Reynaa Dan Reyhan

Reynaa Dan Reyhan
Pamit


__ADS_3

Keesokan harinya Reynaa hanya bisa menunduk menyaksikan Fahri yang dihukum cambuk oleh Abinya sendiri, meskipun sudah disakiti oleh Fahri dia juga tidak tega melihat Fahri dihukum seperti itu.


Pak kyai sengaja menyuruh semua santri untuk istighosah di masjid yang letaknya jauh dari rumah pak kyai, beliau tidak ingin ada yang tahu tentang kemarahannya.


Reynaa yang tidak tega meminta pak kyai untuk menghentikan itu


"pak kyai sudah cukup! biar kak Fahri menjelaskan dulu!" pak kyai menurut


"sekarang jelaskan ke Abi kenapa kamu menyakiti Reynaa?" beliau masih menahan kesal


"bagaimana bisa Fahri tidak bisa menahan nafsunya, padahal sebentar lagi Reynaa jadi istrinya" batin pak kyai


"Reynaa maafkan aku, aku tidak sadar saat menyakitimu, tubuhku terasa aneh dan menginginkanmu. Mungkin kalau Abi tidak datang pasti aku sudah merenggut kesucianmu, tapi itu diluar kuasaku! maafkan aku!" sesal Fahri yang menunduk dihadapan Reynaa


Posisi mereka berhadapan dengan Fahri duduk lesehan didepan Reynaa yang duduk di kursi. Reynaa bisa melihat dengan jelas garis-garis kemerahan di punggung polos laki-laki itu, dia merasa ngilu dan kasihan kepada Fahri.


Dia tahu kalau Fahri melakukan hal itu karena dalam pengaruh obat perangsang, tapi kenapa hatinya sakit saat merasakan perlakuan Fahri tersebut


"pak kyai! Reynaa udah maafin kak Fahri. Jangan beritahukan masalah ini pada siapapun termasuk ayah! Reynaa akan lupakan semua ini jika pak kyai izinin Reynaa pulang" Reynaa terisak membuat Fahri merasa nyeri didalam hatinya


"Ga bisa Reynaa! kamu tanggung jawab Abi!"


"tapi Reynaa ga bisa lupa kalau masih ada disini!"


"Abi, izinkan Fahri menikahi Reynaa!" suara bergetar Fahri membuat Reynaa dan pak kyai terkejut


Pak kyai berfikir sambil memandang 2 anaknya itu bergantian


"apakah Fahri tidak tahu kalau dia dijodohkan dengan Reynaa? trus apa maksudnya ekspresi Reynaa ini? seakan Fahri membocorkan rahasia yang disembunyikannya, apakah ternyata mereka sudah punya hubungan spesial? apa mereka sama-sama tidak tau kalau mereka dijodohkan?" pak kyai melihat Reynaa yang memelototi Fahri seraya geleng-geleng kepala sedangkan Fahri mengangguk dengan wajah memelas


Pak kyai tersenyum tipis, seketika amarahnya hilang digantikan kebahagiaan. Usahanya mendekatkan mereka tidak sia-sia, beliau juga tahu kalau Fahri kemarin dalam pengaruh obat perangsang. Tapi melihat tingkah mereka membuat pak kyai ingin menjahili keduanya


"tidak! Reynaa akan menderita jika punya suami seperti kamu!"


"tapi kita saling mencintai Abi!"


"Reynaa! apa benar begitu?"


"tidak pak kyai, Reynaa cuma cinta sama laki-laki yang dijodohkan ayah!" Reynaa menggeleng mantap


Pak kyai melihat itu sebagai kebohongan karena setelah itu Reynaa menunduk seakan menyesal. Sedangkan Fahri memandang Reynaa dengan raut kekecewaan


"yasudah, kemasi barang-barang kamu. Abi akan suruh ayah kamu datang nanti sore"


"baik pak kyai, terimakasih!"


Reynaa segera berlalu dan pergi dari rumah itu, dia menarik nafas dalam-dalam dan melepaskannya, berada didalam rumah itu membuat Reynaa susah untuk bernafas. Sedangkan 2 pria yang ditinggalkan Reynaa masih saja mengawasinya dari tempatnya, setelah kira-kira tidak terlihat pak kyai kembali memandang anaknya. Entah apa yang dirasakan beliau


"Fahri, berdirilah! Abi ingin kamu tinggal di rumah dan berangkat kuliah dari rumah. Jangan berteman dengan teman yang terakhir kamu temui, mengerti?"


"iya Abi!" Fahri menurut meski dia masih bingung dengan omongan Abinya


"Abi! gimana dengan Fahri dan Reynaa? Fahri sangat mencintai Reynaa Bi! Fahri rasa Reynaa juga begitu, dia cuma memilih untuk membahagiakan ayahnya dan menurut untuk dijodohkan. Reynaa tidak mau memperjuangkan hubungan kami"


"Reynaa sudah bilang dia hanya cinta sama laki-laki yang dijodohkan dengannya" setelah mengucapkan itu, pak kyai meninggalkan Fahri yang tampak kecewa

__ADS_1


Pak kyai kembali berfikir, beliau sudah ada di dalam kamar dan ada istri disampingnya. Kalau mereka saling mencintai berarti itu sudah langkah yang benar agar mereka tidak terlalu dekat dan beliau menyesal telah mendekatkan keduanya


"bagaimana kalau mereka ternyata pernah melakukan yang lebih dari itu?" pak kyai sibuk dengan pikirannya sendiri


"Bi! udah jangan dipikirkan! kejadian kemarin bukan kesengajaan" bujuk umi Zahra, beliau tau karena kemarin melihat Fahri yang seperti tidak sadar


"iya kemarin katanya habis belajar bersama temannya, mungkin ada yang mau menjebak Fahri"


"oh ya, Abi harus telpon Indra"


"kayaknya Umi bakal sedih ditinggal Reynaa, kalau kita datang melamar apa Reynaa mau menerima Fahri?"


"Abi juga gak tau Mi"


Ketika Fahri dihukum Uminya tidak ada ditempat, beliau lebih memilih dimasjid ketimbang melihat anaknya di cambuk. Sehingga beliau tidak tahu cerita cinta anaknya


Reynaa sedang mengemasi barang-barangnya, tiba-tiba datanglah kedua sahabatnya. Dua gadis itu bingung melihat apa yang dilakukan Reynaa


"Rey, kamu mau kemana? kok ngemas barang?"


"gue mau pulang!" jawab Reynaa dengan raut wajah dibikin ceria


"kamu tega ninggalin kita?"


"sorry, gue harus pulang. Kalean kan bisa kerumah!"


"gimana caranya Reynaa?"


"Lo kan bisa minta jemput Abang gue, beres deh!" Reynaa menjawab enteng, tapi yang yang mendengar matanya mulai berkaca-kaca. Dua sahabat Reynaa langsung berhambur memeluk Reynaa


"udah deh! jangan lebay!"


"kita ga lebay tau! kita serius sedih, kamu kapan baliknya?"


"gue dateng pas wisuda"


"trus ujiannya gimana?"


"gue Reynaa Malika Ibrahim, gue bisa datengin soalnya kerumah!"


"iya-iya, anak horang kayah!" ejek Aisyah dan Nisa


"maafin gue yah, salah gue banyak ke kalian! kalian harus janji nikahnya harus sama Abang dan kakak gue!"


"yee kebalik kali"


"udah-udah bantuin gue ngemas!"


...


Ayah dan bunda Reynaa sudah sampai di rumah pak kyai, mereka sudah duduk diruang tamu yang ditemani kyai Maulana, istri dan anaknya. Terdengar suara renyah ayah Reynaa dan pak kyai yang saling melepas rindu


"tambah gemuk aja kamu mas!" bunda Anjani bergabung ke obrolan suaminya dengan kyai Maulan


"gimana ga gemuk, anak kamu selalu saja mengomeli masmu ini biar makan banyak, ngalahin aku ngomelnya" jawab Umi

__ADS_1


"oh ya? Reynaa sampe segitunya? aku aja ayahnya sendiri ga pernah digituin!"


"Reynaa sudah berubah! lihat saja besok kalau dirumah kalian" timpal pak kyai


Mereka sama sekali tidak membicarakan tentang kenapa Reynaa pulang, karena sudah dibicarakan di telpon dan kyai Maulana tidak memperbolehkan bicara masalah itu saat menjemput Reynaa


Ayah Reynaa melihat Fahri yang sedari tadi tertunduk, mungkin karena merasa bersalah.


"Fahri kalau gak salah kamu kuliahnya bidang bisnis ya? kamu boleh datang ke perusahaan Om, kamu bisa belajar berbisnis disana!"


"iya Om terimakasih!" Fahri gugup


"jangan terimakasih aja! kamu harus datang ke sana! Om akan tunggu kamu!"


"iya! Fahri akan datang!"


"satu lagi! jangan bergaul dengan sembarang teman! kamu harus pilih-pilih mana yang baik mana yang buruk"


"iya"


"kok iya aja? Om minta tolong panggilkan Reynaa mau?"


"iya Om...eh" Fahri kaget dengan jawabannya sendiri, dia terlalu takut untuk bertemu dengan Reynaa lagi


"maaf Om tapi Reynaa mungkin tidak mau melihat Fahri!"


"kenapa?" Fahri semakin gelisah dan bingung dengan pertanyaan ayah Reynaa


"Fahri akan panggilkan Reynaa!" Fahri pergi menghampiri kamar Reynaa


Fahri sudah ada di depan pintu kamar Reynaa, dia merasa gugup, takut, gelisah dan bingung. Gimana caranya bicara dengan Reynaa


"as..assalamualaikum" Fahri gugup


Lalu pegangan pintu kamar itu bergerak dan ada tiga gadis yang keluar dari sana


"waalaikum salam Gus!" jawab Aisyah dan Nisa, sedangkan Reynaa hanya menatap Fahri dan menjawab salam lirih


"emm.. anu ayah Reynaa udah datang, Reynaa disuruh bersiap!" tiga gadis itu masuk ke kamar dan kembali dengan menenteng beberapa tas bawaan. Fahri segera merebut tas yang dibawa ketiganya


"biar aku yang bawa!" Reynaa menatap laki-laki itu, entah apa yang Reynaa rasakan. Rasa cintanya masih tidak berkurang, tapi dia masih takut kalau teringat kejadian kemarin


Barang bawaan Reynaa sudah dimasukkan ke bagasi oleh Fahri, terlihat Reynaa yang sedang mencium tangan pak kyai dan Umi untuk berpamitan


"pak kyai umi! Reynaa pamit!"


"Umi sedih kamu pergi Reynaa!" Umi memeluk Reynaa


"maaf Umi! nanti Reynaa kesini lagi kalau wisuda"


"lama sekali! kamu harus kembali tinggal di sini lagi!"


"maaf Umi" kata Reynaa yang berarti penolakan. Fahri melihat dua wanita yang dicintainya yang menangis dengan perasaan sedih dan kecewa.


Saat Reynaa menghadap Fahri, suaranya terasa tercekat untuk berpamitan kepada lelakinya itu. Mereka hanya berpandangan, sepasang kekasih itu merasakan rasa sakit yang sama tapi mereka hanya memendam perasaan mereka masing-masing.

__ADS_1


Akhirnya Reynaa melewati Fahri dan segera masuk ke mobil meninggalkan Fahri yang sangat kecewa dan bersalah


__ADS_2