Restu

Restu
BAB 2. MBOK IJAH


__ADS_3

Pukul 6 pagi putra sudah siap di depan vila


"hallo pak saya sudah siap di depan"


Suara putra menelepon natan


"oke tunggu sebentar"


"baik pak"


Natan segera melangkah keluar, bergegas pulang ke mansionnya.


Tin tin


"silakan masuk den" sapa mbok ijah yang sudah menunggu dia di rumah karena dia sudah hafal kalau bosnya keluarga malam akan pulang pagi pagi.


"iya mbok makasih, gausah siapin sarapan ya saya makan di luar"


"baik den"


"mas putra mau kopi atau teh?"


"kopi aja mbok kaya biasa ya" jawab putra karena memang sudah kebiasaan setiap pagi di mansion natan akan di siapin minun oleh asisten rumah tangganya.


"baik"


Natan lalu meninggalkan putra dan mbok ijah naik ke kamarnya dan menyiapkan diri untuk pergi ke kantor


Sedangkan putra duduk di mini bar mansion tersebut di temani mbok ijah


"mas putra ini di minum kopinya"


"iya mbok makasih ya"


"sama sama" jawaban sambil tersenyum


"mas putra udah punya calon belum? Kapan mau nikah?" tanya mbok ijah ke putra.


Sedangkan putra yang di tanya seperti itu tidak tersinggung malah tertawa.


"Belum mbok belum ada calonnya" jawabnya malu


"masa belum ada orang ganteng gini"


"iya mbok belum ganteng doang ga jaminan punya banyak cewek mbok" jawabannya tertawa


"alah mas putra bisa aja"


"Ehem"


Sebuah deheman menghentikan perbincangan keduanya.


Siapa lagi kalau bukan natan penguasa mansion tersebut

__ADS_1


"sudah pak? Mari kita berangkat sekarang"


"iya" jawabnya cuek


Di mobil keheningan melanda diantara keduannya.


"hari ini jadwal gua apa aja?"


"hari ini ada rapat sama client jam 10 dan rapat pembahasan kinerja karyawan jam 2"


"selain itu?"


"selain itu hanya mengecek dokumen di perusahaan aja pak"


"oke. Gausah formal formal kalau lagi berdua. Udah sering di ingetin juga"


"gausah deh kalau kerja ya harus formal tan"


"serahlah"


Sampai di kantor semua pegawai sudah siap di meja masing masing karena natan tidak pernah mentolerir kesalahan dan ketidak disiplinan efek menyinggung dia langsung pemecahan.


Memang natan tidak kenal ampun dengan karyawannya karena menurutnya orang yang sudah di bayarnya harus bekerja sesuai keinginannya.


"Pagi pak" sapa karyawannya di sepanjang jalan menuju ruangannya


Bukannya di jawab natan bahkan tidak pernah melirik itu semua.


"iya buset makin kinclong aja itu muka"


"udah ganteng, muda duh idaman"


Mereka bergosip ria setelah melihat natan di kantor.


Memang natan mempunyai muka yang tidak bisa di anggurkan pujaan wanita, bagaimana tidak, muda, ganteng, sukses, merupakan lelaki impian semua wanita.


Termasuk namina pegawai senior di perusahaan tersebut yang sudah mengejar ngejar natan selama 2 tahun ini tapi sayang natan bahkan tidak pernah menganggapnya.


Tok tok tok


"masuk"


"selamat pagi pak, saya mau nganterin berkas berkas hari ini" suara namina meminta izin masuk ke ruangan natan


"taruh di meja situ"


"baik pak"


Lalu natan tidak berbicara lagi, fokus ke berkas yang lagi di pelajari


"Kenapa masih di situ?" tanya natan saat melihat namina masih berdiri kosong di samping meja sambil melihat ke arahnya.


"eh anu pak, mm bapak mau teh apa kopi? Biar saya bikinkan sekalian"

__ADS_1


"tidak silakan keluar" perintah natan ke namina


" tapi pak kopi saya enak lo pak" namina mendekat sambil tersenyum bahagia


"berhenti disitu" perintah natan marah ke namina.


Karena terjejut namina segera berhenti dengan air mata menumpuk di kelopaknya.


Tok tok tok


"pak natan seka.." suaranya terputus melihat ke arah namina


"Belum di suruh masuk jangan masuk dulu" omel natan ke putra asistennya karena memang sudah kebiasaan putra asal masuk kalau di ruangan natan


"eh maaf pak"


"hmm.."


Namina yang sadar langsung meluncur keluar dari ruangan karena malu dengan kehadiran putra.


"Kenapa?" tanya natan lagi karena putra hanya diam di depan pintu


"eh iya pak saatnya untuk rapat dengan client"


"oh yasudah siapin berkasnya ayo langsung berangkat"


"baik pak"


Mereka menyelesaikan aktivitas harianya seperti biasa hingga pukul 7 malam baru pulang.


Saat sampai di mansion keadaan gelap gulita, natan dan putra mengeryitkan alisnya karena tidak biasaanya karena mbok ijah tidak pernah meninggalkan mansion tanpa ijin darinya.


"kok gelap si mbok ijah ke mana?" tanya putra ke natan


Tidak ada jawaban natan langsung berlari ke dalam rumah mencari mbok ijah perasaannya tidak enak.


"jawab dulu kek elah" gerutu putra ke natan tapi dia langsung ikut menyusul ke dalam


"mbok.." panggilnya ke ke mbok ijah tapi tidak ada jawaban. Karena memang di rumah itu hanya ada mbok ijah sendirian.


"put lihat ke kamarnya"


"iyaa" jawabannya lalu berlari ke belakang


"mbok.." panggil natan mengelilingi dapur dan ruang keluarga tapi tidak melihat mbok ijah


"nat natan.." panggil putra ke natan dari arah kamar mandi sebelah kamar mbok ijah


"iyaa mana mbok i.. Put kenapa mbok ijahnya?" tanya natab panik karena melihat keadaan mbok ijah terbaring lemah di lantai kamar mandi dengan darah yang mengalir dari kepalanya


"angkat put angkat bawa rumah sakit sekarang" perintahnya panik


Tapi sayang nyawanya sudah tertolong mbok ijah meninggal di perjalanan karena kehabisan darah dan benturan di otaknya.

__ADS_1


__ADS_2