
BAB 27
Dinginnya angin malam, tak membuat kedua muda mudi itu ingin beranjak dari tempatnya duduk saat ini, keduanya tengah terlibat perbincangan serius, kisah selama seminggu yang mereka lalui tanpa kehadiran masing masing pihak.
Yah, Bima dan Sherin tengah berada di taman kota, tempat banyak kuliner kaki lima berjajar, memeriahkan malam dengan hidangan menggugah selera, namun tetap ramah di kantong rakyat.
Banyak hal Sherin ceritakan, yang utama tentu saja sang ibu yang masih teguh pada pendiriannya, tapi sesekali masih kepo menanyakan kemana perginya lelaki yang mengaku menjadi kekasih Sherin, ke empat keponakannya juga tak henti henti bertanya jika sedang berada di rumah Bu Roro, walau baru pertama bertemu, tapi entah kenapa para keponakannya itu begitu mengidolakan Bima.
Dan dalam kesempatan ini pula, Bima pun berkisah tentang kepergian nya ke Jogja satu Minggu kemarin, memulai lagi kisah yang sebenarnya sangat menyakiti hati dan perasaannya, lalu mencoba mendatangi tempat yang pernah menjadi rumah bagi ayahnya, bahkan Bima masih diberi kesempatan bertemu dan bahkan berbincang dan berpeluk dengan eyang kakung dan eyang putri.
"Aku terharu mas." Kata Sherin yang entah sudah berapa kali mengusap air matanya dengan tangannya, padahal di hadapan mereka ada tissue.
"Kalau kamu aja nangis, gimana aku?" Balas Bima, tangannya terulur menarik selembar tissue kemudian menyeka air mata sang kekasih.
"Aku bahkan belum bisa membayangkan, bagaimana pacar dinginku ini menangis." Gurau Sherin, di sela tangis nya.
"Hahahaha …" Bima tertawa keras, untuk sesaat ia lupa kesedihan dan tangisannya siang tadi di ruang direktur utama.
"Sedingin itukah diriku?" Tanya Bima penasaran.
Sherin mengangguk, "hmmm."
Bima menyesap jus jeruk miliknya yang sudah terasa sedikit pahit karena efek oksidasi, kemudian ia menggenggam salah satu tangan Sherin, "aku punya permintaan."
__ADS_1
"Katakan," Jawab Sherin tanpa mengalihkan tatapannya.
"Tolong rahasiakan pada ibu, soal latar belakang keluargaku,"
"Kenapa mas, bukankah ini hal bagus? Kita bahkan bisa segera menikah." Tanya Sherin tak sabar, ia sungguh gemas dengan sikap Bima.
"Karena, aku menginginkan sebuah ketulusan, aku ingin di terima apapun adanya diriku, tanpa latar belakang keluargaku, aku ingin ibu merestui kita, karena perasaan sayang beliau padaku, bukan yang lain." Bima menatap lembut kedua mata Sherin.
Dan tanpa diduga, gadis itu justru memanyunkan bibirnya, bibir merah yang sudah beberapa kali Bima rasakan madunya. "Berarti tambah lama lagi dong?" Gerutu Sherin.
"Kenapa? Sudah tak sabar rupanya." Goda Bima, tapi Sherin tak mengelak, ia justru tersipu malu malu sambil menyesap es teh manis miliknya.
Bima tersenyum, hatinya pun berbunga, walau sedikit rasa tak suka, karena berpisah sesaat saja, karena pastinya esok hari mereka akan bertemu kembali di tempat kerja.
Dan Sherin pun mengangguk paham, ia segera berdiri dan mengemasi barang-barangnya, tak lupa Bima membawa sampah makanan mereka ke tempat sampah.
Perjalanan pulang, tak memakan waktu lama, karena Mereka sudah tiba beberapa saat kemudian.
"Aku gak masuk yah, sudah malam," ucap Bima ketika membuka seat Belt Sherin.
Serin menatap sendu wajah rupawan kekasihnya, dan tanpa sengaja Bima pun menatap wajah sendu Sherin.
"Kenapa lagi?" Tanya Bima seraya mengusap pipi Sherin dengan telapak tangannya.
__ADS_1
"Masih kangen, gimana dong?" Jawab Sherin manja.
'Duh gini amat rasanya jatuh cinta' batin Bima, ia senang ketika Sherin merengek manja padanya.
Kemudian Bima mendekat, dan mencium sekilas bibir yang sejak beberapa saat lalu cemberut
"Besok kita ketemu lagi sayang…" Bima menangkap wajah Sherin.
Akhirnya gadis itu pun terpaksa mengangguk.
"Tunggu sebentar," Bima membuka pintu mobilnya, kemudian berjalan cepat ke pintu sebelah kiri, dengan lembut pria itu membantu sang kekasih turun dari mobil. "Ayo … aku antar sampai pagar." Bisik Bima ketika mendaratkan kecupan di kening Sherin.
Gadis itu hanya mengangguk bahagia.
.
.
.
.
Begini saja mereka sudah bahagia, gimana kalau sudah halal?? 🤧🤧
__ADS_1