
Reynaa dan Fahri tiba di rumah sakit terdekat setelah menempuh perjalanan setengah jam. Terlihat Reynaa yang tidak sadarkan diri digendong ayahnya keluar dari mobil, ayah meletakkan tubuh bersimbah darah Reynaa diatas brankar yang sudah disiapkan petugas. Kemudian disusul Fahri yang dipapah oleh Reyhan dan Bagas
Fahri masih bisa sadarkan diri, dia melongo kearah brangkar Reynaa yang sudah meninggalkannya. Dia merasa khawatir dengan keadaan Reynaa, tanpa memperdulikan keselamatannya sendiri
"heh Fa, ayo naik! Gue gendong nih!" ucap Reyhan yang melihat Fahri bengong menatap kearah Reynaa
"Reynaa gimana? dia bakal baik-baik aja kan rey?"
Reyhan tidak habis pikir dengan Fahri, mungkin Fahri sudah dibuat jadi Bucin akut oleh adiknya
"yaelah, masih aja mikirin adek! Lo pikirin keadaan Lo dulu!"
"tapi dia pingsan, lukanya pasti lebih parah dari lukaku!"
Reyhan tidak bersuara lagi, dia mengkode Bagas dengan kedipan. Mereka mengangkat tubuh Fahri untuk ditidurkan diatas brankar
Dokter langsung melakukan tindakan operasi kepada keduanya. Mereka harus mengeluarkan peluru yang bersarang di dalam perut Reynaa, dan tindakan operasi ringan untuk menjahit luka Fahri. Mereka ada di ruangan yang sama dan hanya terpisah oleh tirai. Diluar ruangan itu banyak orang dengan raut wajah khawatir, tentu saja mengkhawatirkan keadaan keduanya
...
Lima jam kemudian, Fahri sudah sadarkan diri setelah melewati proses operasinya. Sudah ada kyai Maulana dan istrinya disana, setelah operasinya sukses Fahri langsung dipindahkan ke ruang perawatan
"Abi Umi, keadaan Reynaa gimana?"
"Reynaa baik-baik aja! kamu jangan khawatirkan dia dulu, harusnya kamu pikirkan kesehatan kamu!"
"tapi Bi! Reynaa kena tembak, luka tembak pasti lebih parah dari luka Fahri!"
Fahri bangkit dari tidurnya, dia ingin pergi ke tempat Reynaa dirawat
"kamu mau kemana Fahri!"
"Fahri harus lihat keadaan Reynaa Mi!"
"kata dokter kamu masih gak boleh gerak!"
Fahri tidak menghiraukan perkataan Uminya, sambil meringis menahan sakit Fahri tetap turun dari ranjang dan meraih tabung infusnya
Dengan terpaksa umi Zahra harus membantu Fahri yang keras kepala, beliau khawatir Fahri terjatuh kalau tidak dibantu.
"kamu kok keras kepala sih Fa?"
"Fahri khawatir sama Reynaa Mi!"
"kamu gak sadar ya? kondisi kamu mengkhawatirkan juga!"
"Fahri gak peduli mi!"
Jawaban Fahri membuat umi geleng-geleng kepala, beliau tidak lagi menimpali omongan putranya
Reynaa dirawat dikamar yang tidak jauh dari kamar Fahri. Terlihat ayah, bunda, Reyhan, eyang dan beberapa orang lainnya duduk didepan kamar rawat Reynaa
__ADS_1
"Ayah, keadaan Reynaa gimana?" tanya Fahri yang membuat semuanya melongo kearahnya
"loh? Fahri kamu ngapain disini, kamu harus banyak istirahat!" ucap bunda yang langsung ikut membantu Fahri dilengang yang satunya
"Reynaa gapapa! tapi masih belum sadar! Reyhan ambilkan kursi roda buat Fahri!" jelas ayah
Reyhan lalu mendorong kursi roda yang sudah ada Fahri duduk diatasnya masuk kedalam kamar, terlihat Reynaa masih terlelap. Dengan rasa bersalah Fahri memandang wajah pucat itu
"operasinya sukses, tinggal tunggu sadarnya aja. Lo gak usah khawatir! Lo itu sakit juga" jelas Reyhan
"Dia begini gara-gara lindungi aku Rey!" setetes air mata mengalir dari mata Fahri
Tiba-tiba saja ada dokter cantik memasuki ruangan itu
"mas Fahri tidak seharusnya ada disini, anda harus istirahat di ruangan anda! Anda tidak boleh banyak gerak! luka anda masih belum kering!" omel dokter cantik itu
"maaf dokter, saya masih mau menunggu istri saya sadar!" ucap Fahri lirih.
Reyhan yang ide usilnya muncul, tiba-tiba ingin mengerjai Fahri si Bucin akut
"bukannya Lo udah talak adek gue ya? berarti dia bukan istri Lo lagi!" ucap Reyhan dengan nada serius
"aku ga bermaksud ceraikan Reynaa, aku terpaksa melakukan itu Reyhan! kalau perlu, aku bakal nikahin Reynaa lagi sekarang juga!" ucap Fahri yang membuat Reyhan tidak bisa menahan tawanya, bagaimana bisa Fahri lupa dengan kejadian semalam
Dokter Dewi yang sedari tadi menyimak obrolan absurd dua pria itu merasa kesal, apalagi dengan tawa Reyhan
"Hey kamu ya! saudara kamu belum sadarkan diri, malah ketawa sampai terbahak-bahak! ini rumah sakit" tegur dokter Dewi jengkel
"maaf dok! abisnya si Bucin akut ini bikin saya geli!"
"ada apa sih Rey? adek kamu belum sadar, malah bikin ribut" tanya ayah
"ini yah! si Fahri ga mau kembali ke kamarnya!" jawab Reyhan yang membuat ayah geleng-geleng kepala
"dokter, ranjang pasien ini bawa kesini aja ya!" ucap ayah menengahi
"yasudah!" ucap dokter itu pasrah dan berlalu pergi
...
Fahri tidak bisa memejamkan matanya meskipun jam sudah menunjukkan pukul setengah empat dini hari. Sesekali dia menoleh ke arah Reynaa yang masih setia menutup mata. Didalam ruangan itu tidak hanya ada mereka berdua, disana juga ada umi, bunda, ayah, Nisa, Reyhan, dan Bagas.
Ruangan itu kini diubah menjadi layaknya penampungan, dengan para perempuan tidur diatas sofa dan para laki-laki tidur lesehan beralaskan kasur lipat. Untungnya ruangan tersebut adalah ruangan VIP yang luas, sehingga tidak membuat mereka merasa sempit dan tidak nyaman
Dengan hati-hati Fahri mendudukkan tubuhnya, luka diperutnya masih terasa nyeri. Sebenarnya selain karena masih khawatir dengan keadaan Reynaa, dia tidak bisa tidur karena lampu ruangan itu yang tidak dimatikan. Lampu dibiarkan terus menyala karena Reynaa yang takut dengan kegelapan
Fahri memandang lekat wajah ayu Reynaa, jarak antar ranjang mereka kira-kira hanya dua meter. Raut wajahnya berubah sendu, kenapa sejauh ini Reynaa masih belum sadarkan diri? Fahri turun dari ranjangnya, dia ingin duduk di kursi sebelah Reynaa. Dia berusaha agar tidak menimbulkan suara berisik dan akhirnya setelah susah payah Fahri berhasil duduknya disana
Fahri menciumi tangan Reynaa yang terbebas dari selang infus, menggenggamnya erat dan memandang wajahnya lekat
"sayang, kamu kenapa belum bangun?" ucapnya lirih
__ADS_1
Setelah beberapa saat kemudian, dahi Reynaa berkerut dan itu langsung ditangkap oleh Fahri yang sedari tadi tidak berhenti memandang wajah itu
Reynaa mengangkat tangan dan memegang kepalanya, dia melenguh karena rasa pusing di kepalanya
"Reynaa kamu pusing?" tanya Fahri cemas
"kak Fahri? kakak nungguin aku?" Reynaa bingung mendapati Fahri yang ternyata duduk disebelahnya
"aku gak bisa tidur kalau lampunya menyala! kamu mananya yang sakit? perut kamu masih sakit? atau kamu mau duduk?"
"aku lapar kak!"
Perasaan senang karena Reynaa tersadar seketika berubah kikuk, pasalnya berjalan dua meter saja Fahri harus dengan susah payah. Apalagi harus pergi keluar rumah sakit untuk mencari makanan untuk Reynaa.
"okeh aku belikan bubur ayam ya?" ucap Fahri sambil meringis melepas selang infus di tangannya
"eh eh, kak Fahri jangan gitu! biar minta tolong ke Abang aja! kak Fahri masih sakit"
"udah, kak Fahri gapapa! kamu jangan berisik biar gak ada yang bangun!"
"tapi kak!"
Meskipun suara mereka tidak terlalu keras, bunda masih mendengarnya. Beliau terbangun karena mendengar suara mereka
"Reynaa, kamu sudah siuman?"
"ini bunda, kak Fahri mau pergi cari makanan buat aku. Kak Fahri kan sakit!"
"yaudah, Fahri sekarang kamu kembali ke ranjang kamu! biar bunda yang minta tolong Reyhan!"
"tapi Bun, Fahri gapapa!"
"jangan membantah!"
Dengan malas Reyhan melangkahkan kakinya melewati koridor rumah sakit, matanya masih belum terbuka sempurna. Dia sebal kepada bundanya, kenapa tidak Bagas saja yang disuruh?
"ih, bunda resek!" ucapnya kesal
"mau cari kemana bubur ayam subuh-subuh gini? resek tuh adek.. Fahri juga .. haaah!" omelnya lagi saat memasuki lift
Empat puluh menit kemudian Reyhan datang dengan sepuluh wadah bubur ayam, dia mendapati adiknya dan Fahri sama-sama duduk di ranjang mereka masing-masing sedangkan bunda duduk di kursi diantara mereka sedang sibuk dengan ponselnya. Reyhan memberi salam dengan tersenyum geli
"udah dapat Rey?" tanya bunda yang terus meletakkan ponselnya dan mengambil alih bawaan Reyhan
Bukan karena apa-apa Reyhan membeli makanan dengan sepuluh porsi, dia yakin kalau makanan itu tidak akan bersisa malah mungkin akan kurang. Reyhan hafal adiknya pasti akan makan banyak dan Fahri juga belum makan sedari siuman, mengingat hal itu Reyhan sangat geregetan dengan sikap Fahri. Tadi Fahri bilang tidak mau makan sebelum Reynaa siuman. Bahkan kalau masih bersisa untuk dua orang itu, sisanya bisa untuk yang lain
Fahri mengunyah makanannya sambil senyum-senyum melihat ekspresi Reyhan yang sangat kesal. Reyhan dipaksa bunda untuk menyuapinya dan bunda sendiri menyuapi Reynaa. Sebenarnya Fahri bisa melakukannya sendiri, tapi dia lebih suka melihat wajah jengkel kakak iparnya.
Fahri menahan tawanya mengingat seberapa kesalnya Reyhan saat ingin kembali tidur dan dilarang oleh bundanya
"puas Lo?" tanya Reyhan jengkel
__ADS_1
"bunda, Reyhan nggak ikhlas nyuapinnya!" adu Fahri
"isshh, nih lagi!" sahut Reyhan sambil menyodorkan bubur satu sendok penuh. Saking kesalnya Reyhan sangat ingin membalas mengerjai Fahri, sambil terus menyuapi dia memikirkan cara apa untuk mengerjai adik ipar reseknya