
Seminggu telah berlalu, selama seminggu itu Reynaa habiskan dengan malas-malasan dikamar, dia tidak lagi pergi ke sekolah karena menurutnya percuma sekolah hanya 5 hari. Lebih baik menikmati kamarnya selama mungkin sebelum ia tinggalkan.
Dengan pasrah Reynaa menyeret kopernya menuju rumah pengasuh pesantren. Dia di dampingi ayah bunda dan abangnya. Rayuannya kepada eyangnya tidak bisa merubah apapun, tidak ada yang bisa menolongnya lepas dari keputusan ayahnya
Tidak seperti biasanya Reynaa memakai jilbab dan pakaian muslim rancangan bunda yang membuatnya terlihat anggun, dengan tinggi badan yang hampir menyamai abangnya sekitar 175 cm, Reynaa tidak terlihat seperti santri biasa yang selalu berpenampilan sederhana, melainkan terlihat seperti model yang sungguh cantik dan mempesona.
Tapi itu hanya penampilannya tidak dengan sifatnya yang masih sama. Reyhan mengambil foto Reynaa secara diam-diam dan mempostingnya ke sosial media miliknya dengan caption TUKANG BIKIN ONAR DIJEBLOSKAN KE PENJARA
"Lo cantik tau kalo kaya gini" puji Reyhan yang membuat Reynaa tersipu
"Apaan sih Lo!" Reynaa menonjok dada Reyhan
"ga jadi cantik deh kalo sifat Lo masih kaya preman gitu" ralat Reyhan
"Udah-udah jangan ribut!" Lerai bunda
Mereka sudah duduk di ruang tamu. Ayah memasrahkan putrinya kepada kyai Maulana, yang juga teman lama ayah Reynaa. Istri pak kyai yaitu Bu nyai Zahra juga ikut memuji kecantikan Reynaa "ini Putri kamu cantik sekali Anjani" Reynaa hanya tersipu
"iya tapi kalau tingkahnya kaya preman kan sudah bertolak belakang. Kan mubazir cantiknya?" kata ayah ceplas-ceplos
Reynaa mencubit lengan ayah keras-keras.
"ihh sakit tau Rey!" kata ayah membuat semua orang tertawa melihat tingkah anak dan ayah itu. Keakraban ayah dan kyai Maulana membuat obrolan itu menjadi seru. Tidak seperti ngobrol dengan kyai lain yang harus dengan bahasa sopan, formal dan tanpa tawa
Setengah jam berlalu berbincang panjang lebar, kyai Maulana memanggil santri senior yang akan mengantarkan Reynaa ke kamar
"Bunda jangan tinggalin aku!" Rengek Reynaa menahan keluarganya yang akan pulang
"Jadi gini kalo Reynaa manja ya? Baru tau gue" Ejek Reyhan
"Diem Lo bang!" Tunjuk Reynaa ke abangnya
"Ayah aku gamau disini!" Rengek Reynaa ke ayahnya
Ayah mencoba membesarkan hati Reynaa, berharap Reynaa bisa berlapang dada
__ADS_1
"Rey, dengar ayah! Kamu bisa keluar dari sini kalau kamu bisa jadi pribadi yang lebih baik. Ingat itu!Ayah ga akan menarik keputusan ayah meski semenyedihkan apapun keadaan kamu, jadi cuma kamu sendiri yang bisa mengeluarkan kamu dari sini. Ayah pamit pulang, jaga diri kamu baik-baik! Assalamu'alaikum" jelas ayah panjang lebar dan segera berlalu
Bunda mengelus lembut punggung Reynaa
"Yang sabar ya nak! bunda pulang dulu, bunda pasti sering-sering jenguk kamu" bunda mengelus kepala Reynaa yang menyalimi tangannya
"Tenang aja Lo pasti bisa, karena sedih Lo pasti ga sadar pesantren ini dekat sama rumah eyang" hibur Reyhan
Reyhan tahu kalau adiknya itu sangat sayang kepada eyang mereka, bisa dibilang kalau eyang adalah pawang Reynaa. Reynaa akan sangat menurut kepada eyang, dan itu berbanding terbalik dengan sifatnya kepada ayah bundanya yang selalu membangkang
Wajah Reynaa yang seketika berbinar
"Ahh yang bener Lo? jadi ini di kota XX" Tanya Reynaa mendengar kata-kata kakaknya
"Iya gue pergi dulu!" Teriak Reyhan sambil berlari setelah dia mengacak kepala Reynaa yang membuat jilbabnya berantakan
"Ayo, mbak antar ke kamar kamu" ajak senior Reynaa setelah keluarga Reynaa pergi
"Iya mbak" jawab Reynaa singkat
Setelah sampai, Reynaa memasuki kamar tersebut yang ukurannya jauh lebih kecil dari kamarnya tapi dia terima itu tanpa mengeluh
Sedangkan Reyhan yang masih ada diperjalanan dibombardir dengan banyak pesan chat
Bima : pujaan hatiku jangan tinggalin aku
Bagas : adek dipondokin kemana sama Om??
Raka : bidadari surga ku cantik banget
Fahri : kok familiar sama tempatnya??
Randy : emm adek Lo ya? boleh buat gue ga?
Tante : ponakan tante cantik banget
__ADS_1
Andi : mantep bener adek Lo Rey
Dan banyak lagi pesan chat yang lain. Reyhan hanya melewatinya dan tidak ingin membalas.
Tiba-tiba ada panggilan masuk dari eyang, tanpa pikir panjang Reyhan menggeser tombol hijau dan panggilan terhubung
Reyhan "halo assalamualaikum eyang"
Eyang "Waalaikum salam, Reynaa jadi pindah ke pesantren"
Reyhan "jadi eyang, ini udah jalan pulang abis dari nganter Reynaa"
Eyang "pesantren mana? apa ditempat ayahmu dulu? ditempat Maulana?"
Reyhan "maksud eyang apa? kok tau kalau pesantren nya ditempat kyai Maulana?"
Eyang "iya itu pesantren tempat ayahmu dulu"
Reyhan "ohh jadi ayah alumni sana?"
Ayah mendengar hal itu mengerutkan keningnya melihat ke arah Reyhan sebentar lalu fokus ke depan lagi
Eyang "kalian ga mau jenguk eyang?"
Reyhan "maaf eyang, ayah keburu kerja katanya"
Eyang "awas aja kalo sampe ga datang dalam waktu 30 menit, selamanya pintu rumah eyang akan tertutup buat kalian"
Reyhan panik dan memberikan handphonenya ke ayah
Ayah "halo ibuk, maafin aku ya! aku ga bisa mampir bentar lagi ada meeting, nanti Reyhan yang kesana"
Tut panggilan terputus dari eyang disana, Reyhan segera protes "ayah, kok aku sih yang harus kesana?"
Ayah menepikan mobilnya dan menyuruh Reyhan keluar "sekarang kamu keluar dan cepet pergi kerumah eyang, ayah ga mau kalau eyang ngamuk"
__ADS_1
"tapi ayah! aku ada kegiatan nanti abis magrib" rengek Reyhan
"udah ga usah tapi-tapi, kamu pergi kesana dan bilang maaf sama eyang, masalah nanti kegiatan kamu bisa bilang ke eyang, perjalanan kan cuma sejam" ucap ayah membuat Reyhan menurut dan turun dari mobil