
BAB 32.
Dia ruangan remang remang itu, Cokro tertidur, ruangan yang selama 2 minggu belakangan jadi kamar pribadinya, tepatnya semenjak pertengkaran terakhirnya dengan sang istri, sisi baik Wulan adalah, dia tetap bersedia mengurus dirinya dirinya dan Pras anak mereka, hal itulah yang membuat Cokro rela hanya memiliki raga Wulan ada saja, entah kenapa hati Wulan seakan membatu, hingga tak bisa mencintai pria yang berada di sisinya selama lebih dari 20 tahun.
Dan semenjak pertengkaran terakhir mereka, Wulan menghindari suaminya, terlebih ia melihat sosok wajah kekasih di hatinya hadir kembali dalam raga orang lain, tentu membuat Wulan semakin terguncang, begitu muda, tampan, gagah, dengan pesona magis yang memikat, hatinya yang sekian lama dingin dan gersang seakan kembali bersemi, memunculkan sebuah harapan baru, tapi kemudian ia menyadari bahwa dirinya sudah tak semuda dulu, waktu terus bergerak maju, dan manusia tak mungkin kembali muda, Wulan baru tersadar bahwa pria itu bukanlah Arandhana, sang pujaan hati, tapi siapa dia???
Ada banyak tanya melintasi benaknya.
"Pak kita ada masalah lagi!"
Salah seorang divisi lapangan yang sedang berada di puncak Dieng melaporkan.
Cokro yang semula masih malas membuka mata, tiba tiba segar bugar seperti usai disiram dengan air pegunungan.
"Masalah apa lagi?" Tanya Cokro frustasi, karena masalah sebelumnya saja belum semuanya teratasi, kini sudah datang masalah yang lainnya.
"Para petani mogok pak, meminta pelunasan Sekarang juga, jika tidak, mereka tak mau melanjutkan proses penaburan bibit kentang, karena tidak ada modal untuk membeli bibit berkualitas, bukan hanya di Dieng pak, yang di Lembang dan Malang pun meminta kejelasan proses pembayaran mereka."
Tentu saja hal itu tak bisa Cokro lakukan, karena modal terus berputar, dan pembayaran dari hotel, restoran dan beberapa pasar swalayan tertunda akibat kasus kerusakan mesin pabrik, yang berimbas pada rusak nya seluruh makanan kaleng yang sudah dikemas dan dikirim ke lokasi tujuan, sudah mengeluarkan begitu banyak modal dan berakhir dengan rusaknya makanan kaleng tersebut, tentu saja pihak hotel di restoran dan pasar swalayan menolak membayar Rp karena itu lah untung yang di harap kedatangan nya, justru buntung yang datang menghampiri, sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Brak!!
Cokro yang kesal melemparkan ponselnya, hingga membentur dinding, benda pipih itu tergeletak mengenaskan di lantai, dengan banyak retakan.
Begitu banyak masalah yang kini membelit Food & Fresh, usai berita tenggelamnya armada mereka, disusul dengan kerusakan mesin pabrik, semalam manager keuangan mengatakan bahwa beberapa investor mulai mena re ik modal mereka dari Food & Fresh, dan kini para petani yang menopang jalannya Food & Fresh mengadakan aksi mogok tanam, karena kekurangan modal membeli bibit, rasanya Cokro ingin meledakkan kepalanya saat ini juga.
Cokro keluar dari ruang kerjanya, ruangan yang kini terasa sesak baginya, padahal 10 tahun terakhir ruangan kerja ini lah yang menemaninya membangun Food & Fresh.
__ADS_1
Tujuannya adalah kamar utama di ia ingin mandi dan menyegarkan diri, dari penat yang kini menghimpit hidupnya.
Ketika membuka pintu kamarnya, ia hampir bertabrakan dengan Wulan sang istri, seperti pagi pagi biasanya, Wulang kini terlihat segar, usai mandi dan berdandan, inderanya begitu terbuai dengan aroma sabun bercampur dengan lulur tradisional yang kini menguar dari tubuh Wulan, walau usia mereka tak lagi muda, tapi Wulan termasuk tipe wanita yang bisa menjaga dan merawat kecantikan tubuhnya dengan jamu jamuan dan lulur tradisional, hingga di usia yang sudah lebih dari 50 tahun tak mampu memudarkan kecantikan nya.
Semarah apapun Cokro, ia tetep pria normal yang bisa bangkit jika berhadapan dengan wanita yang ia cintai, ditambah kini Wulan yang baru selesai membersihkan dan merawat dirinya, di mata Cokro, pagi ini Wulan terlihat begitu menggoda.
Cokro menutup pintu dan menguncinya, kemudian berjalan mendekati Wulan, Wulan yang kini merasa makin tidak nyaman berada di dekat Cokro, perlahan memundurkan langkahnya.
Melihat Wulan berjalan mundur, memvuat Cokro mengepalkan tangannya, "kenapa kamu mundur, kamu menghindariku?"
"Iya." Jawab Wulan dingin.
"Kenapa? Aku masih suami sah mu, dan hanya aku berhak menyentuhmu." Kata Cokro mencoba mengukuhkan dirinya yang masih berstatus suami Wulan.
"Tak usah mengulangnya, aku pun tahu hal itu, aku hanya sedang tak ingin melayani mu."
"Tapi, aku sedang ingin, dan aku harus mendapatkannya." Bisik Cokro ketika Wulan sudah terhimpit di dinding.
Tok
Tok
Tok
Terdengar suara ketukan, namun Cokro sedang tak ingin menghiraukan nya, yang ia inginkan hanya menuntaskan kebutuhannya, sementara Wulan yang tak bisa diajak bekerja sama, semakin keras Wulan melakukan perlawanan, semakin kasar aksi yang Cokro lakukan, hingga Wulan meneteskan air mata, karena mulai merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya, mendengar isakan Wulan membuat Cokro menghentikan aksinya, dengan sekuat tenaga Wulan mendorong tubuh Cokro yang semula menempel di tubuhnya, dan tubuh Cokro terhempas begitu saja di sofa, sementara Wulan segera mendekati pintu.
Usai menghapus air mata nya, Wulan pun membuka pintu, senyumnya merekah manakala melihat wajah tampan Pras putra tunggalnya, "eh tumben pulang?" Sapa Wulan pada Pras.
__ADS_1
Pras mencium tangan Wulan, "iya ma, ada yang mau aku omongin sama papa dan mama." Jawab Pras sopan.
"Ayo … kita sarapan sekalian, papa mu belum mandi," bohong Wulan, sengaja ia lakukan agar Pras tak menyadari apa yang baru saja terjadi.
Pras hanya mengangguk, tanpa bertanya kembali.
.
.
.
.
.
.
Udah pada tahu kan apa yang akan Pras katakan, Kehebohan apa lagi yang akan terjadi di kehidupan Cokro?
.
.
.
.
__ADS_1
.
Wkwwkwkwk … 👻