
"Bukan kah kamu sudah menandatangani surat pernyataan untuk pergi dari kota ini, jadi kita harus pergi dari kota ini." Ucap Mama Delia lagi.
"Ma..." lirih Delia sambil berjalan mendekati sang Mama lalu memeluknya.
"Maafin Delia harus mengambil keputusan ini Ma. Delia hanya ingin kita hidup tenang. Delia sangat tahu siapa mereka, perlawanan apapun yang akan kita lakukan itu akan sia-sia. Yang ada mereka akan semakin kejam memfitnah kita. Delia hanya memikirkan masa depan anak Delia, Ma." Ucap Delia.
"Iya sayang Mama tahu. Maafin Mama juga yang mengandalkan emosi Mama. Setelah Mama pikir-pikir lagi, buat apa kita menghabiskan tenaga, pikiran, dan materi untuk membalas manusia-manusia seperti itu, Mama yakin Tuhan sedang menyiapkan karma yang lebih menyakitkan untuk mereka." Balas Mama Delia.
"Ayo sekarang kita pergi dari kota ini. Kita pulang saja ke kampung." Ajak Mama Delia.
"Jangan ke kampung Ma, Delia gak mau Mama di hujat di kampung gara-gara Delia." Tolak Delia.
"Kalau gak mau ke kampung, terus kita mau kemana lagi? Gak mungkin kita tetap disini. Tempat ini masih bisa dijangkau mereka." Balas Mama Delia.
"Bagaimana kalau kita ke Labuan Bajo saja." Tiba-tiba Roy yang baru datang membuka suaranya.
Sontak Delia dan sang Mama menoleh kearah Roy.
"Labuan Bajo?"
__ADS_1
Roy menganggukkan kepalanya sambil berjalan mendekati Delia dan Mama Delia.
"Bagaimana, kamu setuju?" Tanya Roy.
Delia dan Mama Delia saling tatap.
"Aku udah mengundurkan diri dari tempat kerja ku dan rencana-nya aku mau buka kafe dan membangun homestay disana, kan sekarang Labuan Bajo sudah terkenal di mancanegara. Jadi banyak wisatawan yang datang." Ucap Roy memberi alasan kenapa dirinya mengusulkan Labuan Bajo.
"Apa karena aku makanya kamu berhenti kerja, Roy?" Tanya Delia.
Roy menggelengkan kepalanya.
"Aku memang udah lama merencanakan ini Del. Bahkan pembangunan homestay sudah 50%. Memang rencana-nya aku mau keluar dari tempat kerja setelah pembangunan homestay selesai, tapi karena kamu pengen pergi dari kota ini, yah gak pa-pa lah kalau kita pindah kesana dalam waktu dekat ini. Nanti disana kita tinggal sementara di lantai 2 kafe. Gimana?"
"Oke deh Roy, aku setuju."
"Bagus deh. Tapi lusa yah kita baru kesana, biar aku telepon dulu orang disana untuk menyiapkan kamar untuk kalian berdua." Kata Roy.
Delia dan Mama-nya menganggukkan kepala.
__ADS_1
***
Sebulan kemudian.
Roy, Delia, Mama Delia sudah berada di Labuan Bajo.
Delia diberi kepercayaan oleh Roy untuk menjadi manajer di kafe milik Roy.
Pembangunan homestay juga sudah rampung. Selain homestay, Roy juga membangun rumah kecil untuk tempat tinggal yang sebenarnya ia bangun untuk tempat tinggal dirinya, tapi karena sekarang ada Delia dan Mama-nya, Roy pun memberikan rumah itu untuk Delia dan Mama-nya tempati.
Usia kandungan Delia juga sudah tiga bulan lebih, meski perut Delia belum terlalu buncit tapi bentuk tubuh pastinya sudah mulai berubah khususnya di bagian panggul, apalagi Delia sudah melewati masa morning sickness, membuat selera makan Delia dua kali lipat dari biasanya dan itu juga membuat berat badan Delia menjadi bertambah dan pastinya tubuh Delia menjadi semakin montok.
Perlahan Delia juga sudah melupakan Kriss dan tak ada lagi niatan untuk mencari tahu tentang Kriss. Bukan karena perjanjiannya dengan Tante Leni, tapi Delia sudah memutuskan hanya akan fokus untuk anaknya saja.
Singapura.
Meninggalkan Delia yang kondisi mentalnya jauh lebih baik, di Singapura Kriss belum baik-baik saja.
Meski dokter sudah memintanya beristirahat total selama kurang lebih sebulan, tetap saja Kriss mencuri-curi waktu untuk pergi ke klub dan bermabuk-mabukan.
__ADS_1
Melihat anaknya masih sering bermabuk-mabukkan, Mama Lastri yang masih ada disana untuk memastikan Kriss tidak pulang ke Indonesia sampai keadaan benar-benar tenang, bukannya kasihan melihat Kriss yang depresi, malah terus-terusan mengulur waktu agar Kriss bisa pulang ke Indonesia dengan alasan kesehatan Kriss.
Bersambung...