
Hari ini adalah hari ketiga Reynaa pulang ke rumahnya, tentu saja setelah menjalani Delapan hari yang membosankan di rumah sakit. Begitu juga dengan Fahri yang sudah berada di rumah abinya, mereka berdua diperbolehkan pulang dihari yang sama. Delapan hari merawat kedua orang itu membuat dokter paham dan maklum bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang tak terpisahkan
Pak kyai dan istrinya berjalan kearah teras dan melewati kamar Fahri yang pintunya terbuka. Mereka tidak sengaja melihat Fahri yang dengan gembiranya berkaca di depan cermin sambil menyisir rambutnya, tingkahnya membuat kedua orang tuanya tersenyum saling pandang
"anak umi tuh! udah sehat dia!"
"palingan mau ketemu obatnya!"
Umi Zahra berjalan mendekat kepada anaknya
"anak umi udah sehat?" sapa umi terus memandang putra semata wayangnya
"udah dong Mi! masak mau sakit terus, Alhamdulillah udah gak kerasa! tinggal harus hati-hati aja!"
"trus, rapi gini mau kemana?"
"Fahri mau minta ke ayah biar bisa nikah secepatnya Mi, Fahri gak mau kejadian kemaren terulang lagi. Fahri gak bisa lepasin Reynaa!"
"anak umi ngebet nikah ya! mau umi temenin?"
"gausah mi! Fahri masih mau lihat resto sama distro Fahri, sebulan lebih gak ditengok!"
Dengan mengenakan baju koko warna krem dipadu dengan celana jeans, Fahri mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Rasa rindunya tidak membuatnya terburu-buru untuk sampai kerumah Reynaa
"Reynaa, aku janji gak akan pernah lagi lepasin kamu!" janjinya dalam hati sambil menggumamkan lagu 'apa kabar sayang' milik Armada yang mengalun merdu dari musik player di mobilnya
...
Hari ini adalah hari Minggu, dimana semua orang dirumah Reynaa bisa berkumpul dan bersantai ria di ruang tengah. Disana ada Reynaa, Reyhan, ayah, bunda, Nisa dan Yanto. Reynaa memang sengaja menyuruh Yanto datang kerumahnya untuk membawa tugas kuliah mereka, Reynaa ingin mulai kuliah lagi hari Senin besok
Bunda dan ayah sedang menonton televisi yang memutar film Warkop DKI kesukaan ayah, sedangkan Nisa dengan sabar menyuapi potongan buah mangga kepada Reyhan yang sedang serius bermain game di ponselnya. Begitu juga dengan Reynaa yang sedang serius dengan laptopnya mengerjakan tugas bersama Yanto
...
Dengan langkah lebar Fahri memasuki rumah itu dan mencari keberadaan penghuninya yang ternyata berkumpul di ruang tengah. Semua orang nampak serius dengan aktivitas masing-masing dan tidak sadar akan kedatangannya. Fahri tersenyum melihat betapa seriusnya wajah Reynaa, dia segera mendekat dan mengucapkan salam
"waalaikum salam!" jawab semua yang terus memandang ke arahnya
Ayah tersenyum kepada Fahri yang terlihat sehat dan segar, itu artinya beliau tidak sendirian lagi di kantor
"kamu sudah sehat Fa?" sapa ayah
"udah yah, Alhamdulillah!" sahut Fahri sambil menyalami ayah dan bundanya
"berarti besok kerja kan?"
"insyaallah Ayah!"
Fahri terus menghampiri Reynaa yang duduk lesehan dengan laptop dipangkuannya
"luka kamu masih kerasa nggak?" sapanya sambil mengulurkan tangan
"udah nggak kok Kak?" jawab Reynaa menyalimi tangan Fahri
Reyhan yang melihat itu langsung membuka suara
__ADS_1
"eh eh, bukan muhrim ga boleh sentuh-sentuh!" tegur Reyhan sinis
"Reyhan, apaan sih kamu! heran deh balik-balik dari London jadi jutek ke Fahri!" tegur ayah yang tidak suka dengan sikap Reyhan, Nisa juga ikutan menegur dengan cubitannya
Fahri membuang nafas, sepertinya dia harus memberitahu ayah tentang semuanya. Dia duduk tak jauh dari tempat ayah dan Reynaa
"em ayah! sebelumnya maaf, saat malam sebelum pernikahan itu Fahri udah talak Reynaa dan mungkin karena hal itu membuat Reyhan jadi jutek ke Fahri! Fahri menyesal udah melakukan hal itu, Fahri terpaksa ayah!"
"sadar juga Lo!" sindir Reyhan pedas yang sebenarnya hanya pura-pura
Yanto yang menangkap kesalahpahaman dari omongan Fahri segera membuka suara
"tunggu dulu dek kak!.." ucap Yanto menggantung, dia mendapat pelototan dari Reyhan
"aku yakin waktu itu ketok pintu disaat yang tepat deh!" lanjutnya lagi yang membuat Reyhan jengkel, semua orang masih bingung dengan omongan Yanto
"maksud Lo paan sih to!" tanya Reynaa bingung
Yanto terus menjelaskan kejadian dimalam itu secara mendetail, Fahri senang karena berkat Yanto dia tidak mentalak Reynaa
"makasih Yanto, kamu udah ketok pintu!" ucap Fahri yang membuat ayah dan bunda tersenyum saling pandang
"Fahri seneng banget tuh Bun?" bisik ayah kepada istrinya
"Reynaa, maafin kak Fahri ya! kakak bener-bener lupa saking sedihnya!" sesal Fahri sambil mengusap kepala Reynaa
"iya kak, gapapa!"
Fahri kembali menghadap ayah, dia ingin cepat mengutarakan tujuannya tadi
"oh, ya baguslah!..." jawab ayah terpotong oleh Reyhan
"gak boleh, harusnya aku yang nikah duluan!" ucap Reyhan tidak setuju, sikapnya membuat ayah geleng-geleng kepala
"Reyhan, kenapa sih kamu? selalu deh?" tegur bunda frustasi dengan sikap Reyhan
Ayah membuka suara, beliau mulai kesal dengan sikap Reyhan yang keterlaluan
"Reyhan! adek kamu itu harus ada yang ngelindungi, biar gak diganggu Randy terus. Kok malah kamu yang minta nikah duluan?bukannya kamu harus lulus kuliah dulu? lagian kalau nikah nanti Nisa mau dikasih makan apa? bantuin ayah dikantor aja gak mau!"
Reyhan tersinggung dengan sindiran ayah
"ayah jangan salah, gaji aku jadi asisten dokter di London gede loh!" ucap Reyhan menyombongkan diri
"Halah, cuma asisten juga!" sahut Reynaa
"ini nih adek durhaka..!" tuduh Reyhan yang membuat semua menahan tawa
"dek, Lo gak tau seberapa kerennya gue ketika pake sneli! lagian kalau bukan gue yang nawarin ke bos gue buat bikin rumah sakit di Indonesia, Lo ga bakal duduk disini sekarang" jelasnya lagi
Reynaa merasa Reyhan benar, berkat Abangnya dia bisa terbebas dari pernikahan itu
"ya.. ya.. makasih udah tolongin gue!"
"nah gitu dong! kalau gitu kan pinter!"
__ADS_1
Yanto ikut bersuara, dia juga merasa ikut andil dalam batalnya pernikahan terpaksa itu
"Reynaa cantik, gue juga ikut andil dalam batalnya pernikahan terpaksa Lo ya!"
"iya Yanti, thanks ya cin!"
"duh, manis banget sih Lo cantik! ia sama-sama, apa sih yang nggak buat si cantik!"
Tingkah Yanto membuat Reyhan bergidik karena geli
"dek, Lo dapet dari mana sih temen model gini?" ucap Reyhan menunjuk Yanto dengan dagunya
"jangan salah Lo bang, nih orang manusia langka! harus dilestarikan!" ucap Reynaa yang membuat Yanto memanyunkan bibirnya
"model gitu mana bisa jadi arsitek!"
"beh, jangan sedih! kita berdua udah ngerjain ratusan proyek bangunan, Lo jangan nyepelehin dia bang! Nis, Lo jangan sungkan kalo mau njewer! ya nggak Bun? mulutnya emang gak bisa nyaring"
Reyhan mulai merasa terancam, dia tidak berani menatap ke arah Nisa. Sampai telinganya terasa sakit karena ditarik oleh Nisa
"aww, aw, sayang ampun sayang!" Reynaa dan bunda terkekeh geli karena Nisa menurut kepada omongan Reynaa
"kalau ngomong itu jangan sembarangan, itu mulut harus bicara yang baik-baik!" ucap Nisa menasehati
"jangan kasih kendor sayang!" teriak bunda mengompori, semua orang dibuat tertawa oleh tingkah keduanya
Setelah dirasa cukup, Nisa melepaskan tangannya
"ihh hampir satu setengah tahun bareng bunda, kamu jadi kaya bunda! ngeselin banget"
"mau jewer lagi?"
"nggak-nggak, ampun!"
Reyhan melindungi telinganya dan sedikit menjauh dari Nisa
...
Ayah dan Fahri sedang bermain catur saat Reynaa sudah rapi dan siap untuk pergi. Reynaa dan Fahri akan pergi menengok restoran mereka yang sudah lama tidak mereka datangi. Mereka memang sudah sebulan lebih menitipkan restoran itu kepada Luna dan para sahabat Reynaa yang lain
Fahri tersenyum melihat penampilan Reynaa yang sangat cantik
"kamu udah siap?" tanya Fahri lembut
"udah kak, ayo!"
"Ayah, Fahri sama Reynaa pergi dulu!" pamit Fahri yang langsung menyalimi tangan ayah, kemudian diikuti oleh Reynaa
Setelah dua puluh menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah restoran. Tetapi bukannya resto milik mereka, Fahri malah menghentikan mobilnya di parkiran resto
"kak Fahri, kok berhenti disini?" tanya Reynaa bingung
"aku gak suka badan kamu yang kurus gini! aku sukanya badan kamu yang sekseh, bohay, shemoq, montok kaya dulu..awwh sakit!" ucap Fahri yang membuat Reynaa melotot dan memukul lengannya keras
"kita harus makan banyak dan aku ga mau makan dilihatin karyawan sendiri!"
__ADS_1