
Fahri membuka mata karena suara adzan subuh, dia memegangi kepalanya yang terasa sangat berat. Fahri sadar kalau posisinya sudah berada di atas ranjang, tidak seperti sebelum dirinya pingsan. Kemungkinan abinya lah yang sudah memindahkan dirinya dari posisi semula
Fahri keluar kamar meskipun berjalan dengan susah payah, dia pergi ke dapur untuk minum karena sangat haus
"astaghfirullah, Fahri!" ucap umi yang selesai berwudhu dan akan pergi ke masjid, beliau yang melihat anaknya kesulitan segera menggandeng tangan Fahri membantu berjalan
Setelah meneguk segelas air yang diberikan Uminya, Fahri tertunduk lesu. Sang umi tidak tega melihat anaknya seperti itu
"Fahri, kamu gak papa kan? semalam kamu pingsan?"
"Umi, Fahri itu suami yang brengsek! Fahri harus ketemuin Reynaa secepatnya, Fahri harus berlutut dikakinya umi"
Umi hanya bisa mengelus pundak Fahri menenangkan, berharap apa yang dikatakan Fahri segera menjadi kenyataan
...
Keempat sahabat Reyhan hanya bisa celingukan mencari makanan yang tidak tersedia di meja makan, mereka tidak berani untuk bertanya kepada kedua kembar yang tak terlihat batang hidungnya. Mereka hanya bisa bersabar menunggu sang empunya rumah dan juru masak di rumah itu keluar dari kamar meskipun rasa lapar mereka rasakan, mereka masih sadar dengan posisi mereka yang hanya menumpang
Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, dengan wajah memelas mereka mengadu kepada Reyhan kalau masih tidak ada makanan apapun di atas meja.
'Rey, adik Lo masih belum keluar kamar! gak ada makanan apapun di meja, gue udah laper banget' lapor Jimmy kepada Reyhan, Reyhan yang juga sudah merasa lapar dan juga mengkhawatirkan adiknya segera menggedor pintu kamar Reynaa
Sebenarnya Reynaa sengaja tidak memasak, dia dalam mode ngambek kepada Reyhan yang tidak mau menuruti permintaannya semalam
"dek, Lo kok gak masak!" tegur Reyhan setelah pintu terbuka
"males aja! kaya Lo kalo pas ponakannya pengen liat papihnya joget! males!" jawab Reynaa datar dan itu malah membuat Reyhan gemas
Reyhan mencubit gemas pipi Reynaa, dia harus mengalah kalau tidak mau kelaparan
"yaudah oke! gue bakal joget-joget kaya boyband Korea itu, asal Lo nontonnya sambil masak"
"okeh" jawab Reynaa mantap sambil berjalan menuju TV, dia menyalakan tv itu dan memutar video music girlband wonder girl berjudul Nobody
__ADS_1
Hal itu membuat semua orang kebingungan apalagi Reyhan yang melongo tak percaya, masak iya dia harus berjoget seperti itu
"dek, yang bener aja Lo! ngikutin yang cowok aja bikin gue geli apalagi yang cewek? ihh, kaya ulet gitu jogetnya!"
Keempat sahabat Reyhan menahan tawanya, mereka membayangkan bagaimana lucunya Reyhan menari seperti yang ada di tv itu
'ehh, jangan ketawa kalian! kalo mau dapat makan joget juga bareng Abang gue!' tegur Reynaa sambil berjalan menuju kulkas, dia mengeluarkan bahan makanan yang akan dimasaknya
Sebelum mulai memasak, tak lupa Reynaa menyetel perekam video di ponselnya yang dia arahkan ke Reyhan dan yang lain. Reynaa mulai memotong bawang putih, bawang bombai, dan sosis, dia berencana untuk memasak nasi goreng makanan yang simpel dan mudah dibuat
Akhirnya Reynaa kembali ceria lagi, dia mengaduk nasi goreng buatannya sambil bersorak kepada Reyhan. Reyhan yang disoraki hanya bisa pasrah, dengan rasa kesalnya dia tetap mengikuti gerakan tarian konyol itu demi sepiring nasi goreng
...
Fahri memarkirkan mobilnya sembarang, tentu saja setelah mengemudi dengan kecepatan tinggi, cara mengemudi yang tidak seperti biasa dia lakukan. Fahri ingin cepat bertemu ayah mertuanya meskipun jam masih menunjukkan pukul 6 pagi.
Fahri memasuki rumah mewah itu, karena dia yakin ayah mertuanya masih ada di rumah dan belum pergi ke perusahaan. Fahri celingukan mencari keberadaan ayahnya, saat sampai di ruang makan ada bunda Anjani menyambutnya
"loh fahri! kok pagi-pagi udah sampe sini aja?" tanya bunda yang sedang menata makanan di atas meja
"eh assalamualaikum bunda!" ucapnya sambil menyalami bunda mertuanya
"ada yang harus Fahri tanyakan ke ayah!" lanjutnya
"ayah, ada di ruang kerja! kalau bicaranya udahan, kalian cepat kesini! sarapan dulu" pesan bunda sambil berlalu ke dapur
Fahri segera pergi ke tempat ayah berada, tiba-tiba dia merasa gugup. Entah kenapa semua pertanyaan dalam kepalanya menguap begitu saja. Seperti biasa setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, Fahri menyalami ayah mertuanya itu
"kenapa pagi-pagi udah sampe sini? gak keburu banget ya Fa? kan berangkatnya masih 3 jam lagi, lagian emang udah nyiapin barang bawaan buat ke London?" cecar ayah tanpa tahu tujuan Fahri sebenarnya
Sedangkan Fahri yang ditanya seperti itu malah semakin ciut nyali
"ee..em.. ayah, sebenarnya Fahri nggak ingin pergi kesana, boleh nggak kalau minta ganti pak Rama aja yang kesana?" pinta Fahri agar asisten ayahnya saja yang pergi. Dia memperhatikan mimik wajah ayah, dia sangat takut mertuanya itu akan marah
__ADS_1
Benar saja, wajah Fahri memucat. Kepalanya menunduk dalam saat ayah menunjukkan ekspresi yang sangat menyeramkan menurut Fahri
"kamu udah kecewain Reynaa, sekarang mau kecewain ayah juga?" tanya ayah dengan nada datar yang justru terdengar mengerikan
Fahri menggeleng cepat, dia tidak mau ayahnya salah paham
"maaf ayah, bukan begitu! Fahri ingin fokus cari Reynaa, kalau Fahri pergi mungkin bakal lama disana. Fahri sangat bersalah ke Reynaa, Fahri ingin cepat-cepat ketemuin Reynaa ayah!"
Ayah tersenyum tipis melihat bagaimana paniknya Fahri, itu sangat menghibur
"emang kamu mau cari Reynaa kemana? di danau? Fahri! mau sampai kapanpun kamu menyelam, kamu gak bakal nemuin Reynaa disana. Kamu pikir ayah bakal biarin Reynaa mati begitu aja? Reynaa itu gak tenggelam, dia cuma ceburin mobilnya aja. Ayah gak bisa handle proyek di London itu karena ayah sibuk cari Reynaa, ini kamu malah gak mau bantu ayah!"
Fahri yang mulanya panik malah jadi linglung mendengar ucapan ayah. Dia terdiam, dahinya berkerut dalam, dia berusaha mencerna apa yang diucapkan ayahnya. Fahri tidak sadar, ayahnya kini menatapnya gemas sambil memegangi perutnya karena tak kuasa menahan tawa
"jadi istri aku baik-baik aja ayah? selama ini ayah masih nyariin Reynaa?" tanya Fahri masih belum percaya
"jangan panggil Reynaa istri kamu kalau kamu belum bisa ingat dia!" sahut ayah ketus
...
Perlahan Reynaa merebahkan kepalanya di atas meja, entah apa yang sedang dosen itu jelaskan. Suhu udara yang lebih dingin dari biasanya membuat Reynaa merasa malas untuk mengikuti kuliah hari ini
Perkiraan cuaca mengumumkan bahwa akan ada hujan salju hari ini, tapi sampai sore hari salju tak kunjung turun, padahal Reynaa sangat menantikan hal itu
Waktu terasa berjalan sangat lambat padahal masih berjalan sekitar 15 menit, Reynaa sangat ingin cepat-cepat keluar dari ruangan itu. Dengan pipi yang menempel di meja, Reynaa menatap keluar jendela di sampingnya.
Titik demi titik putih berjatuhan dari langit, itu tak lepas dari perhatian Reynaa yang sedari tadi tetap dengan posisinya. Salju! itu hal yang Reynaa nantikan selama tinggal di sana.
Reynaa menegakkan badannya, matanya berbinar menatap ke arah luar. Tanpa berpikir panjang Reynaa nyelonong keluar tanpa izin lebih dulu, hebatnya sang dosen tidak mengetahui hal itu karena sedang membelakanginya.
Syam yang menyadarinya hanya melongo heran, dia ingin mengikuti kemana Reynaa pergi tapi dia tidak berani untuk keluar dari ruangan itu. Entah kemana Reynaa pergi? Syam berharap kalau Reynaa tidak berbuat macam-macam
Reynaa berjalan sambil menengadah, dia sangat senang melihat salju turun. Dia tak peduli udara yang semakin dingin, juga jatuhnya salju yang semakin deras.
__ADS_1
Tak terasa Reynaa berjalan cukup jauh, dia pergi ke sebuah taman dekat kampusnya. Reynaa menaiki ayunan yang ada di taman itu, dia berayun sambil menengadah dengan mulut yang terbuka. Untung saja tidak ada orang disana, jadi tidak ada yang menganggapnya gila karena tingkah konyolnya