Reynaa Dan Reyhan

Reynaa Dan Reyhan
Menyerah 2


__ADS_3

Reynaa memasuki kafe di dekat kantor ayahnya, dia mencari keberadaan Yanto yang sudah membuat janji temu dengannya


"Cinta sini!" Teriak Yanto dari kejauhan sambil melambaikan tangan


"Bawa yang gue minta nggak?" Tanya Reynaa setelah mendudukkan dirinya, dia melambaikan tangan kepada waiters disana


Reynaa memesan beberapa makanan ringan dan berat, hari ini Reynaa dibuat sibuk dengan pekerjaan di kantor ayah, proyek dan juga restoran. Sembari Reynaa menyebutkan menu yang dipesan, Yanto mencari apa yang Reynaa minta dalam tasnya


"Ini didalamnya udah lengkap, file akad nikah sama pesta komplit dan belum disebar sesuai perintah. Dan ini handphone udah bikin jiwa kelaki-lakian gue keluar. Gue minta nih hape sampe hampir berantem sama pak polisinya!"


Reynaa terkekeh dengan apa yang Yanto bicaranya


"Thanks ya Yanti, Lo sahabat gue yang paling the best!" Pujinya sambil menepuk pundak Yanto


"Gue juga seneng bisa bantu cintaku" sahut Yanto manja, perbuatannya membuat risih waiters yang mengantar makanan mereka


"Makasih ya mbak! Yanti, Lo mau makan yang mana?" Ucap Reynaa membantu waiters itu menata makanan di meja


Yanto senang melihat Reynaa yang makan dengan lahapnya, Reynaa terlihat lebih baik setelah kejadian 3 minggu yang lalu


"Cinta, Lo udah baik-baik aja?" Tanya Yanto disela makannya


"Kalo ngomong gak boleh makan, eh salah kalo makan gak boleh ngomong!" Jawab Reynaa setelah mengunyah makanannya, Yanto hanya cemberut dan meneruskan makannya


Setelah menunggu lama, akhirnya Reynaa bisa menghabiskan semua makanannya


"Alhamdulillah ya Allah! Maafkan hamba kalau rakus!" Ucap Reynaa lalu mengusap mulutnya dengan tisu


"Cinta, Lo udah baik-baik saja?" Tanya Yanto mengulang pertanyaan yang sama


"Gue capek sedih mulu, nangis mulu! Kak Fahrinya tetep aja kaya gitu, liat nih mata panda gue!" Ucap Reynaa menunjuk matanya


Yanto menepuk pundak Reynaa menguatkan, sebenarnya dia merasa kasihan kepada Reynaa


"Lo yakin bakal terus bertahan kaya gini?"


"gak tau juga sih, kayaknya gak ada harapan lagi! Gue capek, gue udah bukan siapa-siapa buat dia!"


"Trus selanjutnya apa?"


"Gak tau deh, semua yang gue lakuin cuma sia-sia! Malahan bikin dia ilfill ke gue, masak gue dibilang barbar!" Jelas Reynaa frustasi


Reynaa baru teringat, apa yang dia minta masih ada yang kurang


"Oh ya, Lo udah minta surat kepindahan gue kan?" Tanya Reynaa sambil membuka laptop


"Ya ampun hampir lupa! Lo kenapa sih mau pindah-pindah segala? Kan ga asik kalau kita pisah" ucap Yanto yang merogoh tasnya


"Kak Fahri udah sehat dan dia bakal kuliah lagi, gue gak mau semua orang tahu masalah gue!" jelas Reynaa

__ADS_1


"Trus mau pindah ke mana?"


"Tau deh, gue gak ada mood buat kuliah!"


Reynaa kembali mengecek semua file yang ada di laptopnya sebelum diserahkan ke Yanto


"Yanti, nih gue gak mau lagi urus resto! gue minta tolong Lo dan Luna yang urus yah!" ucapnya dengan menyerahkan laptop lalu mengemasi barangnya


"yang bener cin? gue gak salah denger kan?"


"ya gak lah! yaudah ya, gue mau pulang! trus jangan sampe Luna, Rita, Devi tahu masalah kepindahan itu! oke!" ucap Reynaa dan berlalu pergi meninggalkan Yanto yang masih menganga tak percaya


...


Seminggu tanpa kesibukan kuliah dan mengurus restoran, membuat Reynaa lebih leluasa datang kapan saja kerumah Abi Maulana. Ditambah lagi dia diminta untuk menjadi ustadzah di madrasah dan pesantren yang membuatnya tidak perlu mencari alasan lagi untuk datang kesana


Reynaa mematikan kompornya setelah nasi goreng yang dimasaknya sudah matang, dia segera menuju ruang makan dimana sudah ada ayah, bunda dan Nisa kakak iparnya. Memang benar kalau kini Reynaa tinggal bersama ayah dan bundanya


"bibi, nasi gorengnya tolong taruh di Lunchbox ya!" titahnya sembari duduk di meja makan


"dari tadi ditungguin!" omel bunda yang sedari tadi memanggilnya untuk bergabung


"kan baru selesai masaknya bunda! oh ya, habis makan Reynaa mau ngomong sesuatu"


Reynaa dan keluarganya sarapan pagi dengan hening dan tenang, tidak ada yang bersuara disela makannya


"ayah kan tahu gimana hubunganku sama kak Fahri! kalau Reynaa putusin menyerah, Reynaa boleh gak tinggal jauh dari sini? Reynaa udah capek dan mau nenangin diri! mungkin lain kota atau lain pulau!"


Semua hanya terdiam, tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Reynaa. Reynaa segera berdiri setelah melirik jam tangannya


"aku mau ngajar dulu, tidak ada jawaban berarti setuju ya!" ucap Reynaa sambil mencium tangan ayah dan bundanya, sementara keduanya masih terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing


Nisa memanggil kedua mertuanya, menyadarkan mereka dari lamunan


"Ayah bunda! Reynaa gimana?" tanya Nisa yang membuat keduanya langsung bangkit dan mengejar Reynaa


Ayah dan bunda bingung harus bagaimana, di satu sisi mereka kasihan melihat Reynaa menderita. Tapi di sisi lain mereka tidak rela kalau harus berjauhan dari Reynaa


...


Reynaa memarkirkan mobilnya di pelataran madrasah yang sedikit jauh dari rumah Fahri, dia membawa 5 box pizza untuk para guru disana. Setelah memberikannya, dia kembali ke mobil untuk mengambil Lunchbox berisi nasi goreng buatannya yang akan dia berikan kepada Uminya


Reynaa memasuki rumah itu dan mencari keberadaan penghuninya, tidak ada tanda-tanda adanya orang disana. Dia berjalan ke arah dapur dan mendengar samar-samar suara seseorang


"Abi, Fahri mohon! lamar Aisyah buat Fahri Bi!" ucap Fahri yang membuat Reynaa menghentikan langkahnya, posisi mereka kini hanya terpisah oleh gorden


Reynaa syok saat mendengarnya, apa amnesia juga merubah hati Fahri? apa memang sebelum dirinya ada Aisyah di hati Fahri? perlahan Reynaa melangkah mundur, dia letakkan Lunchbox yang dibawanya di meja ruang tamu. Reynaa keluar dari rumah itu dengan perasaan yang amat sakit, dadanya terasa sesak. Kekuatan untuk bertahan yang selama ini dia genggam kini telah luruh


Reynaa berhambur memeluk sang umi setelah mencari dan menemukannya di masjid. Reynaa menumpahkan tangisannya disana

__ADS_1


"Reynaa kamu kenapa sayang?" tanya umi yang bingung dan khawatir dengan Reynaa. Tidak ada jawaban, Reynaa hanya menangis dan terus menangis. Umi hanya bisa menepuk dan mengelus punggung Reynaa supaya lebih tenang


Setelah puas menangis Reynaa mencoba untuk bersuara


"Umi, Reynaa mau menyerah! Reynaa mau pergi yang jauh dari sini, Reynaa udah capek bertahan!" ucapnya dengan masih terisak


"kamu yakin? bukannya kamu biasanya selalu semangat dan gak peduli sama sikap Fahri!"


"Reynaa udah capek Mi! Reynaa akan pergi yang jauh dan gak akan kembali sebelum kak Fahri ingat Reynaa!"


...


Reynaa masuk ke kamar Fahri tanpa permisi, dia pergoki Fahri sedang memakan makanan yang dibawanya. Ada sedikit rasa senang dihatinya, tapi Reynaa segera menepis rasa itu dan kembali pada tujuan semula. Fahri yang terkejut dengan kedatangan Reynaa merasa tercyduk


"kamu mau apa? masuk kamar orang nggak permisi!" tanya Fahri sarkas seperti biasa


Fahri meletakkan wadah makanan itu di nakas dan segera menghampiri Reynaa. Fahri mencekal tangan Reynaa guna menyuruhnya keluar


"gue mau bicara!" ucap Reynaa datar seraya menepis genggaman Fahri, Fahri bingung dengan sikap Reynaa yang berbeda


"Lo tau kan kalau gue ini pacar Lo? tapi dengan sikap Lo yang selalu acuh dan gak pernah hargai gue, gue yakin Lo gak pernah anggap gue sespesial itu. Jadi gue mau kasih tawaran ke elo, Lo mau kan putusin gue?"


Fahri terkejut dengan perkataan Reynaa, memang dia tidak pernah menganggap Reynaa pacarnya. Bahkan permintaan Reynaa itu yang dia tunggu, tapi kenapa ada rasa bersalah yang sekarang muncul. Fahri tetap terdiam dan memandang lekat perempuan dihadapannya itu, ada luka dimatanya


"gue mau kita putus, tapi sebelum itu gue mau yakinin diri gue dulu!"


Reynaa maju satu langkah, menghilangkan jarak diantaranya. Reynaa menarik tengkuk Fahri dan mendaratkan ciuman di bibirnya. Lagi-lagi Fahri dibuat terkejut dengan apa yang Reynaa lakukan, dia merasa aneh, dia merasa pernah melakukan hal itu sebelumnya, dia merasa bibir itu sudah pernah dirasakannya


Cukup lama Reynaa melakukannya, tidak ada penolakan ataupun sambutan dari lawannya. Tapi setelah beberapa lama tanpa diduga Fahri mendorongnya menjauh, dia mendaratkan tamparan di pipi Reynaa. Apa yang Fahri lakukan membuat hati Reynaa semakin hancur


"ternyata kamu semurahan itu ya?" sarkas Fahri


Reynaa tidak bisa lagi menahan emosinya, dia menarik baju Fahri dan menonjoknya sekuat tenaga. Akibatnya Fahri terdorong dan tersungkur ke atas ranjang, Reynaa menghampiri dan menindih tubuh Fahri


"asal Lo tahu! gue tuh istri Lo, gue gak bakal terus bertahan kalau gue memang bukan siapa-siapa Lo! tapi gue sadar, sekarang gue bukan siapa-siapa Lo lagi! gue bakal pergi jauh dari Lo supaya Lo puas!" ucap Reynaa berapi-api


Dengan leluasa Reynaa menonjok Fahri bertubi-tubi, dia tumpahkan semua kekesalannya. Sedangkan Fahri hanya bisa menahan rasa sakit dari semua pukulan yang Reynaa berikan tanpa perlawanan


"dasar, cowok brengsek!" umpat Reynaa bersama pukulannya


Setelah dirasa puas, Reynaa berhenti dan segera pergi. Dia tak peduli dengan keberadaan Abi dan Umi yang ternyata menyaksikan apa yang dia lakukan. Abi dan Umi hanya membiarkan Reynaa pergi, tanpa menahannya lagi. Mereka tahu apa yang Reynaa rasakan saat ini


Mereka lebih memilih menghampiri sang anak yang masih mematung kebingungan


"Umi, maksud dia apa mi?" tanya Fahri kepada Uminya, dia benar-benar tidak mengerti


"Umi gak berhak jelasin nak, biar waktu yang menjawab dengan sendirinya!"


Tiba-tiba Fahri merasakan nyeri di kepalanya, terus memikirkan apa yang Reynaa ucapkan membuat sakit kepalanya timbul kembali

__ADS_1


__ADS_2