
Jam menunjukkan pukul 4 sore, Reynaa merebahkan tubuhnya diatas kasur setelah menjalani aktivitas yang melelahkan. Reynaa ingin berubah, dia ingin serius menjalani hidupnya di pesantren dan Madrasah Aliyah. Dia tidak lagi berbuat onar, dia menahannya.
Sungguh lelah rasanya menahan emosi yang menjadi sifat asli Reynaa sejak dulu. Tapi dia harus sabar, dia harus menghilangkan sifat jeleknya itu. Dia ingin membuktikan kepada ayahnya kalau dia tidak lemah, dia harus bisa memenuhi syarat yang ayah ajukan. Dia harus merubah sifatnya
Aisyah masuk ke kamarnya, dia melihat Reynaa yang sedang melamun, dia tau apa yang sedang temannya itu pikirkan. Setelah kedatangan orang tua Reynaa 5 hari yang lalu, Aisyah meminta penjelasan Reynaa tentang ayahnya, sejak itu juga Aisyah perhatikan temannya itu sedikit berubah. Reynaa tidak lagi suka marah, sering berbicara dengan nada normal, dan lebih nurut pada senior tanpa berdebat terlebih dahulu.
Aisyah menghampiri Reynaa dan mencoba berbicara
"emm, Reynaa maaf kamu lagi mikirin sesuatu? kalo mau kamu bisa cerita ke aku!" kata Aisyah yang membuat Reynaa sadar dari lamunannya
"gue cuma mikirin omongan ayah kemaren, gimana ya?" jawab Reynaa
"yang harus kamu lakukan itu cukup menyamankan diri kamu selama disini, kalau sudah nyaman baru kamu bisa menerima pelajaran dengan gampang. Kamu bisa dengan mudah menguasai materi sampe jago, baru kamu bisa ikutan lomba dan mendapatkan penghargaan yang ayah kamu inginkan" jelas Aisyah panjang lebar
"trus mulainya dari mana?"
"Emm kamu mau nggak jadi temanku?" Tanya Aisyah
Tiba-tiba Nisa masuk kekamar mereka, dia juga mendengar pembicaraan Reynaa dan Aisyah
"aku juga, Reynaa kamu mau nggak jadi temanku?"
"kalian yakin mau temenan sama gue? Emangnya gak takut?" Reynaa balik tanya
"Nggak, nggak takut kok!" Jawab Nisa dan Aisyah mantap
"apa iya? gue disini udah 2 bulan lebih Loh, kok baru sekarang ngajak temenannya?" goda Reynaa
"emm maafin kita ya Rey! awalnya sih kita emang takut, kita takut dibikin mimisan sama kamu kaya mbak Dewi?" sesal Aisyah
Tiba-tiba Reynaa terbahak sampai sakit perut, mendengar alasan temannya itu
"aduh perut gue! denger yah! emang gue gila maen pukul orang sembarangan?" jelas Reynaa
"iya mangkanya maafin kita!"
"oke kalo gitu mulai sekarang kita berteman dan gue minta tolong bantuin gue!"
"ahsiyap" jawab Nisa dan Aisyah bersamaan
"Oke kalo gitu ayo kita bikin bokap gue nyesel!" Ucap Reynaa penuh semangat
__ADS_1
"Ayo" jawab mereka kompak
Dengan semangat mereka bertiga pergi ke perpustakaan
"Jadi kita mulai dari mana dulu?"
"Jadi gini Rey, biasanya pesantren kita mengikuti lomba pidato, sholawat nabi, tanya jawab ilmu shorof, tahfidz Qur'an dan hadits, qori' dan masih banyak yang lainnya, tapi itu aja sih yang sering" jelas Aisyah
"Kalean bisa ngajarin gue mana dulu?" Tanya Reynaa
"Kalau aku bisanya menghafal hadits" jawab Aisyah
"Kalau aku bisanya sholawat nabi, aku kan jadi vokalis grup sholawat kita" jawab Nisa
"Hmm, kalo sholawat sih ga begitu suka gue, kan nyanyi-nyanyian gitu kan? Ga gue ga bisa" tolak Reynaa
...
Fahri menatap gemas ketiga gadis yang sedang menggembala Maximus, salah satu kuda milik abinya. Sedari tadi Fahri terus memperhatikan tiga gadis itu dari atas loteng, sesekali mengambil foto dengan kameranya. Entah apa yang dipikirannya sekarang, dia sangat suka melihat wajah serius Reynaa saat berfikir dan menghafal
Fahri bingung apa yang sudah terjadi dengannya, dulu dia suka memperhatikan Aisyah. Ada sedikit ketertarikan kepada gadis itu, gadis polos dengan sikap sopan dan anggun. Tapi kini dia malah suka memperhatikan Reynaa, gadis dengan sifat tomboy, suka berkelahi dan bikin onar , gadis yang sangat berbeda dengan Aisyah. Apa dia juga tertarik dengan Reynaa? entahlah..
...
3 bulan berjalan dengan tantangan dan tekat kuat membuat Reynaa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia sudah mendapat 5 piala dan piagam dari perlombaan yang dia ikuti, meskipun masih belum bisa mendapat peringkat pertama, bagi Reynaa itu sudah lumayan mengingat 3 bulan yang lalu dia masih belum bisa apa-apa.
Dia sudah menguasai dalam hal menghafal, dia sudah menjadi kebanggaan kyai dan umi.
"Umi janji ke Reynaa yah! jangan bilang-bilang sama ayah dan bunda, ya pak kyai?" Tuntut Reynaa kepada umi dan pak kyai, dia tidak ingin ayah dan bunda tau apa yang terjadi sebenarnya.
Mereka baru saja datang dari perlombaan pidato.
"Kan bohong itu dosa" jawab Kyai Maulana
"Kan Reynaa ngomongnya jangan bilang-bilang, bukan nyuruh pak Kyai bohong" jawab Reynaa
"Iya,-iya emang kalah kalau debat sama anaknya Indra ini, yaudah piala dan piagam kamu taruh disini saja biar ga rusak!" Kata pak kyai
"Iya, Reynaa mau istirahat dulu capek" pamit Reynaa lalu menyalami 2 orang itu dan pergi
"Assalamu'alaikum"
__ADS_1
"Waalaikum salam"
Sesampainya dikamar, Reynaa tidak bisa langsung istirahat karena dia sudah ditunggu oleh 2 temannya yang kepo. Mereka menyerbu Reynaa dengan berbagai macam pertanyaan. 3 bulan berteman dengan Reynaa membuat dua temannya itu bangga dan senang memiliki teman se istimewa Reynaa.
"Udah deh nanti aja, gue capek!" rengek Reynaa
"Yaudah iya, silahkan istirahat tuan putri!" kata mereka berdua mengalah
Suatu ketika Reynaa sedang duduk di ruang tamu, dia habis berlatih Qori' yang dibimbing langsung oleh pak kyai. Besok Reynaa akan mengikuti lomba Qori' sekabupaten. Terdengar suara deru mobil berhenti didepan rumah, selang beberapa detik terdengar salam yang Reynaa sudah hafal suara itu.
"Reynaa kamu ngapain disini?"
"aku latihan Qori' sama pak kyai"
"oh ya ini titipan dari kakak kamu?" Fahri memberikan bungkusan makanan yang didalamnya ada makanan kesukaan Reynaa
"wah kue cucur, tapi aku ga boleh makan makanan yang banyak minyaknya. Kakak bantuin makan yah?"
"iya" jawab Fahri.
Reynaa sudah akrab dengan Fahri karena sekarang Fahri lebih sering pulang kerumah, dia sadar kalau dia sudah menyukai gadis itu tapi Fahri hanya memendam perasaannya saja. Reynaa terus-menerus menyuapi kue cucurnya hingga mulut Fahri penuh, itu membuat Reynaa tertawa lepas yang membuat Fahri semakin terpesona.
Pak kyai dan umi datang dari belakang menemui 2 muda-mudi itu,
"ehhem lagi asik yah?" kata umi mengagetkan keduanya
"baru datang bukannya mencari orang tua, malah mesra-mesraan!" ejek pak kyai, wajah Fahri dan Reynaa memerah.
Fahri segera menyalami tangan keduanya dan meminta maaf.
"pak kyai umi, ini ada kue dari Abang Reynaa" Reynaa menawarkan kuenya
"ingat jangan banyak-banyak nanti tenggorokannya sakit"
"aku cuma habis 2, ini kak Fahri yang doyan"
"doyan apanya? orang kamu yang maksa aku makan sampe penuh"
"udah, sekarang kita makan umi sudah masak"
Mereka segera menuju ruang makan, Reynaa makan dengan lahap, dia tidak lagi makan snack, dia lebih suka makan masakan umi. Lidah Reynaa sudah terbiasa dengan masakan umi. Setelah selesai makan Reynaa kembali ke ruang tamu melanjutkan latihan Qori'nya sendirian dan Fahri pergi ke kamarnya. Samar-samar Fahri mendengar suara merdu Reynaa, indah sekali suaranya
__ADS_1