Restu

Restu
BAB 30


__ADS_3

BAB 30.


Andre, Bima dan Sherin berjalan beriringan meninggalkan lobi hotel di malam itu mereka menjadi yang terakhir meninggalkan hotel, terlalu sibuk membicarakan Food & Fresh, dan Cokro, termasuk diantaranya mereka mulai mengambil langkah untuk mulai melakukan penyelidikan Food & Fresh, serta berkonsultasi dengan pengacara.


"Aaahh senangnya besok weekend … aku tidak menyangka begitu bahagia bertemu lagi dengan hari sabtu dan minggu." 


Bima dan Sherin menatap heran pada atasan mereka.


"Kenapa kalian menatapku begitu?" Tanya Andre.


"Selamat berlibur pak direktur." Ucap Bima, namun di telinga Andre lebih terdengar seperti sebuah ejekan.


"Kamu mengejekku?" 


"Di bagian mana dari kata kata ku yang terdengar seperti sebuah ejekan?" Tanya Bima Tak terima.


"Melihat wajahmu saja aku seperti merasa di ejek, aku rasa kita sudah terlalu lama bersama." 


"Hah … sepertinya kamu benar, apa sebaiknya kita berpisah?" 


Sherin yang berada di antara keduanya jadi pusing sendiri, sesaat lalu di ruang kerja, Andre dan Bima terlihat kompak dan serasi manakala membicarakan masalah pekerjaan, jadi kenapa sekarang tiba tiba jadi bertengkar?.


Sherin yang kebingungan, hanya menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.


"Sherin, jika kami berpisah, kamu pilih siapa, tetap bersamaku atau kamu ikut si breg**sek ini?" Tanya Andre, ia bersikap seolah olah tengah mengatakan rencana perpisahan dengan kekasihnya.


Sherin jadi semakin bingung, sebenarnya kedua atasannya ini sedang membicarakan apa? Mereka sedang bergurau atau bercanda? Dan Sherin jadi semakin pusing manakala Andre dan Bima menatapnya penuh harap.


Tapi dengan yakin Sherin memeluk lengan Bima, mereka saling melempar senyum sesaat, tak merasa bahwa kini di dekat mereka ada yang merasa terabaikan.


"Haiiis … sudah kuduga, dah lah kalian pulang aja, minta restu sama ibu nya Sherin, biar aku tidak merasa ngenes sendirian." Andre berlalu meninggalkan sepasang kekasih yang masih saling menatap tersebut. 


#haruskah othor buat mereka berbesan 👻😁 keluarga sultan, besanan sama turunan ningrat darah biru, kaya apa anggun lemah lembutnya anak Bima??


"Halo … sayangku aku merindukanmu?" Gegas Andre menghubungi belahan jiwanya, tak terima bahwa kini ia seakan merasa kembali menjadi pria jomblo jika berada di antara Bima dan Sherin.


"Kalau begitu cepatlah pulang, kenapa malam sekali baru mengabariku, anak anak baru saja tidur." Jawab Bella dari seberang dengan nada kesalnya, karena sejak tadi ia kerepotan sendiri, walau sudah di bantu nanny, tapi tetap dia sendiri yang harus men****ui bayi bayinya.


"Baiklah … 20 menit lagi aku tiba."


"Tidak usah ngebut, santai saja, aku tidak akan kemana mana." 


"Ya Iyalah … karena kamu tak bisa jauh dariku." 


Bella hanya tersenyum mengangguk, seakan akan sang suami bisa melihatnya. 


Panggilan pun berakhir.


"Aku mencintaimu sayang." Bisik Andre ketika ponselnya kembali menampilkan wallpaper wajah Bella dan si kembar, Andre tak tahu sejak kapan ini bermula tapi kini dadanya terasa begitu sesak, penuh dengan perasaan cinta untuk Bella dan anak anak nya, hingga nyaris tak ada lagi ruang kosong yang tersisa.

__ADS_1


***


"Om Bimaaaaa…" suara teriakan empat bocah laki laki itu saling bersahutan, siapa lagi jika bukan para keponakan Sherin, rupanya mereka sedang mengunjungi bu Roro.


Keempat Bocah itu kompak mengerubuti Bima, seperti semut mengerubuti gula.


"Om kok malem amat pulang nya?" Tanya silung Rafi.


"Iya, tadi di kantor sedang banyak pekerjaan." Jawab Bima apa adanya.


"Benar tante?" Tanya Rafi memastikan.


"Iya …" jawab Sherin. "Ayo masuk dulu mas, pasti di dalam ada mas Fandy dan mas Bagas."


"Iya om … ayo masuk dulu, tadi mama masak pepes ikan," pamer Rafi.


"Boleh juga, om boleh numpang makan dong." Goda Bima pada lara keponakan Sherin.


"Horeeee … om Bima mau masuk." Seru ke empat bocah itu kegirangan.


Bima dan Sherin saling melempar senyuman, kemudian berjalan mengikuti Rafi, Rafa, Radit, dan Ricko.


Benar saja rupanya di dalam ruang makan, para orang dewasa sedang menikmati makan malam.


"Lho ada Bima rupanya,” pekik Fandy ketika melihat kedatangan Bima bersama Sherin.


“Assalaamualaikum bu …” sapa Bima sebelum menyapa kakak kakak Sherin.


“Waalaikumsalaam,” Jawab bu Roro.


Hanya begitu saja sudah membuat Bima bahagia, karena sebelumnya bu Roro selalu ketus ketika berhadapan dengannya.


Begitu pun kakak kakak Sherin yang tampak tersenyum melihat perubahan bu Roro.


“Ibu sehat?” 


Sunyi, tak ada sahutan.


“Maaf kalau Sherin sering pulang malam, karena menunggu saya menyelesaikan pekerjaan.” Bima melanjutkan kalimat nya.


“Om … ayo main, mumpung besok sekolah libur, kemarin papa beli mainan baru.” rengek Rafa, yang tak sabar menunggu orang orang dewasa berbasa basi.


“Nanti yah, kasihan om Bima baru pulang kerja, biar om Bima makan dulu.” bujuk Bagas pada putranya.


“Janji yah?”


Dan Bima hanya bisa tersenyum mengangguk, tak tega rasanya bila harus menolak keinginan anak anak, begitulah Bima sejak dulu, mungkin karena terbiasa mengasuh adik adik nya semasa di panti asuhan.


Sherin bergegas menyimpan tas kerja nya di kamar, setelah mencuci tangan ia menghampiri meja makan, dan tanpa mempedulikan tatapan keempat kakak dan ibu nya, Sherin melayani Bima seperti seorang istri yang tengah melayani suami nya di meja makan. 

__ADS_1


“Terima kasih.” ucap Bima pada gadis yang kini memenuhi hatinya.


Sherin hanya tersenyum mengangguk, banyak kata yang ingin ia usapkan untuk menghibur lara hati kekasihnya, namun kondisi mereka yang belum halal membuatnya tak bisa berbuat banyak, selain meluaskan hati dan perasaan sabarnya demi memberi dukungan pada Bima.


Makan malam berlanjut, “oh iya Bim, Sherin bilang kamu habis dari Jogja?” tanya Fandy beberapa saat kemudian.


“Iya mas,” jawab Bima di tengah aktivitasnya mengunyah makanan.


“Asli Jogja?” tanya Bagas ikut kepo.


“Iya mas, ayah dari Jogja, Ibu dari Solo.” jawab Bima jujur, walau tak memberi embel embel lain demi menarik simpati bu Roro.


“Kata Sherin, sejak kecil kamu tinggal di panti asuhan?” 


“Iya sih mas, baru belakangan ini aku menemukan keluargaku, dan minggu kemarin adalah pertemuan pertama kami setelah terpisah selama 25 tahun.” jawab Bima polos.


uhuk uhuk uhuk


tiba tiba bu Roro tersedak, entah terkejut, entah iba, atau perasaan apa, tiba tiba ia merasa bersalah telah menolak memberi restu pada lelaki baik di hadapannya.


“Bu … hati hati mengunyahnya.” Tari memijat lembut tengkuk ibu mertuanya.


Bu Roro mengangguk, tapi matanya masih tampak berair, dan sedikit batuk, Sherin bergegas mendekati bu Roro kemudian membantunya minum.


“Sudah lebih baik bu?” bisik Sherin.


Bu Roro mengangguk, “lanjutkan saja makanmu, ibu tidak papa.” 


Sherin pun kembali ke kursinya, dan melanjutkan makan.


Sementara itu, tak ada yang menyadari, bahwa kini dalam benak Bu Roro mulai berkecamuk banyak hal.


.


.


.


.


.


.


.


.


ada apa hayooo 🤭

__ADS_1


__ADS_2