
BAB 36.
Hari hari berlalu berganti minggu, pernikahan Pras diselenggarakan walau tanpa restu Cokro, syukurlah Wulan masih bersedia memberikan restunya, cukup sudah tragedi pernikahan nya dengan Cokro saja yang berlangsung walau ia tak cinta pada pria itu, kini nyatanya ia ikut berbahagia melihat Pras berbahagia dengan gadis yang ia cintai, hanya itu yang Wulan inginkan, kebahagiaan bagi anak tunggalnya.
Bukan hanya berita bahagia pras, Berita bahagia pun tengah menghampiri Bima, kini sikap bu Roro semakin ramah terhadapnya, walau tidak terang terangan menunjukkan nya, tapi bu Roro mulai sering tersenyum jika melihat kedatangan Bima, bahkan ketika Bima terpaksa dibuat pusing oleh ulah keempat cucunya, bu Roro ikut tertawa bahagia.
Hanya saja, Bima belum berani menanyakan restu yang masih menggantung, biarlah seperti ini dulu, Bima ingin bu Roro benar benar merasa nyaman dengan kehadirannya, asal bu Roro bisa tersenyum melihat kedatangannya, Bima sudah sangat bahagia, seperti pagi ini, Bima sudah terbiasa sarapan bersama di rumah Sherin, dan bu Roro tak pernah protes, bahkan diam diam wanita baya itu mengamati apa saja yang Bima suka dan apa saja yang tidak disukainya, Bima benar benar merasa menemukan keluarga baru selain keluarga kandungnya.
“Diminum teh nya mas,” Sherin menyuguhkan teh hangat setiap kali mereka sarapan bersama, tak ada lagi kecanggungan, mereka seperti sepasang suami istri ketika sarapan berlangsung, hanya pernikahan saja yang belum mereka laksanakan.
“Terima kasih,” jawab Bima, yang segera mengangkat senduk dan memulai suapan pertamanya.
Bahkan kadang Sherin dan Bima masih membahas pekerjaan ketika sedang makan bersama, dan bu Roro tak keberatan mendengar mereka membahas pekerjaan, karena suasana makan bersama jadi lebih ramai, tak lagi sunyi seperti ketika Sherin dan bu Roro hanya sarapan berdua.
“Ayo cepat mas, hari ini pekerjaanku sangat banyak.” Sherin buru buru mengunyah sarapannya.
Bima hanya tersenyum melihat gaya makan Sherin, begitupun bu Roro, “Pelan pelan saja makannya, nanti kamu tersedak,” tegur bu Roro.
“Iya bu,” jawab Sherin dengan mulut penuh makanan, dan …
uhuk
uhuk
uhuk
Sherin tersedak, Bima buru buru memijat tengkuk nya, kemudian menyodorkan segelas air putih.
“Tuh kan, tersedak beneran kan?” ujar bu Roro.
“Jangan buru buru makannya, nanti aku bisa bantu pekerjaanmu,”
Sherin pun mengangguk, wajahnya memerh dan bibirnya cemberut, sungguh menggemaskan, jika tak ada bu Roro diantara mereka, mungkin bibir merah muda itu sudah membengkak, karena ulah Bima.
Bima hanya mencubit gemas kedua pipi Sherin, “sakit mas …” rengek Sherin manja, sambil memegang kedua pipinya.
__ADS_1
Bima terkekeh, “maaf …” ucapnya.
“Sini gantian,”
Kkini Sherin yang mencubit kedua pipi Bima, bahkan tak tanggung tanggung, Sherin menggunakan tenaga penuh, “aaaaaahhhh … sakit.” protes Bima.
“Curang, kamu nyubitnya pakai tenaga penuh,” Bima hendak kembali mencubit pipi Sherin.
“Aaaahh … aku gak mau.” Sherin mengelak, ia menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya, Bima tak mau kalah, ia justru mendekatkan wajahnya dan Sherin makin menunduk, membuat wajahnya kini bersembunyi dibawah meja, tanpa sadar Bima ikut menundukkan wajahnya ke bawah meja hingga jarak wajah mereka semakin dekat, hembusan nafas mereka bertemu dan …
“Ehem …” suara bu Roro membuyarkan momen manis tersebut, walau secara tak sengaja bu Roro pernah memergoki keduanya tengah berciuman, tapi jika sengaja terang terangan melakukannya di depannya, tentu bu Roro tak akan mengizinkannya.
Kedua insan yang tengah dimabuk asmara itu pun kembali duduk tegak di tempatnya, wajah keduanya memerah.
“Tidak tahu malu, kalian tidak lihat ada ibu disini?” sindir bu Roro.
“Maaf.” Bima.
“Maaf.” Sherin.
Ucap Bima dan Sherin bersamaan, malu rasanya ketika bu Roro memergoki mereka bersikap mesra, padahal hubungan mereka masih sebatas kekasih, dan belum ada pembicaraan lebih lanjut untuk hal lainnya.
Bima mendongakkan wajah nya, “Iya bu?” jawabnya tegas.
“Mau sampai kapan kalian seperti ini?” tanya bu Roro dengan wajah serius.
Bima menatap Sherin, pandangan matanya jelas menyiratkan banyak tanya, begitu pun Sherin.
“Sampai ibu memberi kami restu, dengan senang hati aku akan segera membawa keluargaku kemari melamar Sherin.” Jawab Bima yakin, ia menatap kedua mata bu Roro, ada keseriusan dalam sorot matanya.
“Baik, segera bawa keluargamu kemari.”
deg deg
deg deg
__ADS_1
deg deg
.
.
.
.
.
.
.
.
suit suit … ahem … mas Bima menuju halal … 😁💃
Siapa sangka Riana kembali bertemu dengan Brian, mantan suaminya, pria yang benyak menoreh kan luka pada pernikahan mereka terdahulu.
Rupanya semalam itu membuahkan hasil, dan kini demi status sang anak, mereka terpaksa kembali menikah, tentunya dengan banyak perjanjian dan kesepakatan.
Rupanya Brian punya niat terselubung setelah anak yang dia inginkan lahir.
Bagaimana reaksi kedua orang tua Riana, manakala mengetahui pernikahan Riana yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Bagaimana kelanjutan pernikahan mereka setelah Riana mengetahui niat jahat Brian menikahinya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
hai gaeeess othor kembali lagi dengan kisah mantan, sambil menanti Emira yang masih dalam proses persiapan.
__ADS_1
semoga senin sudah bisa launching yes 🥰
sarangeeeeee 💛❤️