
Reynaa menjalani kehidupan barunya dengan sangat malas. Kegiatan mengaji Al Qur'an, belajar hadits, bersholawat, serta kegiatan lain dia jalani dengan hanya diam.
Bahkan saat harus melafalkan doa dan pujian sholawat dia hanya bisa bergumam, bukan tidak bisa tetapi karena malas tak bersemangat. Cuma sholat yang Reynaa lakukan dengan senang hati karena sholat bukan hanya kegiatan pesantren tetapi kegiatan wajib orang muslim.
Reynaa juga belajar di Madrasah Aliyah tempat dia meneruskan sekolahnya dari SMA, disana Reynaa sedikit paham karena mata pelajaran yang di SMA masih ada dan ditambah beberapa mata pelajaran agama Islam yang lebih memerinci.
Reynaa harus belajar dengan semangat karena saat dia pindah kesana, tepat akan dilaksanakannya ujian akhir semester ganjil. Dia baru sadar kalau dia belajar di SMA sudah 3 semester, dan dia harus belajar di tempat ini 3 semester lagi. Itu artinya satu setengah tahun lagi dia bisa keluar dari pesantren ini
Kyai Maulana selalu memantau perkembangan Reynaa, beliau hanya bisa memaklumi tingkah laku Reynaa yang tidak baik yang masih belum hilang. Beliau selalu memperhatikan keseharian Reynaa, beliau juga turun langsung membimbing dan mengajar santri spesialnya tanpa ustadz dan pengurus pesantren lain.
Tak terasa 2 Minggu sudah Reynaa berada di pesantren, seperti dulu saat di SMA dia masih belum juga memiliki teman dekat. Sifat yang menurut santri disana jutek dan angker, membuatnya ditakuti dan disegani. Mungkin juga karena kejadian seminggu yang lalu saat Reynaa membuat hidung senior sok berkuasa mimisan karena sudah mengerjainya.
Untungnya kyai Maulana sudah tahu sifat asli Reynaa, beliau hanya memaklumi, menasehati dan memberi sedikit semangat, beliau takut jika berlebihan akan membuat Reynaa tertekan. Dengan cara memperbanyak waktu mengaji kitab diharapkan bisa membuat santri spesialnya termotivasi, menghilangkan sifat jeleknya dan lebih menikmati kehidupan selama di pesantren.
Reynaa sedang berbaring dengan earphone ditelinganya saat ada tangan yang menyentuhnya
"Re.Reynaa, maaf ada yang datang menjenguk kamu" ucap Aisyah gugup seraya menepuk tangan Reynaa pelan, dia terpaksa berbicara kepada santri angker teman sekamarnya itu karena mendengar panggilan untuk Reynaa dari audio yang terpasang di depan kamar berulang kali.
"Iya" Reynaa tersadar dari lamunannya dan segera keluar
Tak disangka ternyata yang datang adalah kedua eyang yang dia rindukan. Seketika senyum yang selama ini hilang akhirnya terlihat lagi. Kerinduannya membuat sifat angkernya berubah manja. Dia berlari dan memeluk kedua eyangnya, tak lupa juga mencium tangan keduanya
"Eyang, Reynaa kangen!" Kata Reynaa manja
__ADS_1
"Cucu eyang cantik sekali, kamu kok ga jenguk eyang sih? Peraturan pesantren ini masih sama kan? Santri masih bisa keluar pesantren kan?" Tanya eyang Nida beruntun
"Eyang kok tau sih?" Reynaa bingung
"Kamu belum tau ya? ini pesantren ayah kamu dulu" jelas eyang Malik
"Ohh ya? Kok aku ga dikasih tau? Awas aja nanti biar Reynaa ejek ayah!" Kata Reynaa mengepalkan tangan
Eyang Nida mengerutkan keningnya
"Kok malah di ejek siih?" tanya eyang lagi
"Eyang, aku disini kaya di neraka tau nggak? Ayah yang maksa banget buat disini, aku gamau disini eyang" rengek Reynaa
Reynaa memang belum pergi kerumah eyangnya, karena semua santri hanya pergi sebatas ke taman kota dan supermarket dekat pesantren, Karena itu Reynaa selalu pergi ke dua tempat itu dan tidak berani pergi lebih jauh.
Reynaa suka duduk di kursi yang tersedia di taman, melihat orang-orang berlalu lalang hanya untuk memperbaiki suasana hatinya. Ingin dia menghajar seseorang guna melepaskan kegundahan hatinya, tetapi dia tahu semua santri disana adalah orang baik-baik. Karena itu dia suka pergi ke taman hanya untuk menenangkan diri
Lagi-lagi hanya bujukan yang Reynaa terima, harapannya untuk pergi dari pesantren tidak bisa terwujud
"Iya" jawab Reynaa tak semangat
"Ini buat jajan kamu! eyang mau ke kyai Maulana trus pulang, kembalilah kekamar dan jangan nakal!" Pesan eyang sembari memberikan beberapa lembar uang
__ADS_1
"Makasih eyang, hati-hati dijalan! Reynaa mau belanja di supermarket dulu, Assalamualaikum"
Reynaa menyalami kedua eyangnya dan pergi
Setelah berpisah Reynaa segera ke kamar mengambil papan skateboardnya, Reynaa memang masih membawa benda kesayangan itu meski dilarang oleh ayah. Nurut masuk pesantren aja sudah Alhamdulillah, jadi ayah membiarkannya. Reynaa segera memacu laju skateboardnya, tapi tepat akan keluar gerbang pesantren Reynaa menabrak mobil yang hendak masuk. Untung saja jalan mobilnya pelan-pelan.
Reynaa menggedor pintu mobil dibagian pengemudi dengan jengkel, dan kaca mobil segera diturunkan oleh pengemudi mobil tersebut. Lalu muncullah wajah tampan menawan dibaliknya yang membuat Reynaa terpana. Tetapi Reynaa segera sadar dan tidak mau kalah oleh ketampanan pemuda itu.
"keluar Lo! Lo mau bikin gue mati yah?" Reynaa marah bahkan hanya karena masalah sepele
"aku minta maaf, aku ga sengaja!" sesal Fahri, dia seperti familiar dengan wajah Reynaa. Fahri tidak sadar jika gadis itu adalah adik temannya.
Reynaa lalu pergi meninggalkan Fahri, meski Reynaa terlihat baik-baik saja Fahri tetap merasa bersalah. Begitulah Fahri dari kecil dia sudah diajarkan sifat rendah hati, tanggung jawab dan kebaikan.
Fahri adalah putra tunggal dari keluarga kyai Maulana, dia baru saja datang dari kampusnya. Fahri hanya pulang sesekali saja, karena kesibukan dan jarak jauh membuatnya tinggal dirumah dekat kampus yang dia sewa
Senyum Fahri mengembang, dia terus saja memperhatikan Reynaa meskipun sudah berada cukup jauh darinya. Fahri mengambil cameranya dan mengambil foto.
"gadis ini kok aneh ya? pake gamis masih bisa naik skateboard, tapi lucu juga?" batin Fahri masih memperhatikan Reynaa
Setelah Reynaa tak terlihat lagi Fahri baru sadar dan segera beristighfar
"ya Allah ampunilah aku jika aku sudah memikirkan seseorang gadis dengan hawa nafsuku" sesal Fahri. Dia melihat lagi foto yang diambilnya, dia merasa menyesal tapi tidak rela kalau harus menghapus foto itu. Fahri segera masuk kedalam mobil dan mengemudikannya masuk menuju pelataran pesantren.
__ADS_1