
BAB 29.
Kring
Nafas Cokro memburu, ia memegangi dadanya yang mulai berdenyut nyeri, lagi lagi ketakutannya menjadi kenyataan.
Telepon di meja Wita berdering, pengaduan konsumen pertama, langsung di terima oleh Wita sendiri.
"Bagaimana ini pak? layanan konsumen sedang kebanjiran pengaduan dari konsumen, bahkan ada yang meminta uang mereka dikembalikan."
Kini bukan hanya dada Cokro yang terasa nyeri, kepalanya semakin berdenyut hebat, dan keringat dingin mulai bermunculan di wajah dan sekujur tubuhnya.
Dengan tangan masih bergetar, Cokro menghubungi tim pengawas mesin mesin pabrik.
Prak …
"Ah … si * Alan !!! Kemana mereka semua?"
Cokro membanting telepon di meja kerjanya, karena setelah beberapa kali panggilan, hasilnya tetap sama, yakni panggilan sudah dialihkan.
Tok
Tok
Tok
Wita memasuki ruangan sang atasan.
"Pak … ada pak Robi di luar."
"Robi?" Tanya Cokro, karena ia tak mengingat semula karyawannya.
"Iya pak, Humas kita." Wita membantu Cokro mengingat.
"Ah … baiklah, suruh masuk."
Tak lama seorang Pria berkacamata pun masuk.
"Maaf pak, saya menghadap tiba tiba." Robi meminta maaf, karena sudah datang tanpa dipanggil.
__ADS_1
"Tidak papa, ada masalah apa?"
"Baru saja kita kedatangan tamu, asisten tuan Geraldy,"
Cokro agak terkejut, tapi tak berlangsung lama, "untuk keperluan apa?" Tanya Cokro, ia mulai berpikir, apakah karena baru saja ia membatalkan pertemuannya dengan putra dari pemilik hotel tersebut, hingga mendadak ia mengirimkan asisten pribadinya untuk datang.
"Dimana sekarang asistennya? Aku akan menemuinya." Dengan dada masih bergemuruh Cokro berdiri dari kursinya.
"Tunggu pak, ada informasi tambahan dari security pabrik." Cegah Robi ketika Cokro hendak berjalan menuju pintu.
"Apa lagi?" Tanya Cokro tak sabar.
"Security bilang, tuan Bima tiba tiba datang, dan memaksa ingin melihat proses produksi, padahal security sudah mengatakan bahwa harus ada izin dulu dari anda." Lapor Robi gugup, karena mereka sudah kecolongan membiarkan orang asing memeriksa pabrik tanpa surat izin.
"Baiklah, tak masalah, Twenty Five Hotel adalah customer pertama dan terlama yang kita layani, mungkin mereka ingin sidak saja, aku sendiri yang akan menemui asisten tuan Geraldy." Cokro mencoba berbicara tenang, agar dadanya juga berhenti bergejolak.
"Baiklah pak, mari saya antar,"
Robi mendampingi Cokro menuju ruang pertemuan, disana sudah ada Bima yang menanti, tak jauh beda dengan Cokro, Bima pun sedang berusaha keras menahan gemuruh di dadanya, entah ada kisah apa di balik tabir masa lalu ayah nya dan juga Cokro, Bima sungguh penasaran ingin mendengarnya langsung dari Cokro, tapi tentu saja tak akan semudah itu, karena Bima tak bisa serta Merta menuding Cokro tanpa bukti kuat, jadi kini yang bisa ia lakukan hanya melihat dan menunggu.
Cokro menarik nafas perlahan dan menghembuskannya, sebelum ia membuka pintu, dan wajah tampan nan rupawan dengan baju formal itu tengah menunggunya, bahkan ia langsung berdiri melihat kedatangannya, untuk sesaat Cokro terpaku, lagi lagi ia seperti melihat bayangan pria itu, pria yang sudah berpuluh puluh tahun menjadi bayangan gelap dalam rumah tangganya, kini sekuat tenaga ia harus menguatkan dirinya agar bisa kembali berhadapan dengan Arandhana, eh bukan, entah siapa dia, kenapa bisa memiliki paras serupa dengan Arandhana.
"Pak Bima, perkenalkan ini pemilik Food & Fresh, Pak Cokro Adhiwangsa." Robi memperkenalkan atasannya tersebut, untuk mencairkan suasana.
Dan Cokro semakin berdesir hebat, karena bukan hanya wajah yang serupa, bahkan senyum dan suara nya pun sama persis dengan Arandhana.
Dengan susah payah, Cokro menyambut uluran tangan Bima, padahal telapak tangan nya benar benar basah karena keringat.
"Cokro Adhiwangsa."
"Bima Narendra."
DUARRRRR!!!
Cokro merasa seperti tersambar petir ribuan volt, rupanya dia adalah anaknya Arandhana, pantas saja wajah dan suaranya sama persis.
'Jadi anaknya selamat? Tapi ada maksud apa dia mendatanginya?' Cokro bermonolog.
"Robi tinggalkan kami," perintah Cokro.
__ADS_1
"Baik pak," jawab Robi patuh.
Robi pun meninggalkan Bima dan Cokro.
Kedua pria itu saling berhadapan dengan ribuan tanya dalam benak masing masing.
"Apa maksud kedatangan anda tuan?" Tanya Cokro dengan nada tak suka.
"Saya hanya mengikuti perintah atasan saya, sesekali melakukan sidak, dan saya minta maaf jika anda kurang suka saya melakukan sidak seperti ini."
"Lalu?" Cokro benar benar sudah tak bisa menjaga kewarasannya, yang ada di kepalanya hanyalah amarah dan cemburu pada pria di hadapannya, padahal sejatinya bukan Bima yang mendiami hati istrinya, baik Bima maupun Dhana tak ada kaitannya dengan kondisi rumah tangga nya dengan Wulan saat ini.
"Sebelum saya meninggalkan pabrik, saya menerima kabar dari tuan Geraldy, bahwa ada kerusakan pada makanan kaleng yang anda kirimkan, dan kini tugas saya menanyakan ada apa sebenarnya."
"Ada masalah apa di pabrik kami, sama sekali tidak ada hubungannya dengan hotel anda."
"Oh iya, lalu jika salah satu tamu hotel kami keracunan makanan apakah anda bersedia kami tuntut?"
Cokro gelagapan mendengar ancaman Bima.
"Dan masalah ini bukan hanya masalah anda pribadi, tapi masalah kami juga, walaupun bisnis utama kamu adalah pada pelayanan hotel, tapi menyediakan makanan dengan kualitas terbaik juga menjadi prioritas utama, karena kami yang berhubungan langsung dengan konsumen." Bima berusaha setenang mungkin.
"Saya mohon maaf yang sebesar besarnya, karena baru beberapa saat lalu saya mendapatkan laporan kerusakan mesin pabrik, mungkin sampai beberapa hari kedepan, kami akan memeriksa dan memperbaiki kerusakan mesin pabrik kami, karena itulah proses produksi juga terpaksa kami hentikan dan tentu saja kami juga akan bertanggung jawab pada kerugian yang sudah kami timbulkan."
"Baiklah akan saya sampaikan pesan anda pada atasan saya." Bima tak berniat memperpanjang pertemuannya dengan Cokro, karena saat ini saja rasanya ia sudah seperti hampir meledak.
Bima berdiri dan bermaksud undur diri, ia memasang kembali kancing jasnya, dan ketika ia dan Cokro bersalaman, tiba tiba Cokro mendekat kemudian berbisik di telinga nya.
"Apa sesungguhnya maksud kedatanganmu?, Aku yakin ada hal lain yang ingin kamu lakukan selain sidak."
Bima menaikkan sudut bibirnya, dari kata kata Cokro saja ia tahu bahwa Cokro sedang mewaspadai kedatangannya.
"Saya tidak paham maksud anda tuan?" Tanya Bima.
'Baiklah Cokro jika kamu memancing, aku akan ikuti permainanmu, kebetulan sekali aku ingin tahu ada apa di masa lalumu dengan ayahku.' Bima bermonolog.
"Kamu putra Arandhana kan? Apa tujuanmu mendatangi pabrikku?"
Kali ini Cokro tak bisa lagi membendung rasa penasarannya, pikirannya benar benar sedang kacau, hingga tanpa sadar ia membuka kartunya sendiri.
__ADS_1
"Oh apakah anda mengenal ayah saya? Waaah saya benar benar terharu, selama ini saya nyaris tidak pernah bertemu dengan teman teman orang tua saya." Tanya Bima pura pura terkejut.
Cokro lebih terkejut lagi, karena ia sudah salah bicara, jadi apakah pria di hadapannya ini benar benar tidak tahu apa apa? Sepolos itukah dia? Sampai ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dibalik kasus bunuh diri ayah dan ibunya.