Restu

Restu
BAB 33


__ADS_3

BAB 33.


Jika sebelum sebelumnya, Cokro seperti mendapat serangan jantung, kali ini rasanya ia tak sendiri, karena baik dirinya maupun Wulan sang istri seperti mendapatkan 2 pukulan sekaligus, serangan jantung dan disambar petir sekaligus dalam satu waktu.


Berita mengejutkan yang mereka dengar dari Pras seperti serangan petir yang menghancurkan apa saja yang ada di sekitarnya.


Plak !!! 


Sebuah tamparan keras mampir di pipi Pras, kini Cokro merasakan kemarahan berlipat ganda, kesayangannya, putranya, anak yang paling ia banggakan kini sudah berhasil mencoreng nama baik keluarga besar Romo Bahurekso, yang masih memiliki darah ningrat.


“Anak tidak tahu diuntung, mau dikemanakan wajah keluarga kita, wajah papa dan mama?” 


Pras diam menunduk, sementara Wulan hanya menatap nanar wajah putra satu satunya, walaupun Wulan tak mencintai Cokro suaminya, tapi ia sangat menyayangi Pras, bahkan Wulan cenderung memanjakan Pras, sementara Cokro mendidik Pras dengan sikap tegas, karena menurut Cokro, anak laki laki tak boleh didik dengan kelembutan, takut menjadi anak yang cengeng, perbedaan itulah yang menjadikan Pras lebih merasa nyaman berada di dekat Wulan, daripada berada di dekat Cokro, termasuk Pras juga tidak mau mengambil jurusan bisnis seperti permintaan Cokro, jadilah kini Pras bekerja di sebuah Bank Swasta nasional, dengan jabatan cukup strategis.


“Ini semua karena papa yang memaksa, jika papa tidak ngotot berencana menjodohkan aku dengan Sherin, tentu aku dan Dyah tidak akan berbuat senekat ini!!!” bantah Pras.


Cokro mengayunkan tinjunya ke Udara, hampir saja ia menghantam wajah Pras, jika Wulan tidak mencegahnya, “jangan pa.” pinta Wulan dengan wajah memelas. 


Cokro rasanya ingin berteriak sekencang kencangnya, belum lagi masalah perusahaan selesai, anak satu satunya justru berulah, Cokro memejamkan matanya, ketika tiba tiba dadanya berdenyut nyeri, kali ini nyerinya lebih hebat dari pada sebelumnya, pandangannya gelap, dan nafasnya terasa sesak, sesaat kemudian Cokro tak menyadari bahwa tubuhnya ambruk begitu saja ke lantai.


Pras menjerit Keras, sementara Wulan kebingungan, tak tahu ada apa dengan hatinya, entah yang ia rasakan hanya kasihan atau sekedar prihatin.


***


“Ibu mau ikut kamu,” Ujar Bu Roro pada Bima, yang sejak beberapa saat lalu ingin mengantar bu Roro pulang, tapi wanita itu keukeuh menolak, dan hanya ingin ikut kemanapun Bima membawa nya.


Bima menarik nafas perlahan, lalu menghembuskannya, apakah orang orang tua memang terkadang bersikap kolot dan kekanakan? Bima jadi ingat perjuangannya meluluhkan kekakuan sikap dan hati eyang kakungnya.


“Tapi ibu baru saja sadar dari pingsan, ibu harus istirahat, tidak papa jika aku ke panti asuhan besok pagi, sekarang aku akan mengantar ibu,” jawab Bima, ketika bu Roro justru memilih ikut dengannya ke panti asuhan, karena jika harus mengantar bu Roro, akan sangat jauh jarak yang harus Bima tempuh untuk mendatangi panti asuhan, jadi Bima memilih menunda kepergiannya ke panti asuhan, tapi kemudian bu Roro merasa tidak enak hati, jadi wanita baya itu memilih ikut Bima ke panti asuhan.


“Baiklah, aku kasih kabar Sherin dulu yah, biar Sherin tidak khawatir.” Bima memilih mengalah, lagi pula ini kesempatan baik baginya untuk bisa bicara empat mata dengan bu Roro.


Bu Roro mengangguk.


Bima pun menghubungi Sherin.


“Iya mas?” jawab Sherin ketika panggilannya terhubung.


“Mmmm … aku bertemu ibu di rumah sakit,”


“Lalu?”


“Tadi ibu pingsan, tapi setelah sadar beliau menolak ketika hendak ku antar pulang.”

__ADS_1


“lalu?  bagaimana keadaan ibu? ibu pulang sendiri? atau ibu memarahi mas? apa kata dokter?....” Sherin memberondong Bima dengan berbagai pertanyaan.


Bima terkekeh pelan, mendengar ocehan kekasihnya. “sayang, gimana aku bisa bicara jika kamu tak juga diam?”


Sunyi.


Sherin terdiam, barulah ia sadar jika dirinya terlalu panik. “maaf mas, aku cemas sekali, tadi ibu menolak waktu aku ingin mengantar, dan ternyata ibu pingsan sendirian,” sesal Sherin.


“Tidak papa, waktu eyang putri pingsan, aku juga merasakan perasaan yang sama sepertimu, wajar saja,” Bima menjeda kalimatnya, “Ibu baik baik saja, beliau hanya kaget, tapi ketika aku tanya ada apa, beliau belum mau bercerita, mungkin jika bicara denganmu, beliau akan mau terbuka,”


“Begitu yah … Syukurlah jika ibu tidak apa apa, sekarang mas lagi sama ibu?” 


“Iya, ibu ingin ikut ke panti asuhan, mungkin kami akan sampai rumah sedikit malam, karena jarak panti asuhan agak jauh.” jelas Bima.


“Baiklah, aku titip ibu ya mas.”


“Iya tenang aja, ibu aman bersamaku,”


Bima tak sadar jika sejak tadi pembicaraannya dengan Sherin didengar bu Roro, sementara bu Roro pura pura merebahkan punggungnya, sambil memejamkan mata, padahal sesungguhnya, sejak tadi bu Roro menguping pembicaraan manis antara Bima dan Sherin.


Wanita paruh baya itu mulai merasakan nyaman berada di dekat laki laki yang mengaku mencintai putri bungsunya tersebut, ia tersentuh dengan kehangatan sikap Bima, bahkan caranya berbicara dengan Sherin juga sangat manis, semua berkat othor moon yang menjodohkan putri bungsunya dengan Bima, si bujang lapuk.


Melihat bu Roro memejamkan mata, Bima mengira bu Roro sudah tertidur, mungkin sudah merasa nyaman setelah mendapat suntikan infus, beberapa saat yang lalu, Bima memasang safety belt untuk bu Roro, kemudian menurunkan sandaran kursi bu Roro agar bu Roro merasa lebih nyaman, barulah kemudian Bima melajukan kendaraannya menuju panti asuhan, tempat ia dibesarkan. 


***


Bu Roro terkesiap, melihat Bima yang lagi lagi dikelilingi anak anak, sama seperti keempat cucunya yang selalu heboh jika melihat kedatangan Bima, dari jauh seorang wanita berusia kira kira sebaya dengan bu Roro menghampiri beliau, siapa lagi jika bukan bu Nani, sang kepala panti asuhan.


“Selamat datang di rumah kami bu.” sapaan bu Nani membuyarkan lamunan bu Roro.


Bu Roro menoleh, dan tersenyum manakala bu Nani pun menyambutnya dengan senyum ramah.


“Oh selamat sore,” balas bu Roro.


Bu Nani cukup terkejut melihat kedatangan Bima sore itu, jika biasanya Bima datang seorang diri, kini Bima datang bersama seorang wanita paruh baya, tentu bu Nani penasaran.  


“Ibu ini….?”


“Oh saya bu Roro, ibu dari Sherin kekasih laki laki itu.” jawab bu Roro, walau kikuk, ia mulai mengakui keberadaan Bim di sisi Sherin.


Bu Nani mengulum senyuman, “oh iya … waah sepertinya saya akan segera mendapat kabar baik,” bu Nani begitu bahagia mendengar penuturan bu Roro, ini pertama kalinya ia mendengar Bima memiliki kekasih, Karena satu kalipun Bima tak pernah menyinggung perihal gadis yang sedang dekat dengannya.


Bu Roro cukup terkejut mendengar pengakuan bu Nani, sungguh mustahil, laki laki setampan Bima belum pernah memiliki kekasih.

__ADS_1


***


Hampir jam 10 malam ketika Bima tiba kembali di rumah Bu Roro, Bima membuka Belt bu Roro, kemudian dengan lembut, Bima membangunkan bu Roro, bu Roro mengerjapkan mata sesaat, pelan pelan kembali mengumpulkan kembali kesadarannya, “sudah sampai yah?” tanya bu Roro.


“Sudah bu, ibu bisa istirahat nyaman di rumah sekarang.” 


Bu Roro mengangguk.


Bima pun turun mendahului bu Roro, kemudian berjalan ke sisi kiri mobilnya, untuk membukakan pintu, “mari bu,” Bima mengulurkan telapak tangannya, tapi bu Roro menepisnya pelan.


“Langsung pulang, hari sudah malam,” pesan bu Roro, sebelum pergi meninggalkan Bima.


“Iya bu, terima kasih untuk hari ini, ibu sudah menemani saya ke panti asuhan.”


“Iya, lagi pula ibu tidak ada pekerjaan di rumah, jadi jalan jalan tipis tidak masalah.” jawab bu Roro dingin, kemudian berlalu. 


Lain bu Roro, lain pula Bima, bu Roro tak tahu jika Bima begitu bahagia, ia merasa sudah sepuluh langkah mendekati restu sang calon ibu mertua.


Sherin yang sudah sejak jam 8 menunggu di teras, nampak bisa tersenyum bahagia melihat kedatangan bu Roro dan Bima.


Setelah memastikan sang ibu istirahat nyaman di kamarnya, Sherin pun kembali ke teras menemui Bima, Bima sedang memeriksa ponsel, ketika Sherin kembali keluar,  “aku kira mas sudah pulang.”


“Mana mungkin aku pulang, jika aku belum melihat senyummu hari ini.”


Sherin tersipu malu, kemudian menyembunyikan wajahnya di pundak Bima.


“Tanggung amat, kenapa gak peluk sekalian sih?” protes Bima yang langsung membawa Sherin ke pelukannya.


🤧


“Mas, ibu Bilang, mas harus langsung pulang,” bisik Sherin lirih.


“Sebentar saja, aku benar benar bahagia hari ini, semoga setelah ini Ibu Bisa segera merestui kita.”


“Amin.” ucap Sherin diantara debaran jantung mereka yang sedang menggila seperti orkestra musik India.


.


.


.


.

__ADS_1


💃💃💃 eh ciyeee mas Bima ... suit suit 🤭🤭


__ADS_2