Restu

Restu
Bab 46


__ADS_3

"Ini Bu kunci kontrakannya." Ucap Delia sambil menyerahkan kunci kontrakannya.


Sang pemilik kontrakan pun menerima kunci dari tangan Delia.


"Mudah-mudahan gak sial orang yang nempatin selanjutnya." Julid salah satu ibu-ibu yang ada disana.


Para ibu-ibu itu tahu kalau sekarang Delia sedang hamil di luar nikah. Karena ulah siapa lagi kalau bukan Tante Leni.


Setelah mendapat perintah dari sang Kakak untuk membuat Delia cepat-cepat pergi dari ibukota, Tante Leni dengan sigap langsung pergi menemui pemilik kontrakan tempat Delia. Tante Leni pun memberitahu pada sang pemilik kontrakan kalau kini Delia tengah hamil anak hasil open BO.


Jelas saja itu membuat sang pemilik kontrakan mengamuk dan langsung mengusir Delia. Delia ikhlas, namun Delia meminta waktu untuk seminggu pergi dari kontrakan itu. Karena selain ingin mengepak barang-barang terlebih dahulu. Uang pesangon yang dijanjikan manager personalia juga baru cair tiga hari setelah Delia di berhentikan dari perusahaan.


Mendengar kata-kata pedas ibu-ibu julid, hati Roy memanas, Roy pun hendak membuka suara untuk membalas omongan pedas ibu-ibu julid itu, namun Delia menahan tangan Roy.


"Ayo." Cepat-cepat Delia menarik tangan Roy dan pergi dari tempat itu menuju mobil Roy yang terparkir di depan gang.


"Kamu kok diem aja sih Del, ibu-ibu itu ngomongin kamu!! Telinga kamu gak panas apa denger bisik-bisik mereka tadi!!" Protes Roy.


"Udah lah Roy jangan di pikirin. Gak akan ada artinya juga kan kita memberi klarifikasi pada orang yang sudah terlanjur mencap diri kita negatif? Aku gak bisa menutup mulut-mulut orang yang membicarakan hal negatif tentang aku, yang aku bisa lakukan cukup menutup telinga ku agar aku tidak mendengar kata-kata mereka." Balas Delia.

__ADS_1


Roy menghela nafasnya.


"Kasihan banget kamu Del, gara-gara Kriss dan keluarganya, kamu jadi begini!!" Ucap Roy sambil mengelus rambut Delia.


"Kok jadi melow-melow gini sih?! Kan kamu bilang aku gak boleh melow-melow, biar dedeknya gak ikutan melow di dalam." Balas Delia sambil tersenyum.


Roy pun tersenyum membalas senyuman Delia.


***


Setelah kurang lebih dua jam perjalanan, akhirnya mobil yang Roy kendarai sampai juga di villa-nya di puncak.


Roy menganggukkan kepalanya.


"Ayo turun." Ajak Roy.


Roy dan Delia pun turun dari dalam mobil.


"Villa kamu besar banget Roy. Kayaknya aku gak pantes deh tinggal disini." Ucap Delia merasa tak enak.

__ADS_1


"Kok ngomong gitu sih? Kamu pantes kok, Del. Jangan merasa gak enakkan gitu akh."


"Nanti kalau orangtua kamu gak terima aku tinggal disini gimana?"


"Aku udah ngomong sama orangtua aku, aku juga udah bicarain tentang masalah kamu. Dan mereka malah ngedukung aku untuk bantu kamu. Jadi buang pikiran-pikiran negatif mu, oke." Balas Roy.


"Oh iya, kamu udah hubungi Mama kamu untuk kesini?" Tanya Roy.


Delia menganggukkan kepalanya.


"Mungkin besok baru berangkat dari kampung, karena mobil dari kampung ke kota kan cuma ada dua kali dalam seminggu." Balas Delia.


"Jadi di jemput diterminal? Atau kamu udah kasih tau Mama kamu untuk langsung kesini?"


"Ya di jemput di terminal dong Roy, Mama Aku mana tau alamat villa ini. Jangankan Mama aku, aku aja gak tau alamat villa ini." Balas Delia.


"Iya juga yah. Hehehehe..." Cengir Roy sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ya udah yuk masuk. Kita beres-beresin barang mu." Roy pun menggandeng tangan Delia untuk masuk ke dalam villa-nya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2