Reynaa Dan Reyhan

Reynaa Dan Reyhan
Kedatangan Yang Ditunggu


__ADS_3

Keesokan harinya, Nisa merasa harus berterimakasih kepada Reynaa karena Reynaa sudah menolongnya. Nisa meminta tolong kepada Aisyah karena dia teman sekamar Reynaa, Nisa masih takut sama Reynaa yang menurutnya menyeramkan


"bangunin gih!" Suruh Nisa kepada Aisyah


"Aku takut" tolak Aisyah


"Kan kamu teman kamarnya!" Kata Nisa lagi.


Mendengar suara orang berdebat membuat Reynaa terbangun


"Ngapain kalean?" Tanya Reynaa sedikit membentak membuat dua temannya takut


"Emm ma.maaf a..aku s.sama Nisa udah ganggu kamu, emm Nisa cuma mau berterima kasih" jawab Aisyah gugup dan menyenggol lengan Nisa menyuruh untuk bicara


Nisa bicara dengan gugup


"Em Reynaa terima kasih udah bantuin aku! gara-gara aku kamu jadi terluka, ini buat kamu" ucap Nisa sembari memberikan sebotol minuman isotonik dan sebungkus kripik kentang.


"Gue terima tapi ini masih belum cukup" jawab Reynaa


"Kamu mau minta apa lagi?" tanya Nisa yang hanya dijawab dengan mengangkat bahunya


"gue masih belum tau" jawab Reynaa lagi


Ditempat lain yaitu tepat di kamar Gus Fahri terdengar suara tawa-tawa kecil dari pemiliknya, Fahri sudah beberapa kali mengulang video yang dia putar dan masih saja terus tertawa. Dia kagum, terpesona, sekaligus merasa konyol akan sosok yang ada di video itu


Terdengar suara ketukan pintu dan salam yang berasal dari depan rumah. Fahri yang mendengarnya segera keluar kamar dan membuka pintu


"waalaikum salam, silahkan masuk saya panggilkan Abi dulu" Fahri menyalami tamunya dan segera kebelakang mencari Abi dan Uminya


Pak kyai dan istrinya segera menemui tamunya, setelah tahu tamunya adalah ayah bunda Reynaa pak kyai tidak lagi memakai bahasa formal. Mereka saling berjabat tangan lalu duduk, setelah itu ayah membuka suara


"aku minta maaf mas kemarin ga bisa langsung kesini, ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan. Jadi baru sekarang bisanya!" jelas ayah


"Trus gimana keadaan Reynaa, baik-baik aja kan?" lanjut bunda


"Alhamdulillah Reynaa itu anak jagoan apalagi langsung dapat pertolongan pertama dari anakku" jawab pak kyai menunjukkan Fahri, mendengar ucapan Abinya membuat Fahri merona malu


Fahri malah mengelak


"nggak kok Om, cuma ngolesin obat merah aja!" elak Fahri sedikit jengkel kepada Abinya


"Ini anak kamu mas? tampan sekali!" tanya bunda sambil memuji Fahri


"ahh Tante bisa aja" jawab Fahri semakin salah tingkah


"dia 2 tahun lebih tua dari si kembar, sekarang kuliah di universitas X, kebetulan lagi ada dirumah, biasanya kalau sibuk jarang pulang" jelas Umi membuat Fahri geregetan

__ADS_1


"kaya ngenalin aku ke calon mertua aja sih umi" batin Fahri


"Menurut aku Reynaa itu sebenarnya cuma pengen disayang kalian, masak 2 bulan lebih baru njenguk? kalau santri baru tuh biasanya seminggu 3 kali Lo, lah ini?" kata pak kyai


"ya gimana lagi mas, kan dari rumah kesini jauh, lain kota juga" ayah beralasan


"kamu ya? gimana Reynaa ga marah kalau orang tuanya kaya gini?" ejek pak kyai


Pembicaraan mereka terus berlanjut, membicarakan kelakuan Reynaa selama 2 bulan ada di pesantren, dari menonjok senior, menyiram santriwan yang merokok, manjat pohon, menunggang kuda yang harusnya digembala dan hal-hal yang membuat ayah dan bunda tidak berhenti tertawa


"harusnya kamu dapat kembar laki-laki. Tapi ini covernya saja yang perempuan. Sampe pernah dia digoda sama santriwan dia langsung menghajar sampe babak belur dan giginya itu copot" cerita pak kyai panjang lebar, mendengar itu membuat Fahri semakin tertarik dan penasaran pada sosok Reynaa


"Maaf mas kalau kelakuan Reynaa merepotkan, justru itu kami memasukkan dia kesini. Berharap sifatnya bisa berubah lebih baik" kata bunda cemas


"Namanya watak itu sudah ada sejak manusia lahir ke dunia. Jadi kalau mau merubahnya harus dengan kesabaran dan telaten karena ga bisa instan. Aku hanya bisa berusaha dan terus berusaha. Kalau melihat kegiatan akademiknya dia sudah bisa mengaji, bersholawat, baca kitab kuning, dan dia selalu memperhatikan kalau saya sedang ceramah. Padahal dulu pas pertama di sini dia selalu masa bodoh tidak pernah merhatikan, itu kan juga termasuk kemajuan" jelas pak kyai lagi


"Iya terimakasih sudah memperhatikan putriku" jawab ayah.


Fahri berjalan menuju kamar pesantren Putri, dia diutus Abinya memanggil Reynaa. Entah kenapa dia senang sekali mendapat perintah dari Abinya, dia tidak tahu yang mana kamar Reynaa


"Gus cari siapa? kok tumben ke asrama Putri?" tanya senior yang menyapa Fahri


"Emm anu mbak, tolong panggilkan Reynaa" jawab Fahri. Senior itu hanya mengangguk


Saat itu Reynaa sedang mengerjai Nisa dan Aisyah, dia meminta keduanya untuk memijat badannya karena mengeluh sakit. Sedangkan kedua gadis itu hanya menurut karena kasihan kepada Reynaa tanpa tahu kalau mereka sedang dikerjai. Tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar, dia senior yang dimintai tolong oleh Fahri untuk memanggil Reynaa. Reynaa segera pergi tanpa menyadari tatapan iri 2 gadis yang bersamanya tadi


"enak jadi Reynaa yah? Gus Fahri kan ga pernah mau masuk kesini, apalagi mencari salah satu santri" kata Nisa


"Kamu disuruh Abi sama umi kerumah sekarang" jawab Fahri.


Reynaa berjalan mendahului Fahri, mereka berjalan beriringan menuju rumah pak kyai. Saat sampai di belokan samping rumah, Reynaa merasa familiar dengan mobil yang terparkir di depan rumah itu. Reynaa tidak ingin ayah dan bundanya melihat wajahnya yang penuh luka, dia kaget dan berbalik arah


Brug.. Reynaa menabrak Fahri yang ada dibelakangnya tadi. Karena berdiri Reynaa tidak seimbang, Fahri segera meraih pinggang ramping Reynaa dan menariknya. Waktu seakan berhenti, kini jarak mereka begitu dekat, tinggi Reynaa yang hampir sejajar dengan Fahri membuat wajah keduanya hanya berjarak beberapa senti saja.


Setelah beberapa detik, Reynaa segera sadar akan keadaan yang membuat jantungnya seperti ingin meledak. Dia segera mendorong tubuh Fahri, wajah mereka memerah secara bersamaan. Reynaa menutupi wajahnya dengan hijabnya, dan pergi menemui orang tuanya. Untung saja tidak ada orang lain yang melihat kejadian itu


Reynaa masuk ke rumah itu dan memberi salam, lalu dia menyalami semua orang yang ada disana.


"udah gausah ditutupi wajahnya! Ayah bunda udah tau kok" kata ayah


Reynaa membuka hijab yang menutupi wajahnya dan terlihat wajah itu merona. Fahri yang tertinggal akhirnya masuk rumah juga, dengan wajah yang sama merona seperti Reynaa. Pak kyai melihat akan hal itu, beliau lalu mempersilahkan tamunya untuk berbicara bertiga dengan anaknya, dan mengajak istrinya untuk masuk ke belakang


"Reynaa ayah minta maaf baru bisa jenguk kamu sekarang" sesal ayah


"Terus aja minta maaf, kalau pak kyai ga hubungin ayah, ayah ga bakal kesini kan?" Protes Reynaa


"Kamu masih marah ke ayah? Kamu masih ga betah disini?" Tanya ayah membuat Reynaa memutar mata malas

__ADS_1


"Harusnya ayah tau perasaan Reynaa hidup disini? Merasa terbuang, tapi mungkin cuma Reynaa aja soalnya eyang ga mungkin seperti ayah!" Tuntut Reynaa


"Kamu tau dari mana ayah alumni sini?" Tanya ayah pura-pura tidak tahu


"Ya siapa lagi ayah? Udah deh ga usah tanya lagi!" Jawab Reynaa malas


"Aku mau istirahat, ayah bunda pulang aja!" Reynaa segera keluar. Ayah mengejar sampai teras dan memanggil Reynaa


"Reynaa tunggu ayah jangan begini dong sayang!"


"Apalagi ayah?"


"Ayah akan memberikan kamu syarat kalau kamu ingin keluar dari sini, ayah mau kamu berikan satu penghargaan tanda kehebatan kamu" tuntut ayah


Reynaa mulai geram


"Ayah sadar gak sih apa yang ayah omongin?" dia melihat ada teman kamarnya lewat dan segera memanggil


"Aisyah sini!" Panggil Reynaa, Aisyah yang kebingungan menghampiri Reynaa dengan rasa was-was


"Iya ada apa?" Tanya Aisyah


"Lo sebutin penuturan Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitab Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud.


"Tapi?"


"Udah sebutin aja!"


"Iya"


"Betapa banyak orang tua yang telah menyengsarakan buah hatinya di dunia dan di akhirat dengan menyia-nyiakannya dan tidak mendidiknya. Bahkan, para orang tua tersebut memberikan berbagai sarana untuk membantu buah hati mereka memenuhi berbagai keinginan syahwatnya. Mereka menyangka bahwa dengan hal itu mereka telah memuliakan buah hati mereka. Padahal, yang sesungguhnya terjadi adalah mereka telah menghinakan si anak.” ucap Aisyah menunduk takut ada yg tersinggung


Reynaa mengangkat tangan isyarat untuk berhenti,lalu dia sendiri melanjutkan penuturan Aisyah


"Orang tua beranggapan telah mengasihi si buah hati, padahal ia telah menzaliminya. Hingga pada akhirnya, hilanglah kesempatan orang tua untuk mengambil kemanfaatan dengan adanya si buah hati. Hilang pula bagian kebaikannya dengan adanya anak di dunia dan di akhirat. Sungguh, kalau Anda perhatikan kerusakan yang menimpa anak, pada umumnya penyebabnya adalah dari orang tua itu sendiri.” lanjut Reynaa


"Jadi udah jelas ya ayah, sekarang aku mau istirahat, ayo Aisyah!" Pamit Reynaa tanpa menyalimi ayahnya


"Mohon maaf Om, bukan bermaksud saya menyinggung Om! saya pamit kekamar" sesal Aisyah lalu menyalami ayah Reynaa


"Iya" mendengar penuturan 2 gadis itu membuat ayah merasa bersalah yang amat dalam, membuatnya sadar dengan penderitaan anak-anaknya dan ternyata pak kyai umi serta bunda menyaksikan kejadian itu di depan pintu. Tanpa disadari semua orang Fahri juga menguping pembicaraan itu dengan rasa kagum yang tanpa ia sadari


.


.


.

__ADS_1


Mohon maaf kalau ada kesalahan dalam penyebutan isi kitab yang Reynaa dan Aisyah tuturkan. Itu saya copas dari internet dan tidak ada yang saya kurangi atau lebihi


Author


__ADS_2