Restu

Restu
BAB 44


__ADS_3

BAB 44


Sherin mengerjapkan kedua matanya, pelan pelan mengumpulkan semua ingatannya.


‘Ah … iya, tadi aku tertidur karena mas Bima ingin ditemani tidur’


Blush


mendadak wajahnya merona sendiri, mengingat bagaimana Bima yang manja masuk ke pelukan nya.


tapi kini posisi mereka sudah terbalik, Sherin yang kini tertidur dalam pelukan Bima, bahkan Bima masih memeluk nya erat dari belakang.


Sherin mencari cari cahaya, karena di dalam kamarnya kini gelap gulita. 


Ponsel? 


Ah entah dimana kini benda keramat itu berada, karena sesaat sebelum memutuskan mandi dan berganti baju rumahan, Sherin ingat Rafa meminjam ponselnya untuk dipakainya bermain dengan ketiga Adik nya.


Pelan dan sangat perlahan, Sherin melepas pelukan Bima, sementara itu, Bima masih lelap tertidur.


Sherin berjalan menuju pintu dan keluar, masih ada beberapa tetangga yang membantu bu Roro membereskan rumah, bahkan kakak dan kakak iparnya masih berada di ruang tengah, tengah meluruskan kaki kaki mereka yang pegal.


tak lama kemudian, para tetangga yang membantu membereskan ruangan pun pamit undur diri, Sherin ikut menangguk dan mengucapkan terima kasihnya, karena para tetangga sudah bersedia berpartisipasi dalam acara pernikahannya.


“Eh … sudah bangun toh, mentang mentang penganten baru, langsung di kekepin, sampe jam segini baru keluar,” goda Bagas.


“Iiiiih apaan sih mas, orang mas Bima cuma tidur, dan minta di peluk doang,” celetuk Sherin, yang langsung membekap mulutnya, karena ia sendiri mendadak malu sudah membocorkan aktivitas nya bersama Bima barusan.


“kok cuma peluk, padahal sebelum menikah aja udah berani ber****man di kamar mandi, untung ketahuan ibu, kalo nggak … n/


plak!!!


Seketika Bagas mendapatkan pukulan di mulutnya, siapa lagi pelakunya jika bukan bu Roro. 


“Lambemu* di jogo.” sembur bu Roro tak terima, Sherin dan Bima menerima ejekan dari Bagas. “kalau sampai mereka melakukan hal hal yang tidak selayaknya, itu salah ibu, karena tidak segera memberikan restu pada mereka.”


*mulutmu dijaga.

__ADS_1


Hahaha … 


Bagas dan Fandy tertawa bersama, “sekarang bukan cuma Sherin yang bucin, tapi ibu juga mas.” Bisik Fandy, tapi masih terdengar di telinga semua orang.


Dan semua yang ada di ruangan itu kompak tersenyum,  tanpa terkecuali Sherin.


“Sherin … apa benar yang kami dengar dari mas Bagas tadi?” tanya Tari agak ragu ragu.


Sherin mengernyitkan dahinya, “Perihal apa mbak?” tanya Sherin heran.


“Lho kamu belum tahu apa yang terjadi siang tadi?” kembali Tari bertanya, karena heran.


Sherin menggeleng, kemudian bagas mulai bercerita.


Sherin hanya mampu membekap mulutnya, ini benar benar berita mengejutkan dan sungguh tak terduga, ia tak menyangka, roda begitu cepat berputar, bahkan belum sampai 2 bulan sejak Sherin mengetahui kebenaran tentang cerita masa lalu Bima, tapi Tuhan benar benar menunjukkan kuasanya, dalam waktu singkat, semua yang dimiliki Cokro musnah begitu saja, seperti tersapu badai besar, padahal Bima bahkan tak melakukan apa apa.


“Begitulah yang terjadi bu, maaf aku tidak bisa cerita karena mas Bima melarang, mas Bima begitu tulus bu, ia ingin Ibu menerima hubungan kami, karena ibu sudah yakin bahwa mas Bima memang sangat layak menjadi menantu, bukan berdasarkan latar belakang keluarga, apa lagi kasihan setelah mendengar kebenaran perihal masa lalu kedua orang tua mas Bima dengan Pakdhe Cokro dan Budhe Wulan.”


Tari yang sedang sensitif akibat hormon kehamilannya pun berkali kali mengusap air matanya pasca mengetahui kisah masa lalu Bima.


“Tolong bersikap biasa saja, mas Bima tidak ingin menjadi sosok yang dikasihani, dia hanya menginginkan keluarga lengkap yang normal, seperti keluarga lain pada umumnya.” Sherin kembali menegaskan keinginan Bima.


Sherin memeluk pundak bu Roro, “maafkan ibu ya nak, ibu sudah egois pada kalian,” 


Sherin mengangguk, “Ibu tidak salah, ibu sangat berhak melarangku jika aku berbuat salah, apalagi salah memilih jodoh.” 


*


*


*


Menjelang jam 7 malam, Bima keluar dari kamar dalam kondisi segar usai mandi dan berganti baju santai. 


Semua mata langsung tertuju padanya, “Kenapa semua melihatku?” tanya Bima kikuk, iia sungguh canggung karena sudah tertidur sangat lama, bahkan bangun ketika malam menjelang larut.


namun sebentar kemudian semua orang di ruang tengah itu tersenyum begitu saja.

__ADS_1


Bima mengambil tempat di sisi Sherin yang masih kosong. “maaf aku baru bangun, sejujurnya beberapa hari kemarin aku lembur kerja, supaya bisa cuti,” kata kata Bima terdengar canggung, bagaimana tidak, ia anggota baru di keluarga Sherin, tapi bersikap seenaknya saja.


“Tak apa, kami mengerti,” balas bu Roro.


“Yul … ayo siapkan makan malam, Ibu lapar.” pinta bu Roro.


Yulia tersenyum mengangguk, kemudian bersama Tari menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.


“Bu … malam ini boleh aku bawa Sherin keluar?”


Bu Roro, Fandy dan Bagas saling pandang sambil melempar senyuman, “Tentu saja, lha wong sudah jadi istrimu, kalian gak pulang juga gak papa,” jawab bu Roro disertai gurauan.


Fandy dan Bagas pun hanya tersenyum, sementara Wajah Sherin kembali memerah. “memang mau kemana kita?” tanya Sherin.


“Ke apartemenku, masih ada eyang di sana, dan besok pagi mereka kembali ke Jogja.” jawab Bima Lugas.


“Owalah … Ibu kira mau kemana.” kekeh bu Roro.


“Ibu tidak usah khawatir, kemana dan dimanapun kami tinggal, ibu akan ikut bersama kami, ibu mau kan?” tawar Bima.


Bu Roro mengangguk haru, “terima kasih nak, sudah bersedia menampung ibu.”


“Ibu bukan fakir miskin yang harus ditampung, tapi ibu adalah ibuku juga, yang wajib aku dan Sherin hormati, kami tak ingin jadi anak durhaka.” 


Sherin menatap wajah Bima dengan takjub, begitu dewasa suaminya, bukan hanya wajahnya yang tampan, kini kedewasaannya membuat hati Sherin jumpalitan karena merasakan semakin bertambah besar cintanya.


“Iya … iya … mentang mentang punya menantu baru, kami dilupakan,” Ledek Fandy pada bu Roro. “mas … kita dilupakan sama ibuk …” Fandy pura pura merengek pada Fandy kemudian memeluknya.


“Ayah kenapa menangis,” tanya Ricko yang kini masih menjadi bungsu.


“Nenek tidak sayang lagi sama ayah nak, kamu masih sayang sama ayah kan?” tanya Fandy.


“Iya … Ayah tenang saja, sampai kapanpun Ricko sayang ayah.” Ricko pun menghampiri Fandy kemudian memeluknya.


“Bocah Gemblung, merusak suasana saja.” gerutu bu Roro pad putra keduanya tersebut.


Hari ini adalah hari paling membahagiakan bagi bu Roro, karena anggota keluarganya kini bertambah, dan sebentar lagi akan bertambah dengan kehadiran sang jabang bayi, yang akan lahir beberapa hari kedepan.

__ADS_1


Malam itu, makan malam berlangsung lebih meriah dibandingkan makan malam pada hari hari biasanya.


__ADS_2