Reynaa Dan Reyhan

Reynaa Dan Reyhan
Melepas Reyhan


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana Reyhan harus pergi jauh dari keluarganya dan dari istrinya. Sudah seminggu lewat dari hari pertunangan itu, dan ini saatnya Reyhan harus pergi meneruskan pendidikannya di negara Inggris.


Jam 8 pagi Nisa sudah sampai rumah suaminya itu dengan mengendarai motor matic yang diberikan Reyhan sebagai mas kawin. Dia diajak untuk ikut mengantar Reyhan ke bandara


Reynaa nyelonong masuk ke kamar Reyhan mengajak Nisa


"bang bangun! siap-siap gih!" Reynaa mengguncang badan Reyhan yang tertidur lagi setelah subuh


"bentar lagi dek!" gumam Reyhan


"ada istri Lo ini!" mendengar Reynaa berkata begitu, Reyhan langsung terlonjak bangun


"kamu udah ada disini? kenapa gak telfon aku? aku kan bisa jemput kamu!" kata Reyhan lembut yang mendapat salaman dari Nisa


"gapapa kok, buat apa motornya kalau ga dipake, kamu bangun yah! siap-siap!"


"uuu uwu-uwu banget sih?" goda Reynaa kepada Nisa


Selang beberapa menit terdengar Fahri yang memanggil Reyhan, dia baru datang langsung naik tangga menuju kamar Reyhan. Mendengar itu Reynaa langsung kabur ke kamarnya sendiri untuk menghindari Fahri


"mau lari kemana kamu?" cegat Fahri yang berhasil menghadang Reynaa di depan kamarnya


"aku mau mandi!" Fahri baru sadar kalau Reynaa masih memakai baju tidur gambar Doraemon, Fahri melihat sekeliling memastikan tidak ada orang.


Fahri terus menarik Reynaa kedalam kamar


"aku boleh cium yah? kamu gemesin kalau kaya gini" Fahri sudah mengurung Reynaa dengan kedua tangan yang menyangga di dinding


"Ga mau! dasar mesum! masih pagi juga, keluar sana!" dengan wajah memerah Reynaa mendorong tubuh Fahri dan mengusirnya keluar kamar


Semua orang ikut pergi ke bandara untuk mengantar Reyhan untuk yang terakhir, termasuk juga kedua eyangnya yang selama seminggu menginap disana untuk menghabiskan waktu sebelum cucunya berangkat.


Mereka menaiki mobil masing-masing dengan mobil Reyhan yang dikendarai sopir. Semua orang hanya bisa mengantar Reyhan sampai di gerbang keberangkatan, tampak wajah semua orang yang sedih melepas kepergiannya. Ayah, bunda, eyang Malik, eyang Nida, Nisa, Reynaa, Fahri, Bagas semua tampak murung berlinang air mata


"gue bukan mau mati, stop nangisnya dek!" bujuk Reyhan kepada adiknya yang nangis sesenggukan


"ternyata adek gue secengeng ini!" ejek Reyhan sambil menghapus air mata Reynaa


"Lo bisa ajak Fahri nemuin gue!" tambahnya lagi


"sayang! jangan nangis! kan masih ada Reynaa dan bunda!" bujuk Reyhan kepada istrinya, Nisa hanya mengangguk


"Ayah bunda Reyhan pergi, Reyhan janji akan menuntaskan ini lebih cepat!"


Bukan hal sulit untuk Reyhan menuntaskan masa kuliahnya lebih cepat, karena kejeniusan Reyhan tidak diragukan lagi. Setelah pamit pada Bagas dan kedua eyangnya Reyhan kembali lagi ketempat Reynaa dan Nisa yang berdiri berjajar


"nitip kakak ipar lo yah!" pesan Reyhan sambil mengusap puncak kepala Reynaa yang ada dalam pelukannya dan hanya dibalas dengan anggukan


"jaga diri kamu baik-baik!" pesan Nisa ditengah isaknya yang sudah dalam pelukan Reyhan, Reyhan melepas pelukan itu lalu mencium dahi terus ke pipi dan berakhir di bibir. Reyhan melakukan itu singkat karena ada banyak orang disana


Dengan langkah yang berat Reyhan menyeret koper besar yang dibawanya, meninggalkan semua keluarganya yang masih dalam keadaan menangis melepas kepergiannya.


Setelah sampai pintu masuk Reyhan berbalik dan menatap satu per satu keluarganya dari jauh

__ADS_1


"gue janji akan kembali secepatnya!" janji Reyhan dalam hati yang diucapkannya dengan sungguh-sungguh


Setelah melihat kepergian pesawat yang ditumpangi Reyhan, Reynaa memeluk Nisa. Mereka saling menguatkan karena mereka sama-sama kehilangan


"udah, jangan sedih lagi! anak gadis bunda harus kuat!" hibur bunda pada dua anak gadisnya sambil mengusap pundak keduanya


"ayo kita pulang!" ajak eyang Nida lembut, dua gadis itu hanya mengangguk


Reynaa melangkahkan kakinya dengan berat mengikuti semua keluarganya yang pergi dahulu menuju pintu keluar bandara. Dia juga melihat Nisa yang dirangkul bunda, dia saja merasa sedih apalagi Nisa.


Reynaa berjalan paling akhir, tiba-tiba ada tangan yang merangkul pundaknya


"lepas!" Reynaa melotot


"sampe kapan kamu giniin aku terus?" rengek Fahri


"sampe kakak bosen" jawab Reynaa sambil menyingkirkan tangan Fahri dari pundaknya


"maaf ya istriku! suamimu ini gak bakal bosen gangguin kamu, aku ga bakal menyerah sampai kamu berhenti nyuekin aku!" jelas Fahri percaya diri


"yaudah selamat berjuang!" Reynaa berkata dengan nada menyindir


Sebenarnya Reynaa suka dengan sikap Fahri yang selalu menempel kepadanya, saat Fahri melakukan hal itu membuat jantungnya berdebar, selalu terpaku menerima perlakuan Fahri dan tidak bisa menolak.


Karena itu Reynaa selalu saja mengabaikan dan menghindari laki-laki itu, dia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kalau terus berdekatan dengan Fahri


Reynaa terus saja berjalan dengan Fahri yang mengekor di belakangnya. Tiba-tiba saja Reynaa menabrak seseorang yang tidak dilihatnya karena dia sedang merogoh tasnya mencari handphone


"ehh sorry-sorry!"


"ehh Randy? ini abis nganterin Abang!"


"jadi ke London dia?"


"iya, Lo sendiri?"


"gue mau jemput papa!"


"ooh gitu?"


"Rey!"


"iya?"


"Lo cantik!"


"ah bisa aja lo! gue pulang dulu ya!"


"oke! hati-hati!"


Fahri mendengar obrolan dua orang itu dengan rasa cemburu, tangannya sudah menyilang di depan dadanya. Menyadari itu Reynaa langsung pamit dan pergi.


Didalam mobil mereka berdua terdiam, Fahri tidak seperti biasanya dan Reynaa menyadari kalau Fahri sedang cemburu. Reynaa dibuat gemas dengan ekspresi cemberut Fahri

__ADS_1


"kakak kenapa?"


"kamu masih berhubungan sama dia?"


"terakhir sih pas kita ketemu di mall, yang kak Fahri bareng kak Izzah itu lho!" kini ekspresi Fahri berubah seperti bingung dan bersalah, dia tidak bisa berkata lagi


"ohh" hanya itu jawaban Fahri yang diucapkan dengan wajah datar


"Ga jadi cemburunya?" goda Reynaa yang membuat Fahri menghentikan laju mobilnya


Reynaa menggeser duduknya sampai ke pojokan jok mobil, dia tau akan ada hal yang berbahaya jika Fahri sudah menghentikan mobilnya. Reynaa sudah dalam mode siaga dengan tas yang dipeluknya sebagai tameng.


Fahri yang semula mendekat akan mencium Reynaa, jadi terhenti saat memperhatikan sikap siaga Reynaa yang mewaspadai dirinya. Fahri tertawa gemas melihatnya, dia memencet hidung Reynaa yang masih menutup mata.


"aww..! sakit tau!" Reynaa mengelus hidungnya dan membalas Fahri dengan cubitan diperutnya


"aww sakit! ampun sayang!" Fahri menangkap tangan Reynaa agar menghentikan cubitannya, Reynaa merona merah mendapat panggilan sayang dari Fahri


"cepat pulang!" perintah Reynaa yang membuang pandangan ke jendela dengan wajah jengkel dan masih bersemu merah


"oke sayang!"


Setelah sampai rumah Reynaa memaksa Fahri untuk langsung pulang, sebenarnya Fahri masih ingin lama-lama dirumah itu. Dia masih ingin berduaan dan dia juga ada keperluan dengan ayah mertuanya tentang perusahaan.


Tapi Fahri tidak ingin memaksakan kehendaknya, dia tidak ingin membuat Reynaa jadi tidak nyaman. Akhirnya Fahri menurut dan segera pulang


...


Setelah menyelesaikan makan malam yang berbeda karena tidak adanya Reyhan, Reynaa menagih pada ayahnya apartemen yang ia minta siapkan


"kamu mau pindah sekarang juga? baru tadi siang lho Abang pergi! kamu tega tinggalin ayah bunda?" tuntut ayah


"tiga hari lagi aku udah masuk kuliah, aku kan harus bersiap!"


"Ga besok aja dek? ini kan udah malam?" bujuk bunda


"aku harus menghindari kak Fahri!" jawab Reynaa berbisik


"kok gitu?" bunda heran


"ayah!" rengek Reynaa


"iya bentar!" Ayah pergi mengambil sesuatu


Ayah kembali dengan membawa kartu akses apartemen mewah yang akan ditempati Reynaa


"wahh keren, makasih ayah!" dengan takjub Reynaa menerima kartu itu lalu memeluk ayahnya


"Ayah suruh Fahri anter kamu ya?"


"no ayah! pokoknya jangan beritahu siapapun tempat apartemen Reynaa! Reynaa mau ajak kak Nisa aja!"


"ini udah malam lho rey?" bunda khawatir

__ADS_1


"yaudah sendirian aja! Reynaa berangkat dulu ya! assalamualaikum" Reynaa tidak menggubris omongan bunda, dia menyalami kedua orang tuanya dan segera pergi tanpa mau mendengar omongan bunda selanjutnya


"anak itu!" bunda jengkel pada sifat Reynaa


__ADS_2