
BAB 35
Cokro menatap dingin pada gadis muda yang kini berdiri dan diam menunduk di hadapannya.
“Siapa kamu?” tanya Cokro dingin.
Dyah semakin bingung, ia pikir pras ada di sini, karena beberapa saat lalu ia memastikannya sendiri dengan menghubungi Pras, tapi nyatanya tidak ada siapapun di ruangan ini.
“Saya … cari Pras om.” jawab Dyah kikuk.
“Kamu dengar pertanyaan om? kamu siapa?” balas Cokro ketus.
Dyah semakin gugup, ia meremat ujung bajunya.
“S … s … ssaya Dyah om?” jawab Dyah lirih.
Cokro terdiam, wajahnya kini semakin dingin dan menyeramkan, nampak seki jika ia tak menyukai kehadiran Dyah.
“Mau apa ke sini? mau meminta pertanggung jawaban?” Tuduh Cokro.
Dyah menggeleng kuat.
“Tidak om, aku … eh … saya … mau melihat keadaan om.” jawab Dyah takut.
“Bohong …” pekik Cokro, “katakan saja berapa yang kamu inginkan?”
__ADS_1
Air mata Dyah semakin deras mengalir, “tidak om, saya tidak menginginkan uang.”
“Lalu? kamu menginginkan putra berhargaku? asal kamu tahu sampai mati aku tak akan mengakui anak harammu itu sebagai cucuku.”
Bibir Dyah bergetar menahan tangis, ia tak menyangka kedatangannya ke rumah sakit justru memantik kemarahan Cokro.
“Tapi om, anak ini tidak bersalah, dia bahkan hadir karena aku dan papanya saling mencintai.”
Cokro tersenyum mengejek, pria yang bertahun tahun menjalani rumah tangga tanpa cinta dari Wulan istrinya itu tak peduli, ia sendiri tak mendapatkan cinta, nyatanya tetap bisa memiliki anak. “hah … cinta, tanpa cinta pun orang bisa tetap memiliki anak, siapa yang tahu jika itu anak orang lain,”
Dyah mengepalkan tangannya kuat kuat, ia tidak menyangka papa dari kekasihnya sungguh tega menuduhnya bermain main dengan banyak pria, air matanya luruh begitu saja.
“Saya bukan wanita semacam itu om…”
Tepat sasaran, tak ada yang salah dengan perkataan Cokro, masalahnya adalah Dyah sudah terlanjur hamil, walau ia yakin papa dari anaknya tidak akan lari dari tanggung jawab, jadi Dyah hanya bisa diam tanpa sanggup membantah tuduhan Cokro.
“Pergilah … bukankah kamu tidak mau uang? jangan lagi menampakkan wajahmu di hadapan Pras!!” Suara Cokro semakin melengking.
Dyah yang masih terlalu sensitif karena sia muda nya, ditambah hormon kehamilan membuatnya segera berbalik hendak meninggalkan ruangan Cokro, namun tak disangka ia bertabrakan dengan Pras di depan pintu.
“Pras …” dengan suara lirih, ia menyebut nama kekasih nya, air mata membanjiri wajah nya.
Tanpa perlu dijelaskan Pras tahu apa yang terjadi, di peluknya gadis yang amat ia cintai, ia pun sedih ketika Dyah haru mendengar perkataan kasar dari papa nya.
Pras menggenggam erat kedua tangan Dyah, kemudian ia kembali membawa dyah kehadapan Cokro, “Kami akan tetap menikah, walau papa dan mama tidak merestui,” ujar Pras Yakin.
__ADS_1
“Dasar anak bodoh …” Cokro semakin emosi mendengar ucapan Pras.
“Iya, anggap saja kami bodoh, karena sudah berbuat salah, tapi kami kan tetap bertanggung jawab pada kebodohan kami,”
“Terserah, lakukan apa yang kamu inginkan, tapi jangan harap kamu akan menerima warisan dari papa.” ancam Cokro.
“Tak apa pah, kami juga tidak berharap, kami, lebih tepatnya aku, akan berjuang dengan keringatku sendiri menghidupi istri dan anakku, tanpa warisan papa, tanpa uang papa, bahkan tanpa restu dari papa.” Pras menatap tajam wajah Cokro.
Kepala Cokro kembali berdenyut hebat, dadanya pun kembali terasa nyeri, ia memegangi dadanya, dan nafasnya memburu, dan ia kembali pingsan.
“Pa … papa!!” Pras kembali memekik keras, ia melepaskan genggaman tangannya, kemudian berjalan cepat menghampiri tempat tidur Cokro, tak lupa tangannya menekan tombol darurat beberapa kali, agar petugas medis segera tiba.
Sementara Dyah ikut merasakan kecemasan melihat kondisi papa dari kekasihnya.
Tak lama perawat dan dokter segera datang untuk melakukan pertolongan, “keluarga silahkan menunggu diluar,” salah seorang perawat memberi instruksi pada Pras dan Dyah.
Sepasang kekasih itu melangkah keluar kamar, Dyah menggenggam erat lengan Pras, ia menangis karena rasa bersalah, “maafkan aku mas,” ujarnya lirih.
“Bukan salahmu, jika papa seperti ini, papa sering seperti ini, sebelumnya, hanya saja kali ini agak parah daripada sebelumnya, papa bahkan sering mengkonsumsi obat tanpa sepengetahuan aku dan mama,” jelas Pras, agar ibu dari anaknya tak ikut ikutan cemas.
“Andainya aku tidak datang, om pasti tidak akan pingsan.”
“Cepat atau lambat, papa harus mendengar ini, karena kita tidak bisa menunggu terlalu lama, aku tak ingin anakku terus terusan disebut anak haram, aku tidak rela Dee …” Pras mengusap perut Dyah yang masih rata, “Berjanjilah, sesulit apapun hidup kita nanti, kamu akan terus bertahan di sisiku,”
Dyah mengangguk dengan uraian air mata.
__ADS_1