
BAB 45.
Bima menggenggam erat tangan Sherin, sementara tangan kanannya fokus mengendalikan kemudi mobil nya, debaran jantung merek kian menggila, hingga nyaris tak ada kata kata yang terucap.
Mereka sedang dalam perjalanan ke apartemen Bima, sekaligus ini adalah kali pertama Sherin mendatangi apartemen suaminya tersebut.
Beberapa kali pandangan mereka bertemu, dan saling melempar senyum malu, tanpa perlu berucap, mereka tahu jika kini keduanya sedang sangat bahagia.
Setelah memastikan mobil berhenti dengan aman, mereka berjalan beriringan menuju unit apartemen Bima di lantai 4, Bima memeluk posesif pinggang Sherin, bahkan beberapa kali mencium mahkota hitam istrinya.
"Mas … ada cctv mengawasi," bisik Sherin.
"Terus?"
"Aku malu."
"Hahahaha…" Bima justru tertawa keras, namun tetap melanjutkan aksinya.
Mereka tiba di apartemen, dan di sambut Sinta yang sedang sibuk membereskan sekaligus membersihkan ruangan tersebut.
"Lho … tante biarkan saja, nanti aku panggil orang buat bersih bersih, tante istirahat saja." Ujar Bima yang merasa tak enak karena melihat Istri dari Kreshna tersebut membersihkan ruangan.
"Nggak papa, ini sudah hampir selesai, lagian tante di bantu Yudha, sudah sana bawa istrimu bertemu eyang kakung dan eyang putri."
Bima tak bisa mengelak, ia pun membawa Sherin masuk ke ruang tengah, "itu kamarku, simpan saja barang barangmu di sana," Bima menunjuk sebuah ruangan.
Sherin berjalan memasuki ruangan tersebut, kemudian meletakkan tas berisi baju ganti yang sengaja ia bawa dari rumah, ini pertama kalinya ia masuk ke kamar lelaki selain kedua kakak nya, dan mendadak wajah Sherin memanas, membayangkan kamar ini juga akan menjadi kamarnya.
Sherin kembali ke ruang tengah, bergabung dengan Bima yang sudah lebih dulu berbincang dengan kedua eyang nya, Kreshna, Sinta dan Yudha pun sudah ikut duduk usai membersihkan ruangan.
"Kalian yang rukun yah, jangan menyimpan masalah dalam rumah tangga berlarut larut, jika ada masalah atau ganjalan di hati, segera selesaikan,”
Nasehat eyang putri tersebut, mengalun laksana fondasi yang akan menguatkan perjalanan pernikahan Bima dan Sherin, keduanya diam menyimak, petuah dan nasihat yang akan terus mereka genggam sepanjang mengarungi bahtera rumah tangga.
Usai menyampaikan petuah, serta sedikit berbincang ringan, dan janji untuk kembali berkumpul usai resepsi yang akan diadakan di jogja nanti, mereka pun mengakhiri hari dengan beristirahat.
Dan disinilah mereka, jika siang tadi mereka bisa berpelukan, usai bersih bersih, kini sepasang pengantin baru tersebut justru saling menjaga jarak, bahkan pura pura tertidur, karena pada dasarnya keduanya belum bisa memejamkan mata sama sekali, karena siang tadi mereka menghabiskan sepanjang siang untuk mengistirahatkan mata.
Bima membuka matanya perlahan, ia melirik Sherin yang nampak gelisah, dalam hati Bima terkikik geli, ‘lucunya istriku jika sedang malu malu begini’ bisik Bima dalam hati.
Bima memiringkan tubuh nya, walau remang remang, kini ia bisa menikmati wajah Sherin.
Bima mengulurkan tangannya guna mengusap lembut pipi Sherin, Sherin berjingkat pelan manakala jari jari tangan Bima menyentuh kulit wajahnya.
“Aku tahu kamu belum tidur,” Bima berbicara nyaris dengan suara berbisik.
Sherin mengerjapkan matanya, “ketahuan yah?” tanya Sherin canggung.
Bima tersenyum, “kenapa belum tidur? apa kamu seperti Kevin yang tidak bisa tidur di tempat asing?”
Sherin menggeleng, “tidak juga,”
__ADS_1
Kini mereka tidur berhadapan, “lalu?”
“Mmm … kenapa tidak cerita kalau tadi siang pakdhe Cokro datang kerumah?” tanya Sherin ragu.
Bima terdiam, ia sebenarnya tak ingin merusak suasana malam ini, tapi apa daya istrinya bertanya, mana mungkin Bima tega memarahi gadis yang akan menemaninya seumur hidup, “maaf, siang tadi aku sedang bad mood, usai kedatangan orang itu, aku tak mau larut dalam emosi, Jadi lebih baik aku tidur.”
“Ibu dan mas Bagas yang cerita, termasuk soal sertifikat itu,”
“Oh … syukurlah jika kamu sudah tahu, jadi aku tak perlu mengulang cerita, jujur saja, mood ku benar benar memburuk usai kedatangan orang itu.”
“Baiklah, kita bahas lain kali,” imbuh Sherin.
“Lalu?” tanya Bima.
“Lalu apa?” Sherin balik bertanya.
Bima kembali tersenyum geli, “kamu lupa, atau pura pura amnesia?”
Blush …
Sherin terdiam, ia tahu apa yang dimaksud oleh suaminya, ‘iya mas, aku tahu maksudmu, tapi kan aku malu, masa iya aku yang bilang duluan? ', ujar Sherin dalam hati.
“Boleh kah aku minta hakku sekarang?”
Seluruh tubuh Sherin berdesir hebat, ia tahu bahwa setelah menikah, cepat atau lambat, Bima akan segera meminta nya, dan Sherin sudah sangat siap, tapi entah kenapa, kini ia hanya bisa diam karena sibuk mengkondisikan detak jantungnya.
Bima kembali mengikis jarak mendekati Sherin, yang didekati semakin tak bisa mengendalikan hati dan perasaannya.
Sebenarnya tubuh Sherin sungguh sedang kaku nyaris tak mampu bergerak, tapi anehnya tiba tiba ia mengangguk meng iyakan permintaan suaminya.
Bima lagi lagi tersenyum senang, “Aku akan lakukan perlahan,” bisiknya, kemudian mulai memberikan salam penuh rindu, “I love you,” bisiknya usai mencium lembut nya kedua pipi Sherin.
Tak perlu menunggu lama kedua pemilik hati tersebut saling berpeluk, saling berkenalan, menyatukan nafas mereka yang kian memburu, bersorak bahagia usai menanti lamanya sebuah penantian.
Kedua tubuh itu saling merapat, mencicipi pengalaman yang baru pertama kali mereka rasakan, semakin terhanyut dalam manisnya madu asmara pernikahan, hingga kamar yang semula dingin seketika berubah menjadi panas oleh gairah yang kian membara, hingga akhirnya syahwat itu tersalurkan di tempat yang seharusnya, terasa begitu berkesan karena mereka melakukannya di saat keduanya resmi menjadi sepasang suami dan istri.
Senyuman bahagia menghiasi bibir keduanya usai saling memenuhi hak dan kewajiban tersebut, bahkan deru nafas keduanya masih memburu, dan peluh pun masih membasahi tubuh keduanya.
“Sakit?”
“Ya jelas mas, rasanya ngilu, perih, pegel, panas gimana gituh, kamu sih katanya pelan pelan, tapi …”
“Tapi bikin nagih, dan bakal nambah lagi dan lagi …” sambung Bima, dengan maksud menggoda.
“Iiiiih … apaan sih, yang ini aja masih sakit, malah ngomongin nambah lagi.” gerutu Sherin yang langsung memunggungi Bima.
Bima kembali mendekati Sherin, menelusupkan wajahnya ke harumnya rambut dan tengkuk Sherin, kemudian menggigit gemas pundak putih mulus milik istrinya.
“Aku hanya bercanda, mana mungkin aku memintanya lagi, sementara tadi kamu terlihat sangat kesakitan,”
Sherin menoleh, menatap wajah Bima, “darimana mas tahu kalau aktivitas ini membuat ketagihan, apa jangan jangan?” tanya Sherin penuh selidik.
__ADS_1
“Apaan sih, aku belum pernah melakukannya, jangan cemburu begitu dong,” Bima mencubit pelan kedua pipi istrinya.
“Trus mas Bima tahu dari mana?” Sherin masih keukeuh bertanya.
“Dari Bos.”
“What?? … jadi kalian juga saling berbagi rahasia urusan kamar?” tanya Sherin terkejut.
“Hahaha … tidak ada yang tidak kami bagi, tapi tentu saja tidak secara spesifik, kami hanya saling ejek, dan bergurau, bukan berarti si brengsek itu menceritakan rahasia kamarnya.” Bima menjelaskan.
“Oooohhh kirain.”
Bima kembali memeluk erat tubuh Sherin yang masih memunggunginya.
“Terima kasih, sudah bersedia jadi pendampingku.” bisik Bima. “entah apa yang terjadi jika hari itu kamu tak menceritakan masalahmu padaku, mungkin sampai hari ini aku masih menyendiri.”
Sherin berbalik, kini mereka kembali berhadapan, dalam satu selimut tanpa ada benda lain menghalangi.
“Terima kasih juga sudah mau bersabar menanti restu dari ibuku, bahkan tak pernah marah menghadapi ibu yang kadang kata katanya masih menyakiti hati, bahagianya aku memiliki suami sepertimu, I love you to.” Sherin.
Bima kembali memeluk dan mengusap sayang mahkota indah milik istrinya, kini ia merasa damai, begitu tenang dan membahagiakan, karena memiliki rumah untuk kembali pulang, kini lembaran baru kehidupannya sudah dimulai, Tuhan menghadirkan wanita baik yang akan menemani hari harinya, walau berawal dari sebuah kepura puraan, nyatanya Tuhan sungguh sungguh menakdirkan mereka bersama.
...______ TAMAT BENERAN _____...
.
.
.
.
.
.
.
ALHAMDULILLAH... berakhir sudah, mohon maaf jika othor tidak membuat cerita ini semakin panjang, karena pada awalnya cerita ini hanya selingan, terima kasih untuk atensi kalian yang luar biasa, kembang kopi bahkan vote yang kalian berikan, sekarang othor mau kembali fokus menggarap Sepasang Mantan 2, dan kembali menyambung kisah Emira yang sempat tertunda.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Sarangeeeeee 💛💚