Restu

Restu
BAB 21. SIAPA DIA?


__ADS_3

Namina hari ini berangkat pagi pagi mengunjungi mansion natan, bukan mengunjungi tepatnya memata matai natan penasaran dengan cewek yang dia ajak ke restoran kemarin siapa,


Tentu cewek yang marah di restoran kemarin ialah namina.


"sepi amat" ucapnya sambil melihat bangunan tersebut dari samping jalan depan bangunan persis dia berada di dalam mobil berkaca hitam pekat jadi dia yakin kalau tidak terlihat dari luar.


Lama menunggu dia belum melihat natan ada di dalam ataupun ada aktivitas seperti tidak ada penghuninya.


Dia menunggu cukup lama hingga sebuah mobil memasuki mansion tersebut mobil yang sering digunkan natan untuk berangkat kerja.


Namina sontak langsung menatap lekat lekat pada mobil tersebut, ternyata hanya putra yang keluar dari mobil lalu memasuki mansion tersebut.


"sial" ucapnya kesal


"udahlah ga guna nunggu disini" ucapnya kembali hendaknya berbalik menuju kantor sebelum sebelum natan dan putra keluar mansion dengan seorang wanita muda di belakangnnya.


Namina yang terkejut langsung menghentikan mobilnya menatap pada wanita tersebut.


"loh kok bukan yang kemarin?" gumamnya bingung


"siapa ya tu orang" pikirannya kacau lalu menjalankan mobilnya menjauhi mansion berangkat ke kantor.


Sampai di kantor natan juga baru sampe depan belakang dengan natan.


"eh pak natan kesempatan ini" gumamnya ketika melihat natan


Duk duk duk


Dia berlari menghampiri arah natan sambil memasang senyum termanisnya, menyembunyikan kemarahan dan kesedihannya.


"pagi pak natan, pak putra" ucapnya sambil tersenyum


"pagi" jawab natan cuek sedangkan putra hanya melihatnya diam


"pak natan mau saya bantu bawakan tasnya?" tanya namina mencoba keberuntungannya


"tidak usah" jawb putra tegas lalu mengajak natan cepat masuk ke dalam

__ADS_1


"huh" kesalnya melihat natan dan putra lalu masuk kedalam kantor juga.


Setelah bekerja seharian dia masih bingung mencari tau siapa wanita tersebut dan memutuskan untuk memata matai natan mengikuti kegiatannya.


Sedangkan natan sudah pulang saat sore hari, akhir akhir ini dia selalu pulang awal tidak seperti biasanya yang hingga larut.


Sampai di mansion dia ingin makan malam bersama putra dan vina.


"Vin vina " panggilnya Saat sampai di mansion.


Ternyata vina sedang memasak di dapur.


"Iy mas natan" jawab vina berteriak tidak menghampiri natan


Putra yang ada di belakangnnya langsung berjalan menuju dapur.


Natan ikut berjalanke dapur mendahului putra.


"masak apa vin?" tanya natan ke vina


vina sedang kerepotan menggoreng ikan hingga tidak terlalu memperhatikan natan dan putra.


Natan berdiam dibelakang mereka kesal melihat vina dan putra lalu memilih meninggalkan dapur.


Dia memilih mandi dan ganti baju berjalan menuju kamarnya.


Hingga suara ketukan pintu terdengar olehnya.


Ceklek


Natan membuka pintu, ternyata namina.


"kamu ngapain ke sini?" tanya natan langsung


Namina keliatan gugup bingung mau menjawab apa.


"emm anu pak anu.."

__ADS_1


Natan diam cukup lama sebelum dia mendapat ide.


Dia segera mengajak namina kedalam.


"masuk dulu, kamu belum makan malam kan? Makan di sini aja sekalian" ucap natan kenamina


"eh.. Boleh pak?" dia menjawab dengan mata berbinar bahagia


"boleh, ayo"


"iya pak"


Natan mengajak namina ke meja makan, saat putra dan vina juga sedang menyiapkan makan malam.


"duduk nam"


Suruhnya ke namina untuk duduk di sampingnya di meja makan.


"iya pak" jawabnya tersenyum ke natan.


Sedangkan natan hanya diam menunggu vina dan putra selesai menyiapakan makanan.


Dia diam diam menoleh ke arah vina melihat reaksinya.


Rencana natan memang untuk melihat bagaimana reaksi vina jika dia membawa seorang wanita.


Tapi ternyata vina hanya diam cuek lalu asik dengan putra.


"vin kamu makan di belakang aja ya" ucap natan setelah vina selesai mengatur makanan di meja


"baik mas" jawabnya sambil menunduk


"nat lu kenapa si, biasanya juga makan bareng" tanya putra kesal ke natan


"gak papa" jawabnya cuek


Sedangkan vina sudah berjalan ke belakang.

__ADS_1


"biar lu ga seenaknya deh sama putra sampek gua ga lu anggap" batin putra tersenyum ke vina mengharapkan vina tidak seperti tadi lagi.


__ADS_2