
Fahri sedang kelimpungan mencari dimana Reynaa berada, dia sedang duduk dimeja kerjanya tapi pikirannya melayang kemana-mana. Mungkin sudah puluhan kali dia menelpon nomor istrinya tapi Reynaa sengaja tidak menjawabnya.
Tidak ada yang bisa dimintai tolong, termasuk juga ayahnya yang selalu meninggalkan pekerjaannya selama Fahri menggantikan beliau
Dia teringat tadi pagi dia datang kerumah Reynaa, tapi tidak mendapati Reynaa disana. Tidak ada yang mau memberi tahu kepadanya keberadaan Reynaa baik ayah maupun bunda, mereka bilang Reynaa cuma ingin sendiri dan tidak mau diganggu.
Lebih mengesalkan lagi ada Randy yang datang kesana juga mencari Reynaa. Fahri segera memberinya peringatan untuk menjauhi Reynaa karena Reynaa sudah jadi istrinya, tapi dengan santainya Randy bilang tidak akan berhenti mengejar Reynaa sebelum ada buku nikah.
Fahri seakan frustasi dibuatnya, kenapa segampang itu ayah mertuanya bilang semua terserah Reynaa? padahal nikah siri maupun nikah didepan hukum negara sama-sama sah di mata Allah, gimana kalau Reynaa lebih memilih Randy daripada dirinya? mengingat sikap Reynaa yang selalu menghindarinya.
Fahri segera mengerjakan pekerjaannya yang sudah menumpuk di atas meja, meskipun jabatannya tinggi dia tidak bisa meninggalkan pekerjaan seenaknya. Fahri bertekad untuk pergi mencari Reynaa setelah pekerjaannya selesai
Fahri pulang ke rumah kosnya dengan wajah dongkol, dia tidak bisa mendapatkan petunjuk keberadaan istrinya. Dari jam 5 pulang dari kantor sampai jam 9 malam, dia diam didepan rumah mertuanya didalam mobilnya.
Memperhatikan mobil yang keluar masuk ke rumah itu, tapi tidak ada satupun disana mobil milik Reynaa. Akhirnya dia menyerah dan pulang ke rumahnya sendiri
Dihari kedua juga seperti itu, dia masih belum menemukan Reynaa. Ayah bundanya hanya tersenyum melihat tingkah Fahri yang sedang frustasi, mereka hanya memberikan Fahri semangat untuk mencari Reynaa tanpa memberitahu keberadaannya. Fahri mengulang kegiatannya seperti kemarin tapi tidak ada hasilnya juga
Fahri sudah berganti pakaian dengan baju Koko, wajahnya terlihat lebih segar setelah mandi dan sholat isya. Perutnya terasa melilit menandakan penyakit lambungnya kambuh karena telat makan.
Pantas saja karena dia terakhir makan itu tadi pagi sarapan dirumah Reynaa bareng ayah bundanya. Tidak ada persediaan makanan disana membuatnya pergi untuk belanja
Setelah membeli nasi bungkus Fahri melipirkan mobilnya ke minimarket dekat rumahnya untuk membeli persediaan mie instan. Saat berjalan melewati rak-rak toko dia mendapati wajah yang dia cari, dia tidak menyapa tapi malah bersembunyi agar tidak ketahuan. Dia berniat untuk mengikuti kekasih hatinya itu pergi, dia menduga kalau Reynaa tinggal di suatu tempat lain
Reynaa keluar dari minimarket itu dengan barang belanjaan yang menggantung di kedua tangannya. Tidak terdapat mobil Reynaa diparkiran menandakan dia pergi dengan berjalan kaki, benar saja karena Reynaa menyebrang jalan dan menuju apartemen mewah disana. Itu berarti Reynaa tinggal dekat dengan rumah kosnya Fahri di apartemen mewah itu.
Fahri terus saja mengikuti Reynaa sampai didepan lift, tampak dari kejauhan Reynaa memencet tombol nomor 10. Setelah Reynaa masuk, Fahri segera memencet tombol yang sama di lift yang satunya.
Setelah Fahri sampai terlihat Reynaa membuka pintu salah satu unit. Fahri menghampiri pintu itu dan mengetuknya, saat pintu sedikit terbuka Fahri langsung nyelonong masuk karena kalau dengan basa-basi dia takut tidak dibolehkan
"kak Fahri apaan sih?" Fahri sudah mengurung Reynaa dibalik pintu
"kamu yang apa-apaan! seenaknya saja ngilang dari aku! mau main-main sama aku ya?" protes Fahri menyeringai
Fahri mengecup lembut bibir yang dirindukannya, semakin lama ciuman itu semakin penuh gairah. Meskipun tidak membalas, Reynaa tetap merasakan hal dahsyat yang terjadi pada tubuhnya. Reynaa terengah-engah setelah melepas ciuman Fahri, mereka saling pandang sampai terdengar suara perut Fahri
Reynaa pergi ke dapur memasak mie instan yang dibelinya tadi
"aku cuma bisa masak mie instan, baru besok mau ke pasarnya!"
__ADS_1
"Ga usah aku udah beli makanan 2 bungkus!" Fahri membawa bungkusan yang tadi dia jatuhkan
"kakak beli 2 bungkus?" Reynaa bingung
"tadi aku kelaparan, terakhir makan di rumah ayah tadi pagi! sibuk nyariin kamu" jelas Fahri membuat Reynaa sedikit bersalah
"yaudah makan aja semua!" Reynaa cemberut
"abis makan bibir kamu jadi berkurang lapernya! ayo makan bareng" goda Fahri yang berbisik ditelinga Reynaa
Setelah makan Reynaa mencuci piring bekas makan mereka, Fahri mengambil foto Reynaa dari belakang dengan handphonenya
"kak Fahri ngambil fotoku?" tanya Reynaa yang berbalik mendengar suara jepretan kamera
"nggak?" Fahri pergi ke sofa depan TV, Reynaa segera mencuci tangannya dan mengejar Fahri
"siniin handphonenya!"
"Ga mau!" Fahri menyembunyikan ponselnya di belakang badannya.
Reynaa segera duduk disebelah Fahri dan merogoh bagian belakangnya, dengan mudah Fahri memeluk tubuh yang ada didepannya itu dan merapatkankan jarak diantaranya.
Reynaa hanya bisa mematung mendapatkan perlakuan Fahri
Dengan jelas Reynaa mendengar debaran jantung Fahri karena posisi telinganya yang ada didepan dada Fahri, posisinya itu membuatnya merona merah.
Akhirnya Reynaa mendapatkan barang yang dicarinya, dia segera melepas pelukan Fahri dan menatap serius ponsel milik Fahri itu. Fahri hanya membiarkan Reynaa mengutak-atik ponselnya
"sebucin inikah kak Fahri ke aku?" tanya Reynaa yang pandangannya masih belum lepas dari ponsel Fahri. Disana ada banyak foto Reynaa dengan berbagai pose dalam setiap momen
"sumpah merinding gue!"
Fahri mengambil ponselnya dan melemparnya sembarangan, Fahri mendorong tubuh Reynaa agar telentang dan Fahri menindih tubuh itu diatasnya
"aku emang Bucin ke kamu, apa salahnya kalau Bucin ke istri sendiri? kalau aku mau aku bisa mengulang kembali hal yang menakutkan buat kamu seperti dulu. Aku sayang sama kamu Reynaa, pliss jangan abaikan aku! jangan menghindar dariku lagi!"mohon Fahri memelas, membuat Reynaa merasa bersalah juga takut
"maafkan aku kak!" Fahri membantu Reynaa duduk kembali
"maafin aku juga!"
__ADS_1
Setelah beberapa menit mereka sama-sama terdiam Reynaa membuka hijabnya yang membuat Fahri terkejut
"kamu mau apa?" tanya Fahri bingung
"cium aku!" pinta Reynaa yang membuat Fahri langsung menerjangnya
Fahri ******* bibir Reynaa dengan ganas dan rakus, kali ini Reynaa menerima dan membalas ciuman itu. Yang terdengar hanya suara decapan dari ciuman mereka, tak cuma dibibir Fahri juga mengecupi bagian leher Reynaa yang terbuka dan meninggalkan tanda merah disana.
Fahri tak kuat menahannya lagi, tapi dia tidak mau merusak masa depan Reynaa. Fahri menghentikan cumbuan itu dan segera pergi ke kamar mandi, entah apa yang dilakukannya disana
Reynaa merapikan bajunya dan memakai kembali hijabnya, tak lama kemudian Fahri keluar dari kamar mandi dengan wajah segar yang sudah dibasuh.
Reynaa menatap geli kebagian ************ celana Fahri yang basah juga
"abis ngapain?" goda Reynaa
"pokoknya kita harus segera mendaftar pernikahan di KUA!"
"kok gitu? jangan seenaknya dong! gak mau"
"aku gak yakin bisa nahan kaya tadi lagi! kalau terus bareng kamu!"
"justru ini yang aku khawatirkan, aku selalu menghindari kakak karena takut akan terjadi hal seperti itu" Reynaa menunduk
Fahri terkejut dengan alasan Reynaa yang memang benar adanya, Fahri seakan hilang kontrol saat bersama dengan Reynaa. Memang Fahri selalu diajarkan menahan syahwat oleh Abinya, bahkan Fahri tidak pernah berpacaran karena itu adalah perbuatan dosa.
Tapi kalau dengan Reynaa dia seakan seperti orang bodoh yang dipenuhi oleh nafsu, ajaran yang disampaikan Abinya akan hilang tergantikan syahwat yang menggebu
Fahri segera pamit pulang kepada Reynaa, dia khawatir akan terjadi hal buruk jika mereka terus bersama
"aku pulang dulu, aku takut terjadi hal yang berbahaya jika kita terus bersama. Maafkan perbuatanku!" sesal Fahri yang dibalas dengan anggukan
"aku mencintaimu!" Fahri mencium dahi Reynaa dan pergi
Fahri berjalan dengan tangan yang masuk ke saku, ternyata sudah ada kartu akses yang ada di sakunya. Dia mengeluarkan dan memandangi kartu itu, setelah sampai di lift dia berbalik dan menyeringai melihat pintu unit apartemen Reynaa.
Cukup jauh jarak mobil Fahri kalau ditempuh dengan jalan kaki, setelah masuk kedalam mobilnya dia segera mengemudikannya pulang ke rumah kosnya
Fahri bukan laki-laki yang munafik, setelah mengenal Reynaa dan jadi maniak kepada gadis itu. Dia tidak lagi ingin menjadi pengganti Abinya sebagai kyai pengurus pesantren.
__ADS_1
Dia terlalu hina akan hal itu, untuk jadi ustadz saja dia tidak sanggup. Cukup untuk dirinya dan anaknya saja ilmu yang diajarkan Abinya, mungkin saja anaknya kelak yang akan jadi pengganti kakeknya.
Untuk itu harus Reynaa yang jadi ibu dari anak-anaknya, karena dia yakin hanya Reynaa yang akan melahirkan bibit unggul untuk jadi penerus kyai Maulana