
Tinggal tujuh hari lagi pernikahan Reynaa akan diadakan, bukan pernikahan dirinya dengan Fahri melainkan pernikahan Reynaa dengan Randy. Tanggal pernikahannya dengan Fahri sudah lewat dua minggu yang lalu. Sebelum hari itu Reynaa dan bunda sudah melakukan jumpa pers untuk pembatalan acara pernikahan yang sebelumnya sudah di umumkan saat acara peragaan busana tempo hari, tentunya tanpa memberitahu alasannya sebenarnya
Reynaa menjalani hari-harinya dengan sangat berat, sungguh ini adalah ujian yang terberat untuknya dan juga untuk semua keluarganya. Dia tidak lagi peduli dengan kuliah dan restorannya, rasa malu yang teramat sangat membuatnya lebih memilih untuk berdiam diri didalam kamarnya.
Dia merasa jadi perempuan menjijikkan yang membiarkan Randy menikahinya, tanpa memperdulikan hubungan pernikahannya dengan Fahri meskipun itu hanya pernikahan siri. Semua itu dia lakukan demi menghindari kebangkrutan perusahaan ayah.
Reynaa lebih suka mengurung dirinya didalam kamar, dan itu sudah berlangsung hampir satu bulan. Dia menghabiskan waktunya untuk meratapi nasib menyedihkannya dan banyak berdoa kepada Allah SWT agar pernikahan yang tidak diharapkannya tidak akan pernah terjadi.
Meskipun terus ada didalam kamar, dia tidak serta-merta menangis sepanjang waktu. Dia juga menghabiskan waktunya untuk membaca buku, mengaji, beberes kamar dan berolahraga dengan dua alat fitnes yang tersedia dikamarnya sejak SMA. Reynaa juga melakukan puasa sunnah karena nafsu makannya yang menghilang
Tidak ada yang bisa ayah dan bunda lakukan, membatalkan pernikahan itu ataupun membujuk Reynaa untuk keluar dari kamarnya. Termasuk juga Fahri yang paling tidak ingin ditemui Reynaa, hanya Nisa yang dibolehkan untuk masuk ke dalam kamar. Nisa tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk selalu membujuk Reynaa untuk makan dan keluar kamar, tapi Reynaa tetap keras kepala tidak mau keluar
Setelah hari musibah itu, Fahri tidak lagi pergi ke kampus. Dia lebih fokus dan mementingkan keselamatan ayah dan perusahaannya. Fahri selalu menjemput ayah untuk pergi ke kantor bersama, dia takut terjadi sesuatu kepada ayah kalau menyetir mobil sendiri dengan keadaan ayah yang mengkhawatirkan seperti itu
Ayah dan Fahri tidak akan menyerah dengan keadaan perusahaan meskipun sudah diujung tanduk. Mereka akan terus berusaha dalam waktu satu bulan ini untuk mencari pebisnis lain yang mau menggantikan tuan Frans dan tuan Edward sebagai pemilik baru proyek besar itu. Tapi tidak mudah untuk ayah dan Fahri melakukan hal itu, sampai saat ini mereka masih belum menemukan orang yang mereka cari.
Usaha mereka hanya sia-sia karena tuan Frans dan tuan Edward tidak akan membiarkan itu terjadi, mereka tidak akan tinggal diam melihat usaha ayah untuk mengalahkan mereka. Tanpa ayah sadari mereka menghasut dan menjelek-jelekkan ayah pada para pebisnis lain untuk tidak melakukan kerjasama dengan ayah
...
Tidak seperti keluarga Reynaa yang sangat terpukul dengan pernikahan yang akan terjadi, keluarga Randy malah sebaliknya. Mereka sangat menantikan hari itu terlebih lagi Randy sang calon pengantin. Kalau saja papanya tidak mengajukan waktu satu bulan, dia pasti akan mempercepat proses pernikahan itu.
Randy tidak bisa mempercepat waktu satu bulan itu atas kehendaknya sendiri, meskipun dia sangat ingin untuk segera memiliki Reynaa seutuhnya. Ditambah lagi kedatangannya ke rumah Reynaa yang selalu diabaikan oleh semua penghuninya, sedangkan Reynaa bilang akan ikut kemanapun dia pergi kalau sudah menjadi suami istri dan memintanya untuk tidak mengganggu sebelum hari itu terjadi
...
Fahri sedang berada dibelakang Bi Asih yang membawa nampan makanan untuk Reynaa berbuka puasa. Dia ingin bertemu Reynaa sebelum pernikahan besok siang
"non Reynaa! ini makanan buat buka puasa!" ucap Bi Asih yang sebelumnya mengetuk pintu terlebih dahulu.
Terdengar suara ceklekan kunci pintu yang diputar. Fahri mengambil alih nampan itu dan segera masuk, dia tidak menemukan sosok Reynaa yang menunggu dibelakang pintu.
"taroh meja aja Bi!" suara Reynaa terdengar lirih, dia tidak sadar dengan keberadaan Fahri.
Fahri mendapati Reynaa yang duduk di ranjang yang memunggungi pintu sambil membaca buku. Fahri hanya bisa menelan ludah saat melihat Reynaa yang hanya mengenakan jubah mandi dengan handuk yang menggulung diatas kepalanya
Fahri menghampirinya dengan nampan yang masih ada ditangannya
__ADS_1
"udah azan, batalin dulu puasanya!" ucap Fahri yang membuat Reynaa terlonjak kaget
"astaghfirullah k.kak Fahri?" Reynaa bingung mencari sesuatu yang bisa menutupi tubuhnya dan dia ingin pergi ke ruang ganti
Fahri menghadang jalan Reynaa, menatap sendu wajah yang dirindukannya
"mau kemana? kamu malu sama aku?" tanya Fahri lembut, Reynaa hanya menjawab dengan anggukan
"kenapa malu? aku kan suami kamu! sini duduk biar aku suapi!" ucap Fahri yang sudah duduk di ranjang dan mengajak Reynaa
"aku mau ganti baju dulu kak!" jawab Reynaa berjalan cepat ke ruang ganti
Fahri menyuapi Reynaa dengan telaten, dia merasa bersalah melihat tubuh Reynaa yang semakin kurus
"udah kak!" ucap Reynaa menyudahi makannya yang cuma 5 sendok
"ini kamu cuma makan 5 sendok lho Rey! kamu itu puasa, makannya harus banyak!"
"aku udah kenyang kak!" jawab Reynaa sendu
Setelah makan Fahri menyuruh Reynaa berwudhu, dia ingin sholat magrib berjamaah dengan Reynaa untuk yang terakhir kalinya
Dia teringat saat sholat dipinggir pantai beberapa waktu lalu, perasaannya sangat bahagia. Saat itu dia berharap ingin terus sholat berjamaah bersama Fahri sampai Allah mengambil nyawanya. Reynaa terus meneteskan air matanya dalam setiap gerakan sholat hingga salam diucapkan oleh Fahri
Fahri berbalik menghadap Reynaa, dia mendapati wajah Reynaa yang sudah sembab
"maafkan aku!" sesal Fahri, Reynaa menunduk tidak bergeming. Fahri menangkupkan tangannya diwajah Reynaa
"maafkan aku sudah membuat kamu menderita, maafkan aku karena tidak bisa mempertahankanmu, maafkan aku yang tidak bisa mengubah keadaan menyedihkan ini!" ungkap Fahri yang malah membuat Reynaa meluapkan tangisnya
Fahri menarik Reynaa kedalam pelukannya, Fahri ikut menitikan air mata mendengar tangisan pilu Reynaa
"kenapa kak? kenapa ini harus terjadi!" ucapnya sambil memukul dada Fahri pelan
"maafkan aku sayang!" hanya kalimat itu yang bisa Fahri ucapkan
Tanpa mereka sadari diluar kamar Reynaa, ada banyak orang yang menangis karena menguping pembicaraan mereka
__ADS_1
Reynaa menjauhkan tubuhnya setengah puas menangis
"kakak harus talak aku!" pintanya sambil masih terisak
"sebelum itu, aku ingin menciummu!" ungkap Fahri tanpa ragu, sedangkan Reynaa hanya menunduk malu. Dengan pasti Fahri menarik dagu Reynaa, tidak ada penolakan darinya
Darah Reynaa berdesir merasakan sentuhan bibir Fahri di bibirnya, tidak dia pungkiri kalau dirinya juga menginginkannya. Matanya terpejam, dia hanya bisa menerima tanpa sanggup membalas ciuman Fahri. Tidak ada gairah disana, hanya ciuman lembut nan memabukkan
Mereka menyatukan dahi sama-sama mengatur nafas setelah melepas ciumannya
"ini yang terakhir!" ucap Fahri sambil mengecup dalam kening Reynaa, lama
Reynaa kembali meneteskan air matanya
"maafkan aku! hari ini saat ini, aku Fahri Maulana Zakaria selaku suami kamu Reynaa Malika Ibrahim dengan sadar dan tanpa paksaan akan menjatuhkan kamu ta...."
Terdengar suara ketukan pintu yang membuat Fahri menghentikan penjatuhan talaknya yang belum selesai, perhatiannya dan juga Reynaa tertuju pada pintu yang telah diketuk dari luar
"siapa?" teriak Reynaa tapi tidak ada yang menyahut
Sedangkan dibalik pintu Luna, Rita dan Devi berdebat menyalahkan Yanto yang mengetuk pintu memotong pembicaraan dua orang yang mereka nguping
Brruuukk, keempat orang itu terjatuh ketika Reynaa membuka pintu
"awwh, sakit!"
"aduh, Lo sih dorong-dorong!"
Mereka belum sadar dengan keberadaan Reynaa
"kalian nguping ya?" tuduh Reynaa yang membuat para sahabatnya terkejut dan langsung berdiri
Mereka berdiri kikuk karena salah tingkah
"hehe, maaf ya Rey kak Fahri? udah ganggu kalian! habis sholat ya?" sesal Luna basa-basi
"Lo sih! ngapain sih ngetuk pintu! ketahuan kan?" bisik Devi menyenggol lengan Yanto menyalahkan
__ADS_1
"kalian udah sholat?" tanya Reynaa
"be. belum, kita belum sholat! yaudah kita sholat dulu, dah!" kata Luna mengajak tiga sahabatnya pergi