Restu

Restu
BAB 34


__ADS_3

BAB 34.


Setelah memastikan sang ibu istirahat nyaman di kamarnya, Sherin pun kembali ke teras menemui Bima, Bima sedang memeriksa ponsel, ketika Sherin kembali keluar,  “aku kira mas sudah pulang.”


“Mana mungkin aku pulang, jika aku belum melihat senyummu hari ini.”


Sherin tersipu malu, kemudian menyembunyikan wajahnya di pundak Bima.


“Tanggung amat, kenapa gak peluk sekalian sih?” protes Bima yang langsung membawa Sherin ke pelukannya.


“Mas, ibu Bilang, mas harus langsung pulang,” bisik Sherin lirih.


“Sebentar saja, aku benar benar bahagia hari ini, semoga setelah ini Ibu Bisa segera merestui kita.”


“Amin.” ucap Sherin diantara debaran jantungnya yang sedang menggila seperti orkestra musik India.


"Hei … wajahmu merah," 


"Nggak"


"Iya benar, aku gak bohong." 


"Pasti bohong, mas kan gak lihat wajahku,"


"Kamu sendiri, memang dari mana kamu tahu wajahmu tidak merah? Kamu kan gak pegang cermin?" 


Gurauan receh dan candaan yang ringan tapi membuat keduanya semakin mengeratkan pelukan diantara sepoi sepoi angin malam.


"Apa hari ini ibu merepotkan mu mas?" Tanya Sherin lirih.


Bima mengusap punggung Sherin. "Tidak, ibu banyak berbincang dengan bu Nani, kepala panti asuhan, sementara aku? Seperti biasa menyenangkan anak anak," 


mereka masih berbincang dengan kondisi terus berpelukan, “apa ibu juga menyinggung hubungan kita?” 


“Mmm kamu maunya gimana?” tanya Bima iseng.


“Kok balik nanya sih? kan aku duluan yang tanya.” protes Sherin.

__ADS_1


“Mmm … tidak, ibu sama sekali tidak bicara apa apa, bahkan beliau memejamkan mata.” jawab Bima jujur.


cup


Sherin memberanikan diri memberikan kecupan di pipi Bima, sesaat Bima membeku, mengusap pipinya sesaat, kemudian tersenyum, “sudah mulai nakal sekarang … hmmm?”


“Aku belajar darimu,”


“Oh iya? aku tak pernah mencium pipi, tapi langsung mencium bi …” dengan cepat Sherin membungkam bibir kekasihnya.


“Jangan dilanjutkan, aku malu.”


Bima tertawa lebar, melihat Sherin yang malu malu menyembunyikan wajahnya.


“Baiklah, tapi berikan ciuman untuk pipi yang ini.” Bima menunjuk salah satu pipinya.


cup


“Sebuah ciuman lembut lagi lagi mampir di pipi Bima.


menjaga ibuku hari ini.”


***


“Menurut saya, kasus ini sudah tidak ada harapan, yang pertama, ini sudah sangat lama berlalu, batas waktu penuntutan sudah berakhir beberapa tahun yang lalu, dan bukti bukti nya sangat mungkin sudah dilenyapkan, dan lagi saat itu Food & Fresh belum seperti saat ini, yang sudah menjelma menjadi perusahaan besar pengolahan makanan, jadi mereka sudah terdaftar secara hukum.”


Siang itu Andre sengaja mengundang pengacara Ferdinan Tumongga, pengacara yang sejak lama menjadi pengacara kepercayaan Alexander.


“Jadi apa yang harus kita lakukan?” tanya Bima penasaran.


“Kecuali pihak Food & Fresh terutama tuan Cokro, untuk mengakui perbuatannya.” imbuh pengacara Ferdinan.


Bima membuang nafas kasar, ia sendiri pun bingung, apakah harus mengajukan tuntutan, karena kini jari jari othor sudah bekerja dengan baik, sedikit demi sedikit menguras kekayaan cokro, dengan berbagai kejadian.


***


Gadis itu berjalan perlahan menyusuri lorong ruang rawat inap sebuah rumah sakit, agak gugup sebenarnya, karena ini pertama kalinya ia memberanikan diri menemui kedua orang tua kekasihnya, ini karena kemarin ia mendengar dari Pras, bahwa papa nya pingsan setelah mendengar berita kehamilannya.

__ADS_1


‘Nak … hari ini kita bertemu kedua eyangmu,’ Dyah mengusap perutnya yang masih rata, seraya berbicara lirih dengan bayinya, ia bahkan tak memberitahu Pras perihal kedatangannya, sungguh penasaran dengan reaksi kekasihnya.


Dyah berhenti di depan pintu kamar tempat Cokro menerima perawatan, info yang Dyah dapatkan adalah Cokro dirawat karena serangan jantung ringan, meski begitu keluarga harus tetap mewaspadai jangan sampai ada serangan jantung kedua.


tok


tok


tok


Dengan tangan basah karena berkeringat, Dyah memberanikan diri mengetuk pintu.


Sesungguhnya ia pun tak ingin hamil sebelum menikah, tapi mendengar pengakuan Pras yang akan dijodohkan dengan gadis lain, Dyah menjadi tak rela, Dyah dan Pras sudah berpacaran sejak sekolah menengah, cinta mereka sudah terlalu kuat untuk dipisahkan, jadi ketika Pras mengungkapkan keinginan gilanya, Dyah tak mampu menolak walau separuh hatinya mengatakan jangan, tapi semua itu mengalahkan rasa takut nya akan kehilangan pria yang sangat ia cintai.


“Masuk,” terdengar suara sahutan dari dalam, jelas sekali itu bukan suar pras.


Perlahan sekali Dyah menggeser pintu di hadapannya, setelah mengatur nafas perlahan, ia pun melangkah masuk.


Dyah mengedarkan pandangannya, tak nampak siapapun disana, hanya ada pria paruh baya di atas tempat tidur sedang menyaksikan tayangan berita siang.


Tanpa diberitahu pun Dyah sudah tahu bahwa pria itu adalah Cokro papa dari Pras kekasihnya.


Cokro menatap dingin pada gadis muda yang kini berdiri dan diam menunduk di hadapannya.


“Siapa kamu?” tanya Cokro dingin.


Dyah semakin bingung, ia pikir pras ada di sini, karena beberapa saat lalu ia memastikannya sendiri dengan menghubungi Pras, tapi nyatanya tidak ada siapapun di ruangan ini.


“Saya  … cari Pras om.” jawab Dyah kikuk.


“Kamu dengar pertanyaan om? kamu siapa?” balas Cokro ketus.


Dyah semakin gugup, ia meremat ujung bajunya.


“S … s … ssaya Dyah om?” jawab Dyah lirih.


Cokro terdiam, wajahnya kini semakin dingin dan menyeramkan, nampak seki jika ia tak menyukai kehadiran Dyah.

__ADS_1


__ADS_2