
Reynaa menghentikan mobilnya di pinggir pantai, tempat Fahri memberikan sebuah kalung berliontin inisial nama mereka. Disana juga Fahri pernah membawanya dengan menaiki motor. Reynaa terdiam, air matanya mengalir saat dia mengingat apa yang Fahri katakan sebelum kecelakaan
'aku akan berhenti dan diam kalau kamu balas bilang cinta ke suamimu ini!'
Tanpa diduga perkataan Fahri menjadi kenyataan, setelah Reynaa mengucapkan kata cinta kepada Fahri kecelakaan itu terjadi. Kecelakaan yang membuat Fahri tidak bisa lagi mengucapkan kata cinta kepada Reynaa. Bahkan untuk mengingat siapa dirinya pun Fahri tidak bisa
Reynaa duduk diatas kap mobilnya, pandangannya menerawang. Mengingat kembali semua kenangan indah yang pernah dilewatinya bersama Fahri. Kini semuanya sudah berakhir dan dia harus pergi sejauh mungkin. Yang harus dipikirkannya sekarang adalah kemana Reynaa harus pergi
...
Reynaa berjalan gontai memasuki rumahnya, ada Nisa dan bunda yang sedang menunggunya dengan rasa khawatir
"ya Allah Reynaa, kamu dari mana aja?" tanya Nisa yang khawatir melihat Reynaa yang terlihat begitu sedih. Sedangkan Reynaa hanya terus berjalan ke kamarnya tanpa memperdulikan omongan Nisa dan bundanya
Reynaa menyiapkan koper besar dan terus mengemasi barang-barangnya. Apa yang dilakukannya itu tidak luput dari perhatian Nisa dan bunda yang mengikutinya ke kamar
"Reynaa, kamu mau kemana? jangan tinggalin aku!" rengek Nisa dengan isaknya
"iya sayang! kamu harus tetap disini jangan kemana-mana!" bujuk bunda juga
Ternyata tadi ada kyai Maulana dan Umi Zahra yang datang mencari Reynaa, mereka menceritakan tentang apa yang sudah terjadi tadi. Bunda dan Nisa sangat khawatir dengan Reynaa dan tidak ingin Reynaa pergi dengan keadaan yang mengkhawatirkan
__ADS_1
"Reynaa, gak sebaiknya kamu jangan kemana-mana dulu! pikirkan dulu baik-baik ya!" bujuk bunda lagi yang tidak digubris oleh Reynaa
...
Setelah membujuk sang bunda yang menangis karena tidak mengizinkannya, akhirnya Reynaa diperbolehkan pergi dengan syarat harus memberi kabar. Namun ternyata Reynaa tidak akan menuruti permintaan bundanya, dia sudah memiliki rencananya sendiri. Reynaa tidak akan memberitahu siapapun kemana dia akan pergi
Setelah menempuh perjalanan satu jam lebih dan dirasa sudah cukup jauh dari rumahnya, Reynaa menepikan mobilnya di pinggir jalan yang bersebelahan langsung dengan sebuah danau. Tempat yang cukup asri dan sepi, danau yang cukup luas dan ditumbuhi pohon-pohon mahoni besar di sekelilingnya. Disisi lain danau ada sebuah taman dengan beberapa warung kecil berjajar disekitarnya
Reynaa membuka kopernya lagi, memilah barang apa saja yang akan dibawanya. Reynaa sudah menyiapkan ransel kecil untuk tempat membawa barangnya. Memang benar kalau Reynaa tidak akan membawa pergi koper besarnya, bahkan mobil dan ponselnya pun tidak dia bawa, Reynaa hanya akan membawa barang-barangnya yang penting saja.
Reynaa segera keluar dari mobil setelah dirasa barang yang dibutuhkannya sudah terkumpul di dalam ranselnya. Tak banyak barang yang Reynaa bawa, dia hanya membawa kartu identitas, berkas kepindahan, memory card dan flashdisk, juga uang tunai yang diberikan Fahri sebagai mas kawin. Tak lupa juga dia membawa hodie milik Fahri yang dia ambil saat dikamar Fahri tadi pagi.
"maaf ya ayah mobilnya Reynaa rusakin!"
Tanpa menunggu lama kerumunan pun terjadi, suara keras dari terceburnya mobil mengundang rasa penasaran banyak orang. Reynaa menutup kepalanya dengan kupluk hodie, dia berjalan menjauh dari kerumunan. Dia harus pergi dari sana sebelum ada orang yang mengenalinya, tapi tanpa disadarinya ada sepasang mata yang memperhatikannya dari jauh. Dan ternyata orang itu sudah mengikutinya sejak tadi di pantai
Yanto bingung dengan apa yang ada dipikiran Reynaa, bisa-bisanya Reynaa menjatuhkan mobilnya sendiri ke danau
"apa sih yang cintaku pikirin? Kenapa harus begitu?" batinnya sambil geleng-geleng kepala, dia memperhatikan Reynaa yang terus berjalan. Tak berapa lama Yanto melihat Reynaa menghentikan bus antar kota dan menaikinya
Yanto merasa bimbang dengan apa yang harus dia lakukan kali ini, apa dia harus terus mengikuti Reynaa atau dia berhenti disana dan melaporkan apa yang terjadi. Setelah berfikir agak lama, Yanto memutuskan untuk menelpon ayah Reynaa. Yanto yakin pasti Reynaa sedang mengalami masalah yang sulit dan sangat ingin menenangkan diri
__ADS_1
Setelah 30 menit ayah datang bersama keluarganya, keluarga kyai Maulana, juga tim polisi beserta tim SAR. Dengan sigap semua anggota tim melakukan tugasnya masing-masing, mengamankan lokasi, menyelam dan mengangkat mobil Reynaa dengan derek. Terlihat dari jauh bunda dan mertua Reynaa menangis di tepi danau
Yanto mencoba mendekat, dia tahu pasti ayah dari sahabatnya itu akan marah besar kepadanya
"Ayah! maafin Yanto yah!" sesal Yanto dengan wajah sedihnya, ayah hanya bisa menangis mengacak rambutnya karena frustasi
"kamu kemana aja Yanto? Ayah kan suruh kamu ikutin Reynaa! masak kamu gak bisa cegah dia? Reynaa itu gak bisa berenang!"
Yanto merasa bersalah karena membuat keluarga sahabatnya itu khawatir, tapi dia lebih memilih melindungi Reynaa karena dia yakin kalau sahabatnya itu pasti sudah berfikir dengan matang sebelum melakukan hal itu.
"maaf ayah! Yanto ikutin pas dibelakangnya kok, tapi kan Reynaanya langsung jatuh! jadi gak bisa di cegah!" jelas Yanto meyakinkan, Yanto sudah memberitahu di telpon tadi kalau kejadian ini terjadi bukan karena kecelakaan
Fahri hanya diam melihat kedua orang tuanya yang sangat sedih, mereka begitu kehilangan Reynaa. Uminya tak henti-hentinya menangisi Reynaa dan Abinya sampai rela ikut menyelam mencari Reynaa, ada rasa bersalah dalam hatinya. Bagaimanapun juga Reynaa sampai melakukan hal seperti ini karena kejadian tadi pagi
Tapi kenapa Fahri sama sekali tidak bisa mengingat tentang Reynaa, saat dia berusaha untuk mengingat sakit kepalanya pasti kambuh dan itu sangat menyiksanya. Fahri terus bertanya-tanya apakah benar Reynaa adalah istrinya? kalau memang benar kenapa rasa cinta itu hilang?
...
Reynaa berusaha memejamkan matanya meskipun posisinya sangat tidak nyaman, ditambah lagi dengan berbagai macam bau yang sangat mengganggunya dan tak lupa juga goyangan dari bus saat melintasi jalan berlubang. Dia harus menyiapkan energi untuk perjalanannya yang masih panjang, dia harus pergi ke kota lain yang ada bandara internasionalnya.
Reynaa yakin bersama abangnya lah tempat yang paling tepat sebagai tempat pelariannya. Ya meskipun nanti abangnya akan bicara macam-macam dan akan mengadu ke ayah mereka. Tapi merayu sang kakak adalah keahliannya, dengan sedikit memohon Reyhan pasti mengizinkannya tinggal dan tidak akan memberitahu pada siapapun
__ADS_1