
BAB 42
SAH
SAH
SAH
Suara para tamu undangan menggema di setiap sudut ruangan, mereka adalah saksi dari ikrar pernikahan Bima dan Sherin, deru nafas kelegaan bercampur rasa bahagia menghiasi senyum dan tawa sepasang pengantin baru tersebut, bukan hanya mereka, tak ketinggalan orang tua dan kerabat mempelai pun tak kuasa membendung tangis bahagia.
Tak terkira bahagia, lepas sudah semua beban, resah dan gelisah menanti restu, bahkan kata maaf yang sebelumnya tak terpikirkan akhirnya terucap dengan ikhlas, akhirnya Eyang Baskoro yang dengan segala sifat arogannya di masa lalu mampu mengucap kata maaf untuk sang cucu perdana, walau Eyang tak pernah memeluk dan menimangnya ketika bayi, namun kebanggaan itu tetap melimpah ruah memenuhi setiap sudut relung hatinya.
Begitu pun bu Roro kini sudah melupakan rasa dendam dan sakit hatinya di masa lalu, bu Roro sudah memberikan restu jauh sebelum ia mengetahui bahwa Bima adalah keturunan ningrat berdarah biru, bahkan tanpa status itu pun bu Roro sudah jatuh cinta pada sosok lelaki yang kini menyandang status sebagai menantunya tersebut, dan kini kenyataan bahwa menantunya adalah seorang bangsawan sudah bu Roro anggap sebagai bonus dari Tuhan.
Bima mencium kening Sherin usai mereka saling memasang cincin pernikahan di suasana haru bercampur bahagia mengiringi peresmian mereka sebagai sepasang suami istri.
Sesuai permintaan eyang kakung dan eyang putri, rencananya resepsi pernikahan akan diadakan di Jogja, tentu saja tak ada yang menolak ide tersebut.
Kini acara ramah tamah berlangsung, beberapa kerabat bu Roro datang silih berganti siang itu guna memberikan ucapan selamat serta doa, untuk kebahagiaan keluarga baru tersebut, suasana kekeluargaan begitu kental terasa, Andre yang masih berada di lokasi acara sampai harus membawa Bima menyingkir, karena ia ingin sejenak berbincang sambil menikmati kudapan.
"Tak kusangka, benda pusaka mu yang sudah berkarat itu akhirnya menemukan batu asahan special," celetuk Andre, kini mereka sedang menikmati es campur sebagai kudapan siang.
Uhuk
Uhuk
Uhuk
Tiba tiba Bima tersedak, dan Andre justru tertawa puas.
Bima menatap atasan sekaligus sahabatnya tersebut dengan gumam tak jelas dari bibir nya.
"Biasa aja dong liatnya," Gurau Andre, kemudian ia melingkarkan lengannya ke pundak Bima, bibirnya mendekati telinga Bima kemudian berbisik, "atau kamu mau tutorialnya? Aku bersedia jadi mentor, 100% GRATIS buat kamu."
Andre tersenyum menyeringai, menatap wajah sang pengantin baru tersebut.
Bima balas mendekati Andre, "aku tak memerlukan tutorial, karena aku yakin nanti malam sudah bisa langsung beraksi, gak kaya kamu yang harus menunggu 40 hari baru dapat jatah." Balas Bima.
__ADS_1
Wajah Andre masam seketika, teringatlah bagaimana ia dulu mati matian menahan hasratnya karena Bella masih menyimpan rasa pada mantan calon suaminya.
"Si*Alan … kenapa kamu jadi ngomongin itu?"
"Apa boleh buat, kamu yang mulai." Balas Bima, Bima meletakkan cangkirnya yang sudah kosong, "By the way, nanti jangan sembarang masuk apartemen ku, sekarang aku sudah punya istri." Bima menegaskan.
"Iya … Takut amat sih." Jawab Andre.
Dari kejauhan Andre melihat sang istri sedang celingukan mencari cari keberadaan dirinya, Andre pun melambai, dan Bella berjalan mendekatinya, Andre tersenyum melihat Bella, si cantik pemilik hatinya itu nampak semakin mempesona dalam balutan kebaya classic modern.
"Ada apa sayang?" Tanya Andre ketika Bella sudah berada di dekatnya, pria 2 anak ini bahkan mencium telapak tangan Bella tanpa segan.
"Sepertinya kita sudah terlalu lama meninggalkan anak anak, bau saja nanny menelepon, si kembar sedang rewel, ayo kita pulang." Ujar Bell yang kini gelisah karena sudah lebih dari 2 jam ia dan Andre meninggalkan anak anak mereka.
"Tapi … aku sedang memberi tutorial malam pertama buat Bima." Jawab Andre dengan wajah serius, walau ucapannya hanya gurauan.
PLAK !!!
Seketika Andre menerima pukulan di punggungnya.
Dan Andre hanya bisa meringis menatap Bima yang wajahnya kini entah seperti apa bentuknya.
Bima hanya menjulurkan lidah nya. "Dah sana Pulang." Usir Bima.
"Ntar kalo dah berhasil cetak gol Ceritain ke aku yah?" Andre menaik turunkan alisnya.
Tentu saja Bella jadi merasa malu sendiri mendengar obrolan gesrek suami dan sahabatnya tersebut.
"Aw … sakit sayang." Rengek Andre, yang mendapat hadiah cubitan di pinggang dari Bella.
"Bima mau di cubit juga?" Tanya Bella gas pada kedua pria di hadapannya, sahabat tapi kadang seperti Tom & Jerry.
"Nggak usah," tolak Bima yakin. "Buat dia aja, semuanya juga aku ikhlas."
Bella pun menyeret lengan suaminya meninggalkan Bima diantara para tamu.
Karena tak tahu harus bicara dengan siapa lagi, Bima pun mencari cari Gadis yang kini sudah sah menjadi istrinya.
__ADS_1
Namun nihil karena ia tak juga menemukan keberadaan Sherin.
"Om …" Rafa menyapa manakala melihat Bima celingukan mencari cari seseorang.
"Eh …" Bima terkejut, tapi kemudian reflek menoleh.
"Nyari siapa?" Tanya Rafa Polos.
"Mmm … itu … cari …" Mendadak Bima malu, ia menggaruk rambutnya yang tak Gatal, apakah terlalu memalukan kalau ia sedang mencari Sherin? Apa orang akan akan berpikir ia sedang ngebet, eh tapi kenapa jadi memusingkan prasangka orang?.
"Cari tante yah, tadi aku lihat tante masuk kamar, gerah katanya." Jawab Rafa polos, kemudian berlalu dengan ponsel di tangannya.
Mendengar kata kata 'gerah' mendadak pikiran Bima jadi traveling kemana mana, yang mana kata kata 'gerah' berhubungan dengan buka baju, kemudian menyalakan pendingin udara, atau kipas angin, atau ??? MANDI.
Berkali-kali Bima memukul keningnya, entah kenapa tiba tiba pikiran nya mulai berfantasi, membayangkan istri nya yang tengah gerah kemudian berdiri di bawah kucuran air dingin.
Bima tak habis pikir mendadak pikirannya jadi gesrek, apa otaknya mulai bergeser gegara beberapa saat lalu Andre membahas malam pertama?.
Ataukah ia sudah terlalu lama jadi bujang lapuk?
Plak
Plak
Plak
Berkali kali Bima memukul pipi nya sendiri, ia bahkan meringis menahan sakit akibat pukulan tangannya sendiri.
Bagas tiba tiba datang dari arah belakang. "Mas tahu apa yang kamu pikirkan, Sherin ada di kamarnya, masuk saja, toh kalian sudah resmi menikah, tak ada yang akan menegur apalagi melarang," bisik Bagas dengan kerlingan jahilnya.
Wajah Bima sontak memerah, ternyata bukan cuma Andre yang bisa membaca gelagatnya, Bahkan kakak iparnya pun sudah sukses membuatnya malu.
"Bima …"
"Eh … iya, ada apa bu??"
Rupanya bu Roro yang kini ganti menyapanya.
__ADS_1
"Ada pakdhe Cokro di depan, dia bilang ingin berbincang denganmu."
Bima mengangguk ramah, karena tak ingin membuat ibu mertuanya tersinggung, sebenarnya perasaannya mulai tak enak, ada apakah gerangan? Kenapa Cokro mendadak ingin bertemu dengannya? Padahal ia sudah memasrahkan urusan Food & Fresh pada sang Maha Adil, biarlah tuhan menunjukkan sifat keadilannya pada sang hamba.