Reynaa Dan Reyhan

Reynaa Dan Reyhan
Kenyataan pahit


__ADS_3

Nisa menatap iba tubuh adik iparnya yang terbaring lemah di atas brankar di hadapannya. Selang infus menancap ditangan dan kepala berbalut perban, juga wajah yang terlihat sangat pucat. Kini jam menunjukkan pukul dua siang dan masih belum ada tanda-tanda Reynaa akan tersadar.


Nisa menatap Reynaa dan Reyhan yang tertidur di sofa bergantian, dia melihat raut wajah kekasihnya itu yang begitu kelelahan. Kenapa Allah harus memberikan cobaan kepada Reynaa saat dia baru merasakan kebahagiaan, itulah yang terus Nisa pikirkan. Dia ingat saat dokter mengatakan kalau Fahri mengalami gegar otak yang kemungkinan besar bisa membuat Fahri amnesia, dia sangat khawatir kepada Reynaa


Reynaa memicingkan matanya silau, dia baru tersadar dari pingsannya setelah kecelakaan semalam. Kepalanya terasa amat sakit


"Alhamdulillah Reynaa! kamu udah siuman!" ucap Nisa senang setelah tubuh yang dijaganya sedari subuh itu bergerak. Hanya ada Nisa dan Reyhan disana, sedangkan ayah dan bunda pamit pergi sebentar untuk suatu urusan


Reyhan yang mendengar suara Nisa segera bangun dan menghampiri dua gadis yang dikasihinya itu. Dengan sigap Reyhan langsung pergi keluar kamar untuk memanggil dokter


"apanya yang sakit dek?" tanyanya setelah dokter mengecek kondisi Reynaa


"gue gapapa bang!" lirih Reynaa


"dok, kondisi adek saya gimana?" tanyanya lagi karena tidak puas dengan jawaban Reynaa


"tidak ada yang perlu dikhawatirkan, cuma mungkin masih terasa pusing saja!" jelas dokter yang terus pamit pergi


Reyhan mengambil piring berisi nasi dan lauk yang sudah siap di nakas samping brankar Reynaa, dia harap adiknya tidak menanyakan keadaan sang suami


"Lo makan dulu ya! biar cepet sehat!" bujuk Reyhan sambil menyodorkan sesendok nasi


"kondisi kak Fahri gimana bang?" tanya Reynaa yang tidak menggubris omongan Reyhan


Reyhan yang ditanya seperti itu menjadi bingung harus menjawab apa, pasalnya keadaan Fahri saat ini sedang kritis dan sebisa mungkin Reynaa tidak boleh sampai tahu. Dia menatap Nisa yang sama-sama menatapnya, mungkin Nisa juga memikirkan hal yang sama


Reynaa celingukan mencari hijabnya, dia sadar kain yang membalut kepalanya bukan hijab melainkan perban


"hijab gue mana bang?" tanya Reynaa yang membuat Reyhan dan Nisa tersadar dari lamunannya, mereka berdua jadi kelabakan


"ehh emm, pakaian gantinya masih ada di mobil! kamu makan dulu ya Rey, sambil nunggu aku ambil pakaiannya!" sahut Nisa gugup menyadari sang kekasih tak kunjung menjawab


Dengan terpaksa Reynaa mengunyah semua makanan yang disodorkan oleh abangnya, dia ingin cepat-cepat melihat wajah sang suami. Tapi dia curiga dengan tingkah abangnya dan Nisa, seakan mereka mengulur waktu agar tidak segera ke tempat Fahri.

__ADS_1


...


Reynaa terdiam menatap sang suami yang terbaring lemah, dia hanya sanggup memandang dari balik jendela kaca ruang ICU tempat Fahri berada. Dadanya terasa sesak melihat wajah sang suami yang hampir seluruhnya tertutup perban. Sebisa mungkin Reynaa menahan air matanya agar tidak terjatuh, kenapa Allah memberinya takdir yang sangat menyedihkan


Reynaa segera tersadar, dia tidak boleh bersu'udzon kepada Allah. Dia mengusap wajahnya sambil mengucap istighfar


"Sabar ya dek! Fahri pasti bakal baik-baik aja!" Ucap Reyhan yang sedari tadi tetap berada dibelakang Reynaa untuk mendorong kursi rodanya. Dia mengusap pundak Reynaa untuk menguatkan hati sang adik, dia tahu pasti adiknya sangat terpukul


Umi yang sedari tadi tidak bergerak dari tempatnya disamping Fahri, segera keluar kamar ketika beliau mendapati sang menantu memperhatikannya dari luar. Beliau memeluk tubuh rapuh Reynaa erat, tangisannya tumpah disana. Sedangkan Reynaa akhirnya meneteskan air mata yang sedari tadi dia tahan


Reynaa merasa ini semua karena dirinya, dia sangat merasa bersalah


"Maafin Reynaa ya Mi! Ini semua gara-gara Reynaa!" Sesal Reynaa yang menggenggam tangan Umi dan menciumnya


"Kamu gak boleh ngomong begitu! Kamu gak salah sayang!" Jawab Umi yang menangkup kedua pipi Reynaa


Umi mengusap lembut kepala Reynaa, beliau harus tenang dan bisa menenangkan Reynaa. Pasti ini sangat sulit untuk menantunya itu, mereka saling mencintai dan baru saja berbahagia


"kamu harus bersabar, kamu harus bisa melewati ini semua! kamu harus yakin kalau suamimu akan baik-baik saja dan segera sehat seperti semula! ada Umi yang selalu bersama kamu!" bujuk Umi menenangkan, Reynaa hanya mengangguk tanpa mampu berucap apapun


...


Reynaa tidak mengizinkan kedua mertuanya untuk bermalam di rumah sakit, dia akan mengusir siapapun yang akan menemaninya menginap termasuk keluarganya sendiri. Reynaa ingin dialah orang pertama yang akan dilihat sang suami saat tersadar nanti. Umi dan Abi hanya dia perbolehkan datang saat siang dan akan disuruh pulang saat sudah malam.


Sesekali keluarga dan sahabatnya datang untuk menjenguk dan melihat perkembangan Fahri, juga untuk menghibur dan menguatkan Reynaa agar tidak bersedih. Reynaa harus optimis dan yakin kalau Fahri akan sembuh dan kembali seperti semula.


...


Dipagi hari tepat dihari kelima Fahri dirawat, seperti biasa Reynaa sedang menyeka tubuh suaminya dengan handuk basah. Dengan telaten Reynaa mengusap seluruh bagian tubuh Fahri tanpa ada yang terlewat.


"tau gak kak? aku tuh geli sama bulu dada kamu! tapi gapapa kok, ketek kamu kan bersih!" ucap Reynaa yang tentu tidak didengar oleh Fahri, dia sedang menyeka bagian dada suaminya. Setelah itu dilanjutkan dengan mengusap baby lotion dan menyemprotkan baby parfum pada tubuh Fahri.


Saking seriusnya dengan apa yang sedang dia lakukan, Reynaa tidak sadar kalau tangan Fahri bergerak. Alis Fahri juga berkerut, entah karena silaunya cahaya ruangan atau karena kepalanya merasa pusing. Fahri melenguh, dia memegangi kepalanya yang terasa sakit

__ADS_1


Mengetahui hal itu Reynaa langsung sumringah, akhirnya suaminya tersadar juga


"Alhamdulillah ya Allah! kamu udah bangun kak? kepalanya sakit ya?" ucap Reynaa saking senangnya sekaligus khawatir karena Fahri terlihat kesakitan


"kamu pake baju dulu ya! abis itu aku panggilkan dokter!" ucapnya lagi terus membantu Fahri memakai baju


Fahri merasa canggung, dia melepaskan tangan Reynaa dari bajunya


"aku bisa sendiri sus, orang tuaku mana?" lirih Fahri, melanjutkan tugas Reynaa. Sedangkan Reynaa yang diperlakukan seperti itu merasa aneh dan bingung


"ehh emm, Abi sama umi ada dirumah! tadi kak Fahri panggil aku sus?" tanya Reynaa memastikan, apa Fahri tidak mengenalnya


Fahri ikutan bingung dengan pertanyaan Reynaa, dia fikir gadis yang ada didepannya itu adalah suster. Kebetulan Reynaa memakai kemeja dan hijab warna putih dengan bawahan rok hitam


"memangnya kamu siapa? kamu kenal aku?" ucap Fahri yang membuat Reynaa terkejut. Reynaa tak mampu menjawab, seketika perasaannya hancur lebur


Reynaa keluar kamar, dia segera memanggil dokter dan menghubungi mertuanya. Air matanya mengalir deras, bibirnya dia gigit agar tidak menimbulkan suara. Dia menangis dalam diam, sulit untuknya melangkahkan kaki mengikuti dokter yang sudah masuk kedalam kamar Fahri.


"cobaan apa lagi ini ya Allah!" teriak batinnya, dia memegang dadanya yang terasa sesak.


Reynaa mengusap air matanya saat dokter sudah menyelesaikan tugasnya, dokter lalu menjelaskan tentang keadaan Fahri yang katanya baik-baik saja. Reynaa hanya sanggup mendengarkan, tanpa mampu mempertanyakan tentang suaminya yang tidak mengenali dirinya. Lidahnya kelu untuk berkata, hatinya sakit, dia tidak sanggup menerima kenyataan pahit ini


Reynaa kembali dalam tangis pilunya, tidak peduli dengan tatapan iba orang-orang yang berlalu lalang dihadapannya. Sampai akhirnya kedua mertuanya datang, dia segera mengusap air matanya dan menyalimi keduanya


"Reynaa sayang! kamu kok diluar? kamu kok nangis?" tanya umi yang mengusap sisa air mata Reynaa, beliau memeluk Reynaa dan mengajaknya masuk kedalam.


Reynaa mencoba tersenyum, dokter benar kalau suaminya itu memang baik-baik saja. Tapi hatinya sakit, Fahri memandangnya dengan tatapan lain. Tidak ada kasih sayang disana, Fahri menganggapnya seperti orang lain. Umi dan Abi yang melihat Reynaa merasa bingung, kenapa saat Fahri tersadar Reynaa malah bersedih


Melihat sayangnya umi kepada gadis itu, membuat Fahri merasa diabaikan.


"Siapa sih cewek itu? sampe aku dicuekin!" batin Fahri merasa cemburu


"Reynaa sayang, kamu kenapa sih? ngomong dong!" bujuk Umi lagi, karena sang menantu masih terus saja berlinang air mata dan mengunci mulutnya

__ADS_1


Abinya juga melakukan hal yang sama, itu membuat Fahri semakin kesal


"Abi, umi! yang sakit disini tuh Fahri, kalian malah perhatiin dia! dia siapa sih Mi?" ucap Fahri yang membuat keduanya terkejut, Abi langsung bisa menangkap apa yang sebenarnya terjadi. Fahri kehilangan sebagian ingatannya dan tidak mengingat siapa Reynaa


__ADS_2