Reynaa Dan Reyhan

Reynaa Dan Reyhan
Penolakan


__ADS_3

Siang ini Reyhan mengendarai mobil milik adiknya menuju rumah sakit tempat Fahri dirawat, karena disana juga ada sang adik yang masih setia menemani suaminya. Setelah sarapan tadi pagi bersama sang kekasih dan kedua orangtuanya, Reyhan segera berpamitan kepada semua dan meminta untuk tidak perlu mengantarnya ke bandara.


Reyhan ingin diantar oleh sang adik, dia ingin bersama Reynaa untuk terakhir kalinya. Masih ada beberapa jam lagi yang tersisa sebelum dirinya take off menuju London. Reyhan merasa bersalah, dia berfikiran adiknya pasti akan bersedih. Suaminya sudah melupakan Reynaa dan dirinya sendiri selaku kakak akan pergi meninggalkan Reynaa


...


Reynaa dan kedua mertuanya baru menyelesaikan sarapannya, mereka sarapan makanan yang dimasak oleh Reynaa sendiri


"Alhamdulillah! wah, masakan kamu gak kalah sama masakan Umi!" puji Abi setelah meneguk air, beliau mengacungkan kedua jempolnya


"malahan lebih enak loh Bi!" timpal Umi, beliau melirik Fahri yang sedari tadi diam-diam memperhatikan mereka makan


Beliau ingin menggoda anaknya itu, meskipun ingatan tentang Reynaa sudah menghilang. Beliau yakin di dalam hati Fahri yang paling dasar, masih tersimpan rasa cinta yang besar untuk Reynaa


"Fa, kamu yakin ga mau makan?" tanya beliau menyodorkan sisa sayur capcay


"nggak mau mi, Fahri makan makanan rumah sakit aja! daripada makan masakan dia!" jawab Fahri yang seketika membuat Reynaa kecewa


Ternyata semalam Fahri tidak memperbolehkan Reynaa menginap, dia tidur di apartemen dan bangun sepagi mungkin untuk memasak. Reynaa berharap masakannya bisa diterima dan dimakan oleh Fahri. Tapi lagi-lagi Reynaa mendapat penolakan, Fahri sama sekali tidak mau memakan masakannya


Hilang ingatan yang diderita Fahri membuatnya berubah 180 derajat, dia jadi tidak menyukai Reynaa. Ketidaksukaannya semakin bertambah karena Reynaa mengaku sebagai pacarnya. Umi sudah menyarankan untuk berkata jujur agar Fahri tidak membuatnya semakin sakit hati, tapi Reynaa menolak karena ingin Fahri mengingatnya sendiri tanpa diberitahu kalau dia adalah istrinya


...


Reyhan memasuki kamar rawat Fahri dengan mengucapkan salam, lalu dia menyalami umi dan Abi. Dia melewati Fahri tanpa melirik sedikitpun, Reyhan membenci Fahri yang sudah melupakan adiknya


"tumben pagi-pagi sudah kesini?" tanya Abi basa-basi


"ini Bi! Reyhan mau minta anter adek! sekalian mau pamit sama Abi dan Umi!"


"udah mau balik ke London?"


"iya Bi! udah kelamaan disini, tugas disana numpuk!"


Fahri hanya mendengarkan tanpa tahu apa yang dibicarakan, dia juga bingung dengan sikap Reyhan yang berbeda. Reyhan menghampiri Fahri, dia sangat ingin sekali memukul wajah itu.


"Bi, aku boleh tonjok wajah jelek ini gak?" tanyanya kepada Abi, perkataannya membuat Fahri bergidik ngeri


"apaan sih kamu Rey? aku punya salah apa?" tanya Fahri yang sontak menutupi wajahnya


Abi dan Umi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya, mereka maklum pasti Reyhan juga kesal kepada Fahri. Seperti kemarin Bagas yang marah besar saat mengetahui Fahri melupakan adik sepupunya itu, Bagas tidak terima dan menonjok Fahri. Untungnya hanya satu pukulan karena kondisi Fahri yang masih dalam masa pemulihan

__ADS_1


...


Reyhan memarkirkan mobilnya di halaman rumah eyang, sudah lama dia tidak kesana tempat yang paling asri dan nyaman sedunia menurutnya. Reyhan segera keluar dari mobil dan memanggil Reynaa yang masih saja belum tersadar dari lamunannya


"dek, udah nyampe! ayo turun!" teriak Reyhan dari luar yang membuat Reynaa tersadar.


Reynaa bingung kenapa Reyhan malah membawanya kesana, bukannya mereka harus ke bandara


"bang! kok kita malah kesini?"


"kan harus pamit sama eyang! lagian masih ada waktu 4 jam lagi, gue pengen balapan kuda!"


"gak mau ah! capek gue" tolak Reynaa mentah-mentah, moodnya sudah hancur karena Fahri yang melupakannya


Mereka berdua segera memasuki rumah yang sangat mereka rindukan, mencari keberadaan sang penghuni rumah yang sudah tak lagi muda itu


"assalamualaikum! eyang, kita datang!" teriak Reyhan yang langsung didengar pemilik rumah, sepasang lanjut usia itu segera menghampiri sumber suara. Beliau berdua sudah tahu dengan apa yang menimpa cucunya


Eyang Nida segera memeluk Reynaa, begitupun juga dengan eyang Malik. Melihat itu membuat Reyhan menjadi iri


"udah dong! aku juga mau dipeluk, ga cuma adek aja!" ucap Reyhan dengan memanyunkan bibirnya, segera dia mendapatkan apa yang dia mau


"dasar Lo!" sindir Reynaa yang memberi jitakan halus di kepala Reyhan


Dengan terpaksa Reynaa mengikuti apa yang abangnya mau, dia sudah siap diatas kuda miliknya.


"gue ga mau lihat muka butek Lo ya! gue mau sekarang Lo lupain Fahri, ayolah kita seneng-seneng disini! paling enggak Lo tunjukkin muka Heppy Lo saat bareng gue!" bujuk Reyhan yang tidak bisa dibantah itu, dengan susah payah Reynaa tersenyum


"isshh, gausah dipaksain juga dek! aneh tau ga!" ucap Reyhan lagi


Setelah melakukan berbagai macam permainan, akhirnya Reyhan berhasil membuat adiknya tersenyum lagi. Setidaknya Reynaa melupakan semua masalahnya dan bisa tertawa lepas, meskipun itu hanya sementara. Balapan kuda, basket, karate, bergulung di lumpur, semua mereka lakukan sama seperti saat masa kecil mereka dulu


...


Reyhan menatap sang adik, kini mereka sudah berada di gerbang keberangkatan. Reynaa hanya boleh mengantar sampai sana


"dek, maafin gue ya!" ucap Reyhan sambil mengusap puncak kepala Reynaa


"Lo ngapain minta maaf?" tanya Reynaa bingung


"saat Lo sedih, gue malah pergi ninggalin Lo! gue gak bisa nemenin Lo!" ucap Reyhan sedih

__ADS_1


"santai aja! gue gapapa kok bang!" ucap Reynaa yang langsung memeluk abangnya, Reyhan membalas dengan lebih erat


Reynaa melepas pelukannya saat mulai sesak, air matanya sudah mengalir


"jangan nangis dong! gue jadi ikutan sedih!" bujuk Reyhan sambil mengusap air mata Reynaa


"gue janji, Lo minta apapun gue bakal turutin asal jangan minta gue balik. Mungkin sepuluh bulan lagi bisanya!"


Ingin rasanya Reynaa merajuk dan melarang abangnya untuk pergi, tapi dia tahu betapa pentingnya keberadaan Reyhan di London. Reyhan tahu apa yang dipikirkan adiknya, dia menepuk kedua pundak Reynaa.


"dek, abis ini gue gak bisa lagi jaga Lo! gue tau ini sulit buat elo, kalo Lo udah gak sanggup lagi. Pliss, Lo berhenti sakitin diri Lo sendiri! kalo Fahri memang jodoh Lo, dia akan kembali ke elo tanpa bantuan siapapun" ucap Reyhan lalu kembali memeluk Reynaa


...


Tepat pukul sebelas malam, Reynaa sampai di rumah sakit dengan wajah babak belur. Ternyata dia mendatangi tempat balap liar lagi dan berbuat onar disana, dia butuh pelampiasan untuk rasa kesal dan sedihnya. Dia membiarkan semua orang menghajarnya dan membuat wajahnya penuh luka


Entah kenapa Reynaa bukannya pulang ke rumah atau apartemennya, dia malah datang ke rumah sakit. Dia mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu depan ruangan Fahri, terlihat lampu dalam kamar sudah padam yang artinya orang didalamnya sudah tertidur. Reynaa mencoba memejamkan matanya, tak butuh waktu lama untuknya tertidur karena dia memang benar-benar kelelahan


Fahri terbangun dari tidurnya, dia merasa ingin buang air kecil. Dia segera bangun dan pergi menuju kamar mandi. Saat melewati jendela kaca yang tertutup gorden, samar-samar terlihat bayangan seseorang duduk dibaliknya. Dia segera membuka gorden dan mendapati Reynaa ada disana


Fahri melupakan tujuan awalnya, dia malah keluar kamar menghampiri Reynaa


"nih cewek ngapain tidur disini?" ucapnya lirih, dia memperhatikan gadis didepannya itu


"nih cewek apa bener-bener pacar aku? tapi kok ga ingat ya? tapi kan aku paling gak suka sama pacar-pacaran, kalau aku memang suka pasti aku nikahin! tapi masak iya aku suka cewek model kaya gini? pasti nih cewek Badung!" batin Fahri tak percaya, dia melihat wajah penuh luka itu


Bukannya kasihan, Fahri malah membiarkannya dan kembali masuk. Fahri lebih memilih pura-pura tidak tahu dan membangunkan Abinya untuk sholat malam. Dia juga sedikit membuka gorden agar sang Abi bisa melihat keberadaan Reynaa. Fahri kembali ke ranjangnya saat Abinya mengetahui tentang Reynaa dan segera membangunkan istrinya.


Mereka mengajak Reynaa masuk dan membersihkan luka Reynaa dengan hati-hati. Fahri melihat betapa sayang dan khawatir kedua orang tuanya kepada Reynaa, dia merasa iri


"kenapa sih? Abi sama umi sayang banget sama cewek itu!" tanya Fahri yang merasa tersisihkan oleh Reynaa


"Fahri, jaga ucapan kamu! kalau kamu tidak bisa mengingat siapa Reynaa, kamu gak perlu bikin dia sedih!"


"sepenting apa dia sih Bi? bahkan aku gak percaya kalau dia pacar aku. Kalau aku dulu suka dia, pasti bakal aku nikahin. Tapi aku gak bakal nikahin cewek Badung yang suka berantem kaya dia!"


Semua dibuat geram oleh perkataan Fahri, bahkan sang Abi sudah melayangkan tangannya untuk menamparnya. Tapi Reynaa segera menahan tangan itu sebelum menyentuh pipi Fahri


"Abi tenang ya! Reynaa gapapa kok, jangan begini!" bujuk Reynaa menenangkan


"Abi gak pernah ngajarin kamu nyakitin perempuan Fahri!" ucap Abi murka

__ADS_1


"udah, Abi tenang! ini masih tengah malam, gak baik bikin ribut!" timpal Umi


Fahri tidak habis pikir, kenapa Abinya sesayang itu kepada Reynaa. Dia sadar kalau apa yang dikatakannya memang keterlaluan. Tapi dia juga memang benar-benar tidak suka kepada Reynaa. Fahri mencoba mengingat apa yang sudah dia lupakan tapi tidak berhasil, itu membuat kepalanya terasa nyeri dan berdenyut kencang


__ADS_2