lagi, kepalanya udah kelihatan." Ucap Bidan yang membantu persalinan Delia.
Delia pun menarik nafas dalam-dalam lalu kembali mengejan setelah Bidan memberi arahan.
Dan...
Oweeeek... oweeeek... oweeek..
Suara tangis bayi yang begitu keras memecah suasana tegang dalam kamar bersalin.
"Selamat yah Bu, bayi-nya perempuan, tidak ada yang kurang, semua normal." Ucap Bidan memberitahu kondisi fisik bayi perempuan itu.
Setelah satu menit, Bidan pun memotong tali pusat bayi dan memberikan vitamin pada bayi Delia lalu meletakkan bayi perempuan itu diatas dada Delia untuk di lakukan skin to skin dan IMD.
"Ini dia si cantik." Ucap Bidan sambil meletakkan bayi perempuan itu.
"Ma, ini nyata kan Ma, ini anak Delia kan Ma?" Tanya Delia terharu, ia masih tak percaya kalau dirinya berhasil melahirkan satu nyawa kedunia.
__ADS_1
"Iya sayang, ini anak kamu, cucu Mama." Jawab Mama Delia tak kalah terharu.
"Hai cucu Eyang.. kamu cantik banget. Sehat selalu yah Nak, jadi kebanggaan untuk kita semua terutama untuk Mama kamu. Mama kamu tuh perempuan hebat loh Nak." Lirih Mama Delia pada cucu perempuan-nya yang belum di beri nama.
Setelah kurang lebih satu jam, bayi Delia pun diangkat dari atas tubuh Delia untuk ditimbang dan diukur untuk pengisian surat keterangan lahir untuk pembuatan akte kelahirannya nanti.
***
Setelah kurang lebih dua jam dalam kamar bersalin, Delia dan bayi-nya pun sudah bisa di pindahkan ke bangsal.
Roy yang sejak tadi tak beranjak dari depan pintu kamar bersalin pun langsung berdiri dari duduknya saat Delia keluar dari dalam kamar bersalin.
"Sini, aku bantu." Ucap Roy saat melihat Delia jalan perlahan sambil memegang tiang infus.
Sedangkan Mama Delia memegang tangan Delia yang lain, sedangkan bayi Delia di bawa oleh Bidan.
Sesampainya di bangsal, Roy pun membantu Delia berbaring di ranjang pasien dan bayi Delia di letakkan Bidan disamping Delia.
"Halo anak cantik." Roy menyapa bayi perempuan Delia.
"Sudah ada nama-nya Del?" Tanya Roy.
Delia menganggukkan kepalanya.
"Tapi aku takut Mama gak setuju sama nama yang udah aku siapin." Ucap Delia.
__ADS_1
"Memangnya apa nama yang udah kamu siapin?" Tanya Mama Delia.
"Krislyn Delisha, Ma." Jawab Delia.
Mama Delia diam sejenak sambil menarik nafasnya, lalu tak lama menganggukkan kepalanya.
"Tapi kita panggil Lisha aja yah." Ucap Mama Delia.
Delia menganggukkan kepalanya.
***
Tiga tahun kemudian.
Hari-hari berlalu, tak terasa sudah dua tahun sekarang umur Lisha.
Restoran milik Roy pun juga sudah berkembang sangat pesan, bahkan Roy sekarang sudah memiliki kafe dan resort di Bali.
Karena Roy sudah memiliki kafe dan resort di Bali, maka tanggung jawab kafe dan homestay yang di Labuan Bajo Roy serahkan sepenuhnya pada Delia.
Hari ini weekend, sudah dari dua minggu yang lalu Delia berjanji pada Lisha untuk mengunjungi Roy di Bali karena sudah dua minggu Roy sudah tidak datang ke Labuan Bajo karena dua minggu yang lalu banyak sekali wisatawan yang datang ke kafe dan resortnya.
Setelah satu jam lebih mengudara, akhirnya Delia dan Lisha pun sampai juga di bandara Bali.
"Itu Daddy Roy." Ucap Delia sambil menunjuk Roy yang berdiri di depan pintu penjemputan, Roy tidak melihat mereka karena Roy menghadap ke arah lain dan sedang menelpon.
__ADS_1
Dan panggilan Lisha untuk Roy, Daddy karena Roy tidak mau di panggil Uncle dan hanya mau dipanggil Daddy. Tujuan Roy, agar Lisha merasa memiliki sosok seorang Ayah. Umur Lisha yang masih dua tahun, membuat Roy maupun Delia belum memberitahu pada Lisha tentang Ayah kandung Lisha.
Bersambung...