
Reynaa membuka matanya malas, tapi hari ini dia harus take off menuju London. Reynaa sudah menunda kepergiannya sehari untuk tidur seharian penuh karena badannya yang merasa tidak nyaman setelah naik bus. Memang sebelumnya Reynaa sama sekali tidak pernah naik bus, tapi dia tidak menyangka kalau badannya senorak itu
Reynaa segera melakukan check-out dari hotel tempatnya menginap, dia juga sudah berganti baju dengan pakaian yang dia beli di toko terdekat
"tuh cewek kayak orang yang ada ditivi! anak konglomerat itu lho!" ucap salah satu resepsionis hotel setelah Reynaa keluar dari lobi. Tanpa Reynaa tahu, ternyata ayahnya memasukkan berita kehilangannya di televisi
Reynaa merasa risih dengan driver taksi yang ditumpanginya, driver itu selalu mencuri pandang kearahnya
"Lo kalo nyetir yang bener ya! atau turunin gue disini!" ancamnya dengan kesal
"maafkan saya sudah lancang! saya cuma familiar dengan wajah mbak, kaya anak konglomerat yang masuk tivi. Di danau tempatnya ilang banyak orang yang nyari, karena ada iming-iming uang satu M kalau bisa nemuin!"
Reynaa terkejut dengan apa yang didengarnya, bisa-bisanya ayahnya berbuat seperti itu.
"ohh, kirain abangnya mesum! mungkin cuma mirip aja! yaudah buruan nyetirnya! gue udah telat" ucap Reynaa jutek, driver itu hanya menjawab dengan anggukan
Reynaa harus berhati-hati dan jangan sampai ada lagi orang yang mengenalinya
Reynaa berjalan terburu-buru keluar dari taksi, cara berjalannya yang menunduk membuatnya menabrak seseorang
"eh eh, sorry gue gak sengaja!" ucapnya sambil membantu seorang pemuda yang ditabraknya itu berdiri
"i..iya gapapa!" jawab pemuda itu gugup karena terpesona dengan paras cantik Reynaa, tapi Reynaa tidak peduli dengan itu dan lebih memilih pamit segera pergi
"gila, tuh cewek cantik banget!" batinnya dengan masih menganga
...
Fahri sedang bersiap-siap untuk pergi kuliah yang kedua harinya setelah cutinya karena sakit. Kalau mengingat kemarin saat semua temannya menanyakan tentang Reynaa yang sama sekali tidak dia ketahui, Fahri sangat tidak ingin pergi kuliah lagi. Mereka membuatnya merasa bingung dan membuat kepalanya berdenyut nyeri
Tapi dia juga baru tahu kalau ternyata dia sudah menunda proyek skripsinya selama 5 bulan entah untuk apa. Padahal wisuda akan dilakukan dua bulan lagi, karena itu mau tidak mau Fahri harus rajin pergi kuliah untuk mengerjakan skripsinya itu.
"Kenapa aku nunda skripsi ya? kok gak bisa ingat?" batinnya seraya mencari buku yang dia butuhkan dan memasukkan ke dalam tas
Sebelum kuliah Fahri pergi ke dapur berharap ada makanan disana, tapi ternyata tidak ada satupun makanan yang bisa dimakan olehnya. Dia mendapati Uminya sedang duduk diam dikamarnya, kehilangan Reynaa membuat sang Umi menjadi sedih dan murung. Fahri tahu betapa besar rasa sayang Umi kepada Reynaa, tapi dia tidak mau memikirkan Reynaa lagi karena setiap dia mencoba mengingat pasti kepalanya akan merasa sakit
Baru saja Fahri memarkirkan mobilnya, dia didatangi oleh tiga gadis yang ternyata sedari tadi sudah menunggu kedatangannya
"kak Fahri harus ingat! Reynaa itu istri kakak, Reynaa bunuh diri karena kakak!" ucap Devi dengan berapi-api, dia tidak bisa bersabar lagi
"iya, dulu kak Fahri Bucin banget, tapi kenapa kakak bisa lupain Reynaa?" sahut Rita
"kamu punya bukti? mana? ayo tunjukkin!" jawab Fahri kesal, bukannya dia tidak percaya. Pasalnya sang Abinya pun tidak bisa memberinya bukti, dia tidak tahu kalau dirinyalah yang menyimpan semua bukti itu
...
Reynaa sudah duduk di kursi penumpang, beberapa menit lagi pesawat terbang yang ditumpanginya akan lepas landas
__ADS_1
"duh, perut gue perih! tadi belom sempet makan!" ucapnya sambil mengelus perutnya
"pengen bakso!" ocehnya sendiri, tiba-tiba ada seorang pemuda yang duduk di kursi sebelahnya
"hai! kita ketemu lagi, Lo mau ke London juga?" sapanya kepada Reynaa, Reynaa hanya menjawab dengan anggukan tanpa semangat
Pemuda itu terus memperhatikan Reynaa yang terlihat tidak nyaman
"Lo gapapa? kok gak nyaman gitu?" tanyanya terus menatap dengan intens
"gue laper!" rengek Reynaa sambil mengelus perutnya, tingkahnya membuat pemuda bernama Ibnu itu merasa gemas
"gemesin banget nih cewek!" batinnya
"gue panggilin pramugarinya dulu ya!"
Reynaa hanya bisa pasrah dan terus melahap makanan didepannya, dia sangat ingin makan bakso tapi makanan itu tidak tersedia disana. Rasanya dia ingin memuntahkan makanan itu karena tidak enak di lidahnya
"gak suka ya? kok kaya gak enak gitu makannya?" tanya Ibnu yang tak henti-hentinya memperhatikan Reynaa. Tiba-tiba Ibnu panik melihat Reynaa yang seperti ingin memuntahkan makanannya, dengan sigap dia menggandeng dan mengantar Reynaa ketoilet
Rasa cemas tampak sangat jelas dari raut wajah Ibnu, sesekali dia mengetuk pintu toilet yang masih saja belum terbuka. Dengan setia dia terus menunggu Reynaa di depan pintu
"Humaira, Lo gapapa kan?" tanyanya di sela-sela ketukan pintu
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Reynaa keluar juga, wajah Reynaa terlihat pucat
"gimana? udah enakan?" tanyanya setelah membereskan kotak obat yang dibawanya, Reynaa hanya menjawab dengan anggukan
"sorry, Lo baru pertama naik pesawat ya?" tanya Ibnu ragu-ragu karena Reynaa seperti orang yang mabuk perjalanan
"emm Iya sih! tapi gue gak tau kalau bakal senorak ini! malu-maluin banget! kesel deh" jawab Reynaa memanyunkan bibirnya
Reynaa menatap Ibnu yang tersenyum gemas ke arahnya, dia baru ingat kalau cowok disampingnya ini tadi memanggilnya dengan nama lain
"eh, kalau gue gak salah denger Lo panggil gue Humaira tadi?" tanya Reynaa penasaran
"abisnya gue gak tau nama Lo, trus kesan pertama pas liat Lo tadi ya Humaira. Tapi sekarang Lo nya jadi pucet! yaudah sekarang Lo tidur aja, biar cepat baikan!"
Reynaa menutupi tubuhnya dengan selimut, efek mengantuk dari obat yang diminumnya sudah bereaksi. Dia menatap ke jendela, memandang hamparan awan putih diluar sana membuatnya merasa tenang
"ngomong-ngomong nama gue Reynaa, makasih ya udah bantuin gue!" ucap Reynaa yang sudah menguap beberapa kali
"iya sama-sama, nama gue Ibnu! tidur yang nyenyak ya!" jawab Ibnu mengusap puncak kepala Reynaa
...
Akhirnya pesawat yang ditumpangi Reynaa dan Ibnu tiba di bandara dengan selamat, penerbangan yang sangat lama membuat mereka menjadi lebih akrab. Ibnu juga merawat Reynaa dengan telaten dan tanpa rasa jijik karena Reynaa tidak hanya sekali mengalami muntah
__ADS_1
Reynaa juga akhirnya tahu kalau ternyata Ibnu adalah teman Reyhan yang disuruh menemui sang ayah untuk menanyakan kabar tentang adiknya dan juga untuk menyampaikan maaf karena tidak bisa pulang. Tapi dia sendiri belum memberitahu kepada Ibnu yang sebenarnya, kalau dirinyalah orang yang dicarinya
Reynaa baru sadar kalau dia harus mengabari Reyhan untuk menjemputnya di bandara
"ehm Ibnu! gue boleh gak pinjem ponselnya?" tanya Reynaa sambil menautkan telunjuknya
"boleh, dengan senang hati tuan putri!" jawabnya sambil menyerahkan ponsel dengan gaya seperti pelayan
Reynaa terkekeh karena tingkah Ibnu, dia mengambil ponsel itu dan mengetikkan nomor yang sudah dihafalnya. Reynaa kembali tersenyum geli karena ternyata nomor itu sudah tersimpan dengan nama Dokter Gila
"halo, assalamualaikum Nu! ada apa? ntar aja gue hubungi balik, gue masih sibuk!" terdengar ocehan Reyhan dari seberang telepon setelah terhubung
Reynaa tiba-tiba merasa gugup, dia tidak berani untuk bersuara
"eh emm ehm, bang Reyhan ini gue Reynaa!"
Tidak ada lagi suara dari seberang, mungkin Reyhan terkejut menyadari siapa yang meneleponnya
"ya Allah, ini beneran Reynaa adek gue? kenapa Lo telpon pake ponsel Ibnu? Lo baik-baik aja kan? Lo dimana sekarang dek?" tanya Reyhan bertubi-tubi, dia tidak percaya dengan siapa dia bicara
Reynaa tersenyum, dia tahu kalau Reyhan pasti mengkhawatirkannya
"lo mau kan jemput gue di bandara sekarang?" tanyanya santai, lain dengan Reyhan yang berbicara dengan antusias
"oke, gue kesana sekarang! tunggu gue datang, jangan kemana-mana!"
"iya bang, satu lagi jangan sampe ada yang tahu kalau gue ada di London!"
Setelah lima belas menit menunggu Reynaa berjalan keluar bandara, sedangkan Ibnu masih setia menemaninya.
"Lo mau kemana? yang jemput udah dateng? gimana kalau gue anter Lo? tujuan Lo kemana?" tanya Ibnu yang terus mengekorinya
"Abang gue mau jemput, gue tunggu sambil jalan keluar aja!"
Ibnu penasaran seperti apa kakak Reynaa, adiknya saja secantik itu
"gue boleh kenalan sama Abang lo?" tanyanya penuh harap
"ngapain? Abang gue kan cowok?"
"ya kalian di London kan berdua tanpa orang tua, kalau gue mau ngelamar Lo kan harus ke Abang lo!" jelas Ibnu dengan senyum mengembang
"issh, dasar!" Reynaa tersenyum, dia berfikiran kalau Ibnu bicara seperti itu karena masih belum tahu siapa dirinya sebenarnya
...
NB : mohon maaf kalau cerita pas di pesawat jadi ngelantur ya! Author nya orang desa, gak pernah naik pesawat. Mohon dimaklumi terimakasih!🙏
__ADS_1