
BAB 25
Bima tiba kembali di Twenty Five Hotel menjelang jam makan siang, penampilannya kacau, tak Serapi ketika pagi tadi ia tiba. Bahkan dasinya sudah ia tinggalkan entah dimana, ia tak peduli, yang dia pikirkan sekarang hanyalah mengungkap tabir misteri penyebab utama kematian kedua orang tuanya.
Bima hanya bersandar lemas di sofa yang ada di ruangan Direktur Utama, matanya terpejam tapi otak nya sibuk memikirkan segala kemungkinan, dan Sherin hanya bisa menatap iba tanpa bisa memeluk dan menghiburnya, karena ada Andre di antara mereka.
Sherin kembali melanjutkan pekerjaannya, ia mencari dan terus mencari, hingga melupakan bahwa dirinya hanya sarapan secangkir teh manis pagi tadi, jika di bagian atas dokumen tak ia temukan, Sherin mengubah strategi pencarian nya, setelah berkas berkas di bagian atas berpindah ke lantai, kini Sherin mulai mencari di bagian bawah, yang mana tertera tahun yang mendekati kejadian yang Andre ceritakan padanya beberapa jam yang lalu.
Ada berkas yang terlihat berbeda dari yang lainnya, jika berkas yang yang lain memakai kertas baru, dengan tinta printer, lain halnya dengan berkas lama tersebut, masih ditulis menggunakan mesin ketik, hingga nama dan tulisan yang ada di sana masih tercetak dengan jelas, entah apa alasan yang mendasari nya, karena pada tahun itu, komputer sudah dikenal luas oleh masyarakat.
Sherin membaca tahap demi tahap tulisan di berkas lama tersebut, sangat teliti, hingga jenis bibit, kapan mulai di tanam, di daerah mana di tanamnya, dan jenis pupuk yang yang digunakan pun tertera di sana, sementara di berkas baru dengan nama pemilik tidak tercantum semua informasi tersebut, Sherin membuka lembar berikutnya, ada dua nama baru yang kini terpampang di hadapannya, Arandhana Narendra sebagai pemilik perusahaan dan Chandra Swastika sebagai sekertaris nya.
Dada Sherin bergemuruh hebat, "a … apakah ini dokumen yang sedang kita cari sejak tadi bos?" Tanya Sherin dengan tangan dan suara bergetar.
Andre yang ada didekatnya segera menerima berkas usang tersebut, Bima pun sontak membuka mata, lalu bangkit dari sofa.
Wajah Andre berbinar, "Benar sekali … terima kasih Sherin."
Sementara kedua mata Bima nampak berkaca kaca, melihat nama kedua orang tuanya tertera di sana, samar samar ia masih mengingat ketika malam hari mendengar suara mesin ketik dari ruang tamu, dan juga suara ayah dan ibunya sedang berdiskusi memikirkan apa saja yang harus mereka tulis, walau masih kecil, saat itu Bima mengerti bahwa kedua orang tuanya belum memiliki cukup uang untuk membeli komputer baru, jadi mereka memanfaatkan mesin ketik lama yang mereka punya.
😢
Andre mendekati Bima, dan memeluk pundak sahabatnya yang mulai berguncang karena tangis.
Mau tak mau, Sherin pun ikut mengusap air matanya sendiri, pasti Bima sangat merindukan kedua orang tuanya, siapa sangka Tuhan masih berkehendak mendekatkan Bima dengan misteri penyebab kematian kedua orangtuanya, jika tuhan tak mempertemukannya dengan Andre, mungkin penyebab kematian kedua orang tuanya, akan tetap menjadi misteri yang terkubur begitu saja.
Sherin yang bisa membaca situasi, segera mengumpulkan berkas serupa, ternyata ada lebih dari 20 berkas, itu adalah berkas perjanjian dan bukti pengiriman bahan, yang bisa diuangkan seminggu setelah pihak hotel menerima bahan baku.
Ada jeda beberapa bulan sejak pengiriman bahan baku terakhir yang ada di bawah tanggung jawab Arandhana Narendra.
Sesudah itu penanggung jawab berubah nama menjadi Cokro Adhiwangsa.
"Haruskah kita temui Daddy? Siapa tahu Daddy bisa membantu mengurai ini semua?" Andre menawarkan bantuan.
"Sepertinya tidak, menurut ku, jika tuan Alex menghentikan penyelidikannya sampai disini, itu artinya Twenty Five Hotel tidak terlibat manipulasi," Bima bergumam, "pria inilah yang harus kita selidiki." Bima menunjuk nama pakdhe Cokro, tapi tatapan matanya mengarah pada Sherin, rasa cinta bercampur dengan sakit hati pada pria yang notabene masih paman dari kekasihnya.
Dan Sherin cukup tahu diri untuk tidak banyak buka suara, ia hanya diam, mengamati, mendengar dan membantu seperlunya jika dibutuhkan, tak jauh beda dengan Bima, ia pun merasa tak enak walaupun ia sendiri tak ada sangkut paut nya dengan kasus Food & Fresh.
Bima mendekati Sherin, karena sejak beberapa jam yang lalu, Sherin hanya duduk menunduk diam tak banyak bicara, Bima memeluk kekasihnya tersebut, ia hanya menatap kedua mata kekasihnya yang sudah berkaca-kaca menahan tangis, "Jangan merasa bersalah, karena kamu sama sekali tak terlibat dalam hal ini."
__ADS_1
"Tetap saja, aku merasa buruk sekali, karena aku sama sekali tak tahu menahu tentang masa lalumu mas."
Bima tersenyum dengan wajah sembab nya.
"Aaaaahhh … aku merindukan istriku," seru Andre yang tiba tiba merasa jadi orang ketiga.
"Jadi bagaimana rasanya jadi orang ketiga?" Sindir Bima, yang langsung menerima hadiah lemparan bola kertas dari Andre.
"Bertahun tahun aku menjadi patung di antara dirimu dan para wanita di sekeliling mu, beruntung sekali kamu mendapatkan Bella yang baik hati dan setia menunggumu, sebelum akhirnya menjadi kekasih orang." Balasan perkataan Bima sungguh tepat sasaran, hingga membuat si anak Sultan datang menghampiri, dan menghadiahkan sebuah tinjuan.
"Dasar asisten tidak tahu diri, kurang beruntung apa kamu memiliki bos seperti diriku?"
"Kenapa tiba tiba menyinggung pekerjaan, apa kamu masih cemburu pada Jo? Hah … sungguh menggelikan, cemburu pada orang yang bahkan sudah tak ada di dunia ini."
Andre menatap tak suka pada Bima, sejujurnya ia sendiri merasa aneh, karena masih merasa tak nyaman jika mendengar Bella yang tanpa sengaja membicarakan kenangannya bersama Jo, rasa cemburu dan takut kehilangan bisa tiba tiba datang menghantui perasaanya, padahal sang rival sudah tak lagi ada di dunia ini.
Aneh memang, tapi itu nyata, semenjak resmi menjadi suami Bella ia pun resmi menyandang gelar suami posesif yang pencemburu.
Padahal, kehidupannya kini sangat sempurna berkat kebaikan othor bulan, Andre memiliki istri cantik yang setia, bahkan kini Tuhan menganugerahkan sepasang bayi kembar tampan, serta bonus anak gadis dari Kevin dan Gadisya, sungguh hidup yang membahagiakan.
Kruuuuk
"Kamu lapar?" Tanya Bima pada Sherin, yang sudah menunduk malu.
Sherin mengangguk, "tadi pagi aku hanya sarapan secangkir teh manis." Jawab nya lirih.
"Kyaaaa…"
Andre dan Bima kompak berseru.
"Kenapa tidak bilang sejak tadi?"
Kembali mereka mengucap kalimat yang sama.
"Kalau kamu pingsan bagaimana?"
Kali ini dia sahabat itu saling melempar pandangan.
"Berhentilah mengkhawatirkan kekasihku!"
__ADS_1
"Kamu sendiri? Berhentilah mengkhawatirkan sekretaris ku!"
Lagi lagi perdebatan unfaedah terjadi.
"Ah terserahlah, aku mau pulang dan memandikan anak anakku." Pungkas Andre, yang kemudian menyambar ponsel dan tas kerjanya, "Sherin … katakan pada OB, besok pagi jangan bersihkan ruangan ku dulu."
"Baik bos."
***
Prang …!!!
Brak …!!!
Suara guci pecah dan meja yang terguling menggema di setiap sudut rumah mewah pakdhe Cokro.
Pertengkaran antara Cokro dan Wulan tak lagi bisa dihindari, ini bukan kali pertama, karena keduanya memang sering terlibat pertengkaran, kecemburuan Cokro yang tak masuk akal, kerap kali menjadi bibit pertengkaran, dan kini masa lalu Wulan lah yang menjadi penyebab pertengkaran.
"Apa aku salah, kalau masih mengingat laki laki yang kucintai? Bukankah sejak awal menikah kamu sudah tahu, bahkan bersedia menerima ku yang masih menyimpan nama mas Dhana di hatiku, lalu kenapa kamu tiba tiba bersikap seperti ini?" Pekik Wulan pada Cokro.
Memang benar, saat itu Cokro melakukan apa saja agar bisa menikah dengan Wulan, bahkan begitu mudah memaafkan Wulan yang masih menyimpan nama Arandhana di hatinya.
Waktu terus bergulir, rumah tangga mereka berjalan 'adem tentrem' kalau kata orang Jawa, bahkan mereka memiliki seorang putra tampan, karena setelah melahirkan anak pertama mereka, Wulan tak mau hamil kembali, kala itu Cokro tak tahu alasan sebenarnya, tapi belakangan barulah terungkap, kalau Wulan masih sangat berharap, bahkan menunggu Arandhana menduda, dan hal itu memantik harga dirinya sebagai seorang pria.
"Aku cemburu, kamu tahu itu, aku cemburu, cemburu karena kamu masih ingin menikah dengan Dhana, cemburu karena kamu masih mengingat Dhana yang sudah mati!" Suara Cokro tak kalah kencang dari suara Wulan.
Cokro mendekati Wulan yang duduk dengan ekspresi datar, ia tak peduli jika Cokro marah terhadapnya, tak akan membawa pengaruh apa apa juga baginya, karena dalam hatinya hanya tersimpan nama Arandhana.
"Bahkan kamu menanti Dhana menduda, padahal ada aku yang setia di sisimu, aku menjadi orang yang paling mencintaimu, menjadi orang yang paling mengerti perasaanmu, tapi tega teganya kamu masih menyimpan nama pria lain selain aku."
Cokro memang tempramen, tapi semarah apapun dirinya, tak pernah satu kali pun ia menyakiti fisik istrinya.
Dan begitulah, Terkadang Cinta memang membutakan logika, sudah tahu dirinya tak ada harapan mendapatkan hati sang wanita pujaan, tapi logikanya tak bisa diajak bekerjasama, padahal jelas jelas Wulan mengatakan tak akan pernah mencintai pria selain Arandhana.
"Benarkah hanya karena cinta, hanya atas nama cinta mas menikahi dan menerimaku yang masih mencintai pria lain? Bukan kah waktu itu mas juga tergiur dengan hadiah yang ditawarkan Romo? Serta harta warisanku? Keserakahan Mas lah yang memenjarakan mas sendiri, keinginan memiliki ratusan hektar tanah perkebunan itulah yang membuat mas bersedia menerima hatiku yang sudah menjadi milik pria lain." Wulan membalas perkataan Cokro dengan sindiran pedas nya, karena memang begitulah kenyataannya.
Hari itu Cokro datang dan menyatakan perasaannya pada Wulan, tapi sebagai seorang gadis primadona pada masa itu, Wulan dengan tegas menolak perasaan Cokro, bahkan Wulan dengan lugas mengatakan sampai kapanpun ia mencintai Arandhana, dan tak pernah berniat menghilangkan kedudukan Arandhana di hatinya.
Pada awalnya Cokro marah dan tak Sudi lagi mencintai dan menerima gadis yang masih menyimpan nama pria lain di hatinya, tapi diam diam dan tanpa sepengetahuan Wulan, sang Romo menemui Cokro, bahkan memberi iming iming tanah ratusan hektar jika Cokro mau menikahi Wulan, belum lagi warisan kebun teh yang nantinya akan diterima Wulan setelah romonya meninggal. Karena Wulan adalah putri satu satunya sang tumenggung.
__ADS_1
Apa gerangan yang membuat romo Wulan memberi hadiah pada Cokro yang mau menikahi putrinya?